Words

Hari ini adalah hari ulang tahunmu. Anehnya, aku malah teringat dengan hari ulang tahunku.

Di tanggal tersebut sepuluh tahun lalu sebuah paket ringan bersampul coklat datang ke tempatku. Paket itu darimu,  bertuliskan nama dan kota tempat di mana aku meninggalkanmu setahun sebelumnya. Tanpa menunggu lama kurobek sampul coklatnya. Well, kau tahu aku bukan wanita yang sabar. Dan aku tertawa terbahak. Meluncur di tanganku : Jean Paul Sartre  – “Kata-Kata”.

Kau tahu, yang paling kuingat adalah ketidakmampuanmu berkata-kata tentang perasaanmu. Satu tahun yang kita lewati sebelumnya mungkin hanya dipenuhi kata-kata rayuan dan pujian dariku akan dirimu. Sayang, waktu itu aku memang menggombal. Tapi aku menggombal dengan ikhlas. Dan percayalah, aku memilih untuk duduk selalu di bangku belakangmu karena aku memang suka melihat punggungmu.

Maka saat kau berkata bahwa yang paling membahagiakanmu adalah menari di tengah hujan bersamaku, aku tahu kalau kau mengatakan yang sebenarnya. Yang kusesali justru adalah kata-kataku yang kerap membawamu ke atas awan dan menghempaskanmu lagi ke dasar bumi yang paling dalam.

Kau, pria yang kutinggalkan sepuluh tahun lalu. Bila sampai pada suatu waktu kau membaca tulisan ini, tidak peduli kau mengatakannya atau tidak, kau selalu dapat mengandalkanku untuk membaca pikiranmu.

Talk Over Breakfast

“Oh mengapa tak bisa dirimu
Yang mencintaiku tuluh dan apa adanya
Aku memang bukan manusia sempurna
Tapi ku layak dicinta karena ketulusan…. “

(Pasto)

Dan air matamu pun menitik lagi. Padahal sudah kukatakan agar jangan mendengarkan radio ataupun menonton TV dan sebangsanya selama luka hatimu masih terbuka.

“Udah, biarinin aja gw nangis! Gw kan’ bukan loe, yg jatuh cinta aja pake perhitungan!” Katamu sengit sambil menyeka bulir-bulir air mata yang mulai jatuh.

Nah kan, buntut-buntutnya kamu pasti salah lagi mengartikan tatapan mataku. Bukan sayang, ini bukan tatapan untuk memintamu tegar atau supaya berlaku kuat. Tapi, well, gak heran kalau kamu pun salah paham. Kamu pastinya orang ke 201 yang tersindir hanya oleh tatapan mataku.

Kuletakkan telor mata sapi setengah matang pada piring yang sudah kuisi dengan setangkup roti tawar. Kau menaikkan alis, pertanda kurang setuju pada pilihan menu sarapan pagiku.

“Makan aja, deh. Atau kalo gak mau, nanti gw suruh si As beli nasi uduk di pasar,” sahutku. Kau mengangguk, lalu meniup-niup kopi kental panas yang sebenarnya telah lama kutuang sebelumnya. Kurasa figur yang sedang patah hati bukan nalarnya saja yang mati, tapi juga indera perabanya.

Lalu kamu memandang kosong pada TV yang menyala. Metro TV menayangkan “Metro Pagi”.

“Kenapa ini terjadi lagi sama gw sih?” Kamu berkata pedih.

Aku pun kembali terpekur, seperti yang kulakukan tadi malam saat kamu datang dan kemudian menangis di kursi yang sama. Bukan hanya malam tadi, tapi tiap kali kamu datang dan tersedu dengan hal yang sama aku juga masih melakukan hal yang sama. Tujuh tahun aku mengenalmu, dan dua kali dalam setahun kamu menangisi ini. Sayang, mungkin air mata yang kau tumpahkan sudah sebanyak air kolam ikanku sekarang.

“Aku layak dicintai bukan….?”Tanyamu di antara isakan tangis.

Aku kembali pada posisiku tadi malam, memegang segelas kopi dan terpekur menatap wajah mendungmu.

“Aku tidak peduli harta…., aku tidak peduli jabatan…,”

Tentu sayang, kamu adalah Head of Marketing Communication dengan gaji puluhan juta per bulan.

“Aku juga tidak peduli asal usul keluarga.”

Memang, sudah tidak jaman mempertimbangkan apakah Mbah Kakung seseorang bekas anggota PKI atau bukan.

“Aku tidak peduli bibit, bebet, bobot!!”

Hmm…., sama dengan sebelumnya. Kamu hanya ingin merangkum dan menegaskan kembali.

“Aku hanya ingin seorang lelaki yang mencinta…….,”

Ah, kamu mulai jujur….

“Apakah aku tidak pantas untuk dicinta?”

Aku sahabat dekatmu! Tentu saja aku akan menjawab kalau kamu SANGAT PANTAS untuk dicintai!

“Mengapa tidak sedikit pun mereka tergerak dengan ketulusanku?!”

Oh…., andaikata kamu tergerak mencari tahu lebih jauh lagi….

“Sampai kapan aku harus menunggu dalam barisan? Mengapa antrianku tidak juga maju?!”

Ahh…!! Konotasi yang kamu pakai berganti sekarang! Great, at last something new dalam curhat rutinmu.

“Ray bilang kita bukan jodoh. Darimana dia tahu?!”

Oh!! Tentu saja dia tahu!!

