Cari Suami

…….

“Gw resign, Lee.”

Jeder!! Di siang bolong yg riweh dengan setumpuk dokumen di depan mata, hampir saja kopi saya tumpah demi mendengar sebaris kalimat dari sahabat perempuan yang satu ini.

“Tunggu…., tunggu….!! What the….. HAH?!!”

“Iya gw resign! Loe tau kan kalo gak mungkin semua itu terwujud kalo gw masih begini terus!”

“Tapi loe kan udah ‘Manager’, Ka! Manager! Loe gak sayang?!”

“Yah…, mau gimana lagi. Buat kebaikan semua orang juga. Biar nyokap gw gak khawatir lagi, biar masa biologis gw gak lewat gitu aja!”

Saya bengong.

“Masa biologis…? What ever, deh! Tapi masa loe resign demi cari suami?!!”

And the day just started again.

Selamat Pagi

Jam menunjukkan pukul tujuh kurang enam belas menit ketika saya sampai di Halte Trans Jakarta – Ragunan. Saya mendesah lega. Masih cukup waktu bagi saya mengantri di barisan untuk penumpang yang duduk (karena ada juga barisan utk penumpang yg rela berdiri, lebih pendek antriannya). Toh, antriannya tidak begitu panjang.

Baru lima menit mengantri, beberapa wanita di depan saya mulai kasak-kusuk dan serta-merta menutup hidung. Tak butuh waktu lama untuk saya menemukan apa penyebabnya.

Asem, ada yang kentut nih!

Saya, sembari menutup hidung dengan tissue yang sekenanya saya temukan di saku celana, memperhatikan wanita-wanita tersebut.

Ada empat wanita berdiri di depan saya. Yang paling depan, secara vulgar menatap sinis pada wanita yang mengenakan seragam sebuah stasiun TV swasta di depannya yang sedang asyik mendengarkan sesuatu dari iPod-nya. Terlihat bahwa si wanita tersebut, entah mengapa, tak ambil pusing dengan bau kentut yang amat mengganggu.

Saya kok cenderung menduga si wanita yang menutup hidung dan terang-terangan kesal dengan si wanita pegawai stasiun TV itu adalah pelakunya. Seketika peribahasa berbunyi, ‘maling teriak maling’ berkelebat dalam otak saya.

Menurut anda, siapa yang kentut? :mrgreen:

Karena Aku Tak Mampu Mencinta

Ibumu dulu berkata, ‘Rawat dirimu sebaik mungkin, nak. Kecantikan tidak datang dengan sendirinya. Asalkan kamu rajin lulur dan minum jamu seperti yang Ibu lakukan, kamu pasti mudah mendapat pinangan lelaki. Kamu