Aku Tau Kamu Cinta

Angin sepoi-sepoi menyelusup masuk dari celah jendela, membawa masuk aroma tanah basah yang sejenak menimbulkan kesegaran pada rumah mungil di sudut jalan yang lama tak disinggahi penghuninya.

Dari balik jendela tampak seorang lelaki sedang berdiri menyeduh kopi. Di depannya seorang perempuan sedang menyandarkan diri pada kursi makan sembari menyelusupkan sebatang rokok di antara bibirnya yang tipis dengan jemarinya yang kurus. Dihisapnya rokok itu perlahan, lalu tersenyum.

“Kamu tampak sehat,” ujarnya pada lelaki di depannya.

Lelaki itu meletakkan cangkir kopinya di meja, dan tersenyum balik.

“Kamu juga,” balasnya lembut.

Mata mereka pun beradu.

Sejenak ruang dan waktu terasa lenyap bagai ditelan bumi. Keberadaan sosok di hadapan mereka mendesak masuk ke rongga dada, menyeruak ke dalam paru dan terasa begitu menyesakkan hingga seketika membawa mereka kembali ke realita masing-masing.

Sang perempuan mendekap tubuhnya sendiri yang gemetar. Si lelaki menjatuhkan dirinya di kursi makan, terengah-engah.

Lalu sepuluh menit berlalu dengan keheningan. Waktu kembali hadir di antara mereka.

Si lelaki menggigit bibir, menatap lantai dan berujar.

“Aku masih mencintaimu, tau,”

Kali ini lima menit berlalu dengan hampa. Tidak ada lagi dorongan ilusif yang menyesakkan rongga dada. Semilir udara dingin lewat membawa sisa kata-kata yang lenyap begitu saja.

Sang perempuan meraih kotak rokok putihnya, mengambil sebatang dan menyelipkannya di antara bibir tipisnya, dihisapnya dalam-dalam. Air mata mengalir.

“Aku juga cinta, tau,” ujarnya getir.

Si lelaki mengangkat wajah, meneliti tiap-tiap lekuk tubuh sang perempuan. Pandangannya terhenti pada wajah sang perempuan. Diangkatnya tangannya, dibelainya kulit wajah putih pucat si perempuan perlahan. Sang perempuan seketika memejamkan mata dan menggeretakkan gigi, mencegah dirinya untuk berlari atau bahkan menggerakkan badan.

Si lelaki seketika menarik tangannya. Tersadar dirinya. Teringat ia kali terakhir mendaratkan tangannya di situ seketika sebuah gambar abstrak berwarna biru – ungu tercipta.

Terjatuh ia di lantai, menelungkupkan dirinya dan terisak.

“……, tapi aku mencintaimu! Aku mencintaimu, tau!” serunya dalam isaknya.

Sang perempuan menatap nanar pada dinding di hadapannya.

“Ya, aku tau…….,” jawabnya lirih.

Dilemparkannya batang rokok yang telah mati sedari tadi. Dilangkahkannya kakinya ke arah si lelaki. Diangkatnya wajah berahang keras si lelaki yang masih gemetar dan ditatapnya mata yang basah dengan air mata itu.

“Aku tau kamu cinta……  Lalu, kamu masih mau cerai?” katanya sendu pada si lelaki.

Angin dingin kembali masuk dari celah-celah jendela rumah mungil di sudut jalan yang lama tak disinggahi penghuninya.

¤

Pada Sebuah Kota

“Kota ini penuh amarah,”

Tiba-tiba saya teringat kata-kata itu. Pemandangan yang sedang terjadi di hadapan saya saat ini tak ayal menghadirkan kembali ucapan dari bibir merah-hitam milik wanita yang telah enam tahun tinggal bersama saya itu.

Saya menyipitkan mata, mencoba mencari tahu apa gerangan yang sebenarnya sedang terjadi di hadapan saya ini.

“Heh….!! Gila loe, ya!! Maen lari aja ke depan mobil gw!! Mau mati?!!”

Seorang wanita dengan make-up tebal dan kacamata hitam futuristik yang sangat besar mengeluarkan kepalanya dari SUV hitam yang dikendarainya. Dengan suara melengking ia menghardik pada wanita kumal yang jatuh terduduk hanya sepuluh cm dari bemper mobilnya.

Si wanita kumal gemetar. Kedua lengannya susah payah mencoba menopang tungkai yang ia paksa berdiri. Bola matanya melotot seperti akan mencuat keluar demi melihat SUV hitam yang berdiri jumawa di hadapannya.

“Heh!! Minggir, begooo….!! Gue ada meeting, nihh….!!” suara si wanita di balik setir SUV itu melengking lagi, sementara tangan kirinya menekan klakson beberapa kali.

Tiiinnn……!!

Tiiiiiinnnnn…..!!!

Si wanita kumal terkejut. Ia yang tadinya sudah setengah berdiri, terjatuh lagi. Dari kedua kakinya terlihat aliran kuning mengalir. Ia mengompol.

Dua pria yang sebelumnya tergerak untuk menolongnya seketika mengurungkan niat, sementara orang-orang yang bergerombol di pinggir jalan tanpa dikomando mulai menutup hidung.

Saya mencibir. 

Seorang petugas Polisi menepikan motor lalu menghampiri si wanita kumal.

“Ayo, ke pinggir, Bu. Jangan bikin macet jalanan,” kata si Polisi sembari memapah si wanita kumal ke tepi jalan.

“Tolong saya, Pak…. Anak saya….., anak saya…….,” ujar si wanita kumal terbata-bata.

“Kenapa anaknya?”

“Anak saya hilang dari kemarin! Anak saya hilang, Paakkkk!! Anak saya hilaaaaanngg…..!!” serta-merta si Ibu menjadi histeris.

“Tenang, Bu! Tenang! Bagaimana hilangnya?” tanya si Polisi.

“Kemarin siang saya tinggalkan di atas jembatan ini, Pak! Tapi cuma sebentar, sumpah!! Biasanya saya tinggal juga gak apa-apa!! Wong kami biasa tidur di situ, kok!” Si wanita kumal semakin histeris. Tangan kirinya mengacung, menunjuk-nunjuk ke arah jembatan penyeberangan yang terbentang di atas mereka.

“Baik…., baik…. Anak Ibu laki-laki atau perempuan? Umurnya?”

“Perempuan, Pak! Umurnya 5 tahun!” si wanita kumal mulai menangis.

Orang-orang yang bergerombol satu demi satu mulai melangkah pergi. Si wanita dengan kacamata hitam futuristik super besar tadi kembali melarikan SUV hitamnya dengan kecepatan tinggi. Saya memain-mainkan rambut, tak bergeming dari pojok halte bus tempat saya duduk sedari tadi.

Tiba-tiba ponsel saya bergetar. Sebuah nama berkedap-kedip di layarnya.

Saskia Hanum.

Spontan hati saya membuncah cerah.

“Hai, sayang! Gimana kota M? Sukses roadshow filmnya di sana?” sapa saya ceria.

“Huh! Sukses apanya?! Sponsor menarik dukungan, di sana mereka dapat kecaman juga. Mereka takut sama ormas yang ngaku-ngaku penegak moral bangsa itu! Asem!!” Jawab wanita di ujung sana, kesal. Saya mendesah panjang.

“Ya, sudahlah. Cheer up, baby. Ini bukan kali pertama kita diperlakukan seperti ini, kan? Ya udah, aku masakin iga panggang buat kamu malam ini, ya.” Kata saya menghibur.

“Oh, okey. Tapi sebelumnya, ada anak cewek di ruang tengah lagi makan Haagen-Dazs sambil nonton TV, baby. Anak siapa itu?”