“Dia juga bilang ‘we’re not meant for each other!’ How come, setelah kita menikmati kebersamaan hampir setengah tahun ini! Padahal dia bilang dia sangat menikmatinya….,” Kamu menyeka air matamu.

“Aku tidak mengerti laki-laki….,” ujarmu sedih.

Kutatap dirimu yang bersandar meringkuk di kursi. Kamu terlihat kecil, kamu terlihat rapuh. Padahal biasanya kamu terlihat gagah dan kuat.

Ah Tomi sayang, aku juga tidak mengerti laki-laki, makanya aku tidak menyukai satu pun di antara mereka. Sayangnya kamu menyukai mereka. Dan kamu patah hati dua kali setahun dengan mereka yang menyukai wanita.

Ah, ini percakapan yang terlalu berat untuk dilakukan saat sarapan pagi!

Segitiga dan Logika

“Apa yang salah dari mencintai lelaki yang sudah dimiliki orang lain, Lee?”

Saya terdiam mendengar pertanyaan itu. Wanita yang menelepon saya ini telah setengah jam menumpahkan tragedi cinta segitiganya pada saya. Well, kalau cinta bisa disebut sebagai tragedi, mungkin cinta segitiga adalah salah satunya.

“Kalau cinta tidak pernah salah, lalu siapa yang salah? Aku yang tergoda rayuannya? Dia yang tidak puas dengan pasangannya? Atau pasangan yang super sibuk dan gak ngasih perhatian itu? Siapa?!”

Wanita ini mulai terisak.

“If everything happens for a reason, I really don’t have a clue what the purpose of all these s**ts!!”

Saya menghela napas. Masih terdiam. Tak kuasa mengatakan apa yang saya pikirkan.

“Honey, I believe everything happens for a reason. Tapi aku tidak percaya pada pepatah edan yang berkata bahwa cinta tidak harus memiliki. So, do you really wanna own this man?” – namun kata-kata ini hanya menggantung di langit-langit mulut saya, tanpa pernah terujar pada wanita ini yang nalarnya sedang tumpul.

Sampai saat ia datang menggedor daun pintu saya pagi harinya disertai isakan keras. Si pemilik sah laki-laki yang berada di sudut segitiga itu datang padanya beberapa jam sebelumnya, meninggalkan tanda mata merah pada pipi mulusnya dan sejuta sumpah serapah yang akan menghantui malam-malamnya sampai sepuluh tahun ke depan.

Saat ini, tiba-tiba saya teringat kata-kata yang hendak saya ucapkan tadi malam.

The First Time Someone Propose To Me

Laki-laki ini berdiri dengan kaku di hadapan saya. Jemarinya yang menggenggam rokok gemetar. Ia terlihat begitu rapuh, membuat saya tergoda untuk meraih dan merengkuhnya erat dalam dekapan. Pose laki-laki seperti ini selalu menerbitkan sensasi aneh dalam diri saya. Saya menggigit bibir, mencoba manahan diri.

Setengah jam lalu laki-laki ini menawarkan Matahari musim panas pada saya. Menjanjikan hingar-bingar Harajuku dan taburan kelopak sakura di peraduan saya. Tak ayal saya jadi berpikir, apakah sebaiknya saya terima saja ajakannya untuk ikut bersamanya ke Jepang. Segalanya begitu menggoda, termasuk dirinya yang berdiri di hadapan saya.

Ia beranjak, berjalan perlahan ke arah jendela kamar.

So, this is it.” Ujarnya.

Saya mengangguk.

“Ya, Ram. This is it.”

Dia mendesah, mematikan rokok, lalu melihat ke luar jendela.

“Kadang-kadang aku pikir, aku laki-laki yang paling beruntung di dunia. Kurang apa aku coba……,” Katanya getir.

Oh, ini akan mulai menyebalkan. Laki-laki satu ini agaknya akan memunculkan satu sifatnya yang paling saya benci, narsisme.

“Ram, what’s your point?” Respon saya jengah, mencoba menghentikan rentetan fakta yang akan meluncur tentang dirinya : ganteng, muda, kaya, dan karier yang dipastikan akan menambah daftar asset kekayaannya. Tidak kekurangan suatu apa pun, kecuali………..

“Aku cuma menginginkanmu. Bukan segala yang aku punya sekarang ini,”

Saya terdiam.

“Atau tidakkah segala yang aku punya sekarang ini membuatmu tertarik?!” Kali ini ia menggenggam jemari saya. Saya jadi tersinggung. Tidak semua bisa dibeli dengan materi bukan, apalagi cinta. Saya lepaskan tangannya, dan mengambil sebatang A Mild dari kotak rokok saya.

“Ram, sudah cukup. Jangan karena cinta ini kamu merendahkan diri di depan saya.”

“Tapi, Lee….,”

Look, I love you too. But we will never get to it. Never.” Kata saya tegas. Ia terduduk lemas, mengacak-acak rambutnya dengan kesal. Sesaat ia terdiam, lalu kembali menyalakan rokok dengan jemari gemetar.

But you know I love you, well, instead of my condition…,” Ia menatap mata saya dengan sendu.

“I would love to get married with you.” Katanya sungguh-sungguh.

Saya tersenyum.

“I love you too, Rama sayang. But I’m not going that far.”

——————

It was a very romantic night. Malam itu, saya dilamar oleh seorang pria yang mencintai pria lain dan seorang wanita yang mengingatkannya pada pria itu.

You’re the sweetest man I’ve ever met, Ram. You’ll always be.

– Medio 2005, Santika Hotel, Jakarta  –