Talk Over Breakfast

“Oh mengapa tak bisa dirimu
Yang mencintaiku tuluh dan apa adanya
Aku memang bukan manusia sempurna
Tapi ku layak dicinta karena ketulusan…. “

(Pasto)

Dan air matamu pun menitik lagi. Padahal sudah kukatakan agar jangan mendengarkan radio ataupun menonton TV dan sebangsanya selama luka hatimu masih terbuka.

“Udah, biarinin aja gw nangis! Gw kan’ bukan loe, yg jatuh cinta aja pake perhitungan!” Katamu sengit sambil menyeka bulir-bulir air mata yang mulai jatuh.

Nah kan, buntut-buntutnya kamu pasti salah lagi mengartikan tatapan mataku. Bukan sayang, ini bukan tatapan untuk memintamu tegar atau supaya berlaku kuat. Tapi, well, gak heran kalau kamu pun salah paham. Kamu pastinya orang ke 201 yang tersindir hanya oleh tatapan mataku.

Kuletakkan telor mata sapi setengah matang pada piring yang sudah kuisi dengan setangkup roti tawar. Kau menaikkan alis, pertanda kurang setuju pada pilihan menu sarapan pagiku.

“Makan aja, deh. Atau kalo gak mau, nanti gw suruh si As beli nasi uduk di pasar,” sahutku. Kau mengangguk, lalu meniup-niup kopi kental panas yang sebenarnya telah lama kutuang sebelumnya. Kurasa figur yang sedang patah hati bukan nalarnya saja yang mati, tapi juga indera perabanya.

Lalu kamu memandang kosong pada TV yang menyala. Metro TV menayangkan “Metro Pagi”.

“Kenapa ini terjadi lagi sama gw sih?” Kamu berkata pedih.

Aku pun kembali terpekur, seperti yang kulakukan tadi malam saat kamu datang dan kemudian menangis di kursi yang sama. Bukan hanya malam tadi, tapi tiap kali kamu datang dan tersedu dengan hal yang sama aku juga masih melakukan hal yang sama. Tujuh tahun aku mengenalmu, dan dua kali dalam setahun kamu menangisi ini. Sayang, mungkin air mata yang kau tumpahkan sudah sebanyak air kolam ikanku sekarang.

“Aku layak dicintai bukan….?”Tanyamu di antara isakan tangis.

Aku kembali pada posisiku tadi malam, memegang segelas kopi dan terpekur menatap wajah mendungmu.

“Aku tidak peduli harta…., aku tidak peduli jabatan…,”

Tentu sayang, kamu adalah Head of Marketing Communication dengan gaji puluhan juta per bulan.

“Aku juga tidak peduli asal usul keluarga.”

Memang, sudah tidak jaman mempertimbangkan apakah Mbah Kakung seseorang bekas anggota PKI atau bukan.

“Aku tidak peduli bibit, bebet, bobot!!”

Hmm…., sama dengan sebelumnya. Kamu hanya ingin merangkum dan menegaskan kembali.

“Aku hanya ingin seorang lelaki yang mencinta…….,”

Ah, kamu mulai jujur….

“Apakah aku tidak pantas untuk dicinta?”

Aku sahabat dekatmu! Tentu saja aku akan menjawab kalau kamu SANGAT PANTAS untuk dicintai!

“Mengapa tidak sedikit pun mereka tergerak dengan ketulusanku?!”

Oh…., andaikata kamu tergerak mencari tahu lebih jauh lagi….

“Sampai kapan aku harus menunggu dalam barisan? Mengapa antrianku tidak juga maju?!”

Ahh…!! Konotasi yang kamu pakai berganti sekarang! Great, at last something new dalam curhat rutinmu.

“Ray bilang kita bukan jodoh. Darimana dia tahu?!”

Oh!! Tentu saja dia tahu!!

“Dia juga bilang ‘we’re not meant for each other!’ How come, setelah kita menikmati kebersamaan hampir setengah tahun ini! Padahal dia bilang dia sangat menikmatinya….,” Kamu menyeka air matamu.

“Aku tidak mengerti laki-laki….,” ujarmu sedih.

Kutatap dirimu yang bersandar meringkuk di kursi. Kamu terlihat kecil, kamu terlihat rapuh. Padahal biasanya kamu terlihat gagah dan kuat.

Ah Tomi sayang, aku juga tidak mengerti laki-laki, makanya aku tidak menyukai satu pun di antara mereka. Sayangnya kamu menyukai mereka. Dan kamu patah hati dua kali setahun dengan mereka yang menyukai wanita.

Ah, ini percakapan yang terlalu berat untuk dilakukan saat sarapan pagi!

Advertisements

23 thoughts on “Talk Over Breakfast

  1. pertamax gak yaaa?

  2. weks….ini lelaki menyukai lelaki?
    hihihihi gw pikir itu percakapan antara cewek dengan cewek tapi kayaknya cewek suka cewek, cowok suka cowok…

    salah ya mba?

    ahhh gw sampe baca dua kali postingan ini sebelum ngasih comment πŸ˜€

  3. Tapi ku layak dicinta karena ketulusan….

    ketulusan.. kata sederhana yang cukup untuk dipercaya..
    dan karenanya cinta menjadi berarti.. πŸ™‚

  4. Tentang cinta sejenis kayaknya ya… penuh intrik..

  5. wah ini tulisan tentang maho ya?? πŸ˜›

    sereemmm ah 😯

  6. (ikutan Didot …)

    Iya …
    Serem …
    terlalu berat untuk sarapan pagi …

    πŸ™‚

    salam saya

  7. hmm sarapan pagi yg agak menyeramkan…ehhehe
    salam hangat dari blue

  8. ..
    ..
    yang cocok, pas dinner kali ya… πŸ™‚
    ..

  9. tentang cinta sejenis ya? wah….

  10. Waw, keren cerpennya… Tapi tema cinta sesama jenis begini selalu membuat ga nyaman… *jujur banget sih* hehe…
    Salam kenal!

  11. wariah sama laki2 juga termasuk bukan ya…???? πŸ˜€

    salam

  12. Mulai pertengahan gue udh agak bingung soal gendernya πŸ˜›
    agak bias…
    and ternyata perkiraan gue bener hehehe

    BAGUS jeng! πŸ˜‰

  13. hmm..yummi banget niy buat sarapan pagi gw πŸ˜›
    cerita tentang sesama jenis memang selalu menarik..

    eniwe..cat rumah kita sama ya, bok? πŸ™‚

  14. aku tidak mengerti laki-laki

    kalimat ini saya ndak ngerti, sama-sama lelaki tho mbak? πŸ˜†

  15. ……memang terlalu berat untuk dibicarakan saat sarapan… 😦

  16. aku pikir apaan ceritanya XDDD
    ending bagus mbak! alur rapih, bikin aku nggak terburu2 untuk lgsg scroll ke bawah πŸ˜€

  17. beughhhhh, kecele di awal! tapi terkuak di akhir! πŸ™‚ Keren, Va …

  18. coba! sama2 laki2 aja bisa bilang: nggak ngerti laki-laki! Apalagi gw! Hmm…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s