“Oh, aku membawanya pulang kemarin. Panggil saja Intan, aku memberinya nama ‘Intan’. Coba lihat matanya, besar berbinar seperti intan,” jawab saya, ceria.

Karena Aku Tak Mampu Mencinta

Ibumu dulu berkata, ‘Rawat dirimu sebaik mungkin, nak. Kecantikan tidak datang dengan sendirinya. Asalkan kamu rajin lulur dan minum jamu seperti yang Ibu lakukan, kamu pasti mudah mendapat pinangan lelaki. Kamu akan dicintai dan kamu akan bahagia.” Begitu kata ibumu, setiap malam sebelum tidur, sambil menyisir rambutmu yang panjang melewati bahu. Saat ini akhirnya kamu pun takjub, tanpa kamu sadari ternyata rutinitas itu berlangsung sedari TK sampai lulus SMA.

Kamu menenggak lagi kopi kental hitam tanpa gula itu. Cangkir kelima. Kamu sukses membuat barista di coffee shop itu stress karenamu. Kamu tidak tahu, lima hari lalu ada seorang pelanggan jatuh pingsan setelah menenggak kopi pesanannya di sini. Yang bersangkutan ternyata kena serangan jantung. Dan ia khawatir hal yang sama akan terjadi padamu.

Tapi yah…, kamu tak tahu itu. Kamu beranggapan bahwa barista itu tak ubahnya seperti lelaki lain. Tatapan penuh perhatiannya kamu anggap sebagai tahap awal untuk memangsamu. Namun tak seperti biasanya, kamu hanya diam seolah tak peduli. Kamu yang biasanya akan naik pitam, lantas menyuruhnya untuk pergi ke neraka. Di beberapa kesempatan kamu bahkan tak enggan menuangkan minuman panas mengepulmu ke atas kepala beberapa dari mereka. Tapi kali ini kamu hanya diam. Kamu tak peduli pada sekelilingmu. Kamu sedang merenungkan sesuatu.

“Ibu, bahagia itu apa?” tanyamu puluhan tahun lalu. Kau mendengar Ibumu mengucapkannya ratusan kali. Ibumu menganga keheranan, tak mengerti mengapa bocah kecil seusiamu telah mampu mempertanyakan sesuatu yang penuh makna.

“Bahagia itu perasaan penuh cinta. Karena kamu mencintai, dan karena kamu dicintai. Ibu cinta sekali sama kamu, dan Ibu bahagia karena kamu cinta sama Ibu juga,” jawab Ibumu penuh senyum. Kamu hanya manggut-manggut. Sayangnya baru sekarang kamu sadari bahwa otak berusia sepuluh tahunmu itu sebenarnya tak mengerti apa yang dimaksudkan Ibumu.

Pun sekarang.

Kamu tertawa kecil, lalu meletakkan cangkir kopi panas mengepul yang sedari tadi kamu pegang.

“Kalau begitu, itulah mengapa aku tak kunjung bahagia. Karena aku tak mampu mencinta,” ujarmu sendiri, getir.

Barista di depanmu mendongak. Khawatir kalau-kalau 5 gelas kafein telah membuatmu berhalusinasi.

Talk Over Breakfast

“Oh mengapa tak bisa dirimu
Yang mencintaiku tuluh dan apa adanya
Aku memang bukan manusia sempurna
Tapi ku layak dicinta karena ketulusan…. “

(Pasto)

Dan air matamu pun menitik lagi. Padahal sudah kukatakan agar jangan mendengarkan radio ataupun menonton TV dan sebangsanya selama luka hatimu masih terbuka.

“Udah, biarinin aja gw nangis! Gw kan’ bukan loe, yg jatuh cinta aja pake perhitungan!” Katamu sengit sambil menyeka bulir-bulir air mata yang mulai jatuh.

Nah kan, buntut-buntutnya kamu pasti salah lagi mengartikan tatapan mataku. Bukan sayang, ini bukan tatapan untuk memintamu tegar atau supaya berlaku kuat. Tapi, well, gak heran kalau kamu pun salah paham. Kamu pastinya orang ke 201 yang tersindir hanya oleh tatapan mataku.

Kuletakkan telor mata sapi setengah matang pada piring yang sudah kuisi dengan setangkup roti tawar. Kau menaikkan alis, pertanda kurang setuju pada pilihan menu sarapan pagiku.

“Makan aja, deh. Atau kalo gak mau, nanti gw suruh si As beli nasi uduk di pasar,” sahutku. Kau mengangguk, lalu meniup-niup kopi kental panas yang sebenarnya telah lama kutuang sebelumnya. Kurasa figur yang sedang patah hati bukan nalarnya saja yang mati, tapi juga indera perabanya.

Lalu kamu memandang kosong pada TV yang menyala. Metro TV menayangkan “Metro Pagi”.

“Kenapa ini terjadi lagi sama gw sih?” Kamu berkata pedih.

Aku pun kembali terpekur, seperti yang kulakukan tadi malam saat kamu datang dan kemudian menangis di kursi yang sama. Bukan hanya malam tadi, tapi tiap kali kamu datang dan tersedu dengan hal yang sama aku juga masih melakukan hal yang sama. Tujuh tahun aku mengenalmu, dan dua kali dalam setahun kamu menangisi ini. Sayang, mungkin air mata yang kau tumpahkan sudah sebanyak air kolam ikanku sekarang.

“Aku layak dicintai bukan….?”Tanyamu di antara isakan tangis.

Aku kembali pada posisiku tadi malam, memegang segelas kopi dan terpekur menatap wajah mendungmu.

“Aku tidak peduli harta…., aku tidak peduli jabatan…,”

Tentu sayang, kamu adalah Head of Marketing Communication dengan gaji puluhan juta per bulan.

“Aku juga tidak peduli asal usul keluarga.”

Memang, sudah tidak jaman mempertimbangkan apakah Mbah Kakung seseorang bekas anggota PKI atau bukan.

“Aku tidak peduli bibit, bebet, bobot!!”

Hmm…., sama dengan sebelumnya. Kamu hanya ingin merangkum dan menegaskan kembali.

“Aku hanya ingin seorang lelaki yang mencinta…….,”

Ah, kamu mulai jujur….

“Apakah aku tidak pantas untuk dicinta?”

Aku sahabat dekatmu! Tentu saja aku akan menjawab kalau kamu SANGAT PANTAS untuk dicintai!

“Mengapa tidak sedikit pun mereka tergerak dengan ketulusanku?!”

Oh…., andaikata kamu tergerak mencari tahu lebih jauh lagi….

“Sampai kapan aku harus menunggu dalam barisan? Mengapa antrianku tidak juga maju?!”

Ahh…!! Konotasi yang kamu pakai berganti sekarang! Great, at last something new dalam curhat rutinmu.

“Ray bilang kita bukan jodoh. Darimana dia tahu?!”

Oh!! Tentu saja dia tahu!!

“Dia juga bilang ‘we’re not meant for each other!’ How come, setelah kita menikmati kebersamaan hampir setengah tahun ini! Padahal dia bilang dia sangat menikmatinya….,” Kamu menyeka air matamu.

“Aku tidak mengerti laki-laki….,” ujarmu sedih.

Kutatap dirimu yang bersandar meringkuk di kursi. Kamu terlihat kecil, kamu terlihat rapuh. Padahal biasanya kamu terlihat gagah dan kuat.

Ah Tomi sayang, aku juga tidak mengerti laki-laki, makanya aku tidak menyukai satu pun di antara mereka. Sayangnya kamu menyukai mereka. Dan kamu patah hati dua kali setahun dengan mereka yang menyukai wanita.

Ah, ini percakapan yang terlalu berat untuk dilakukan saat sarapan pagi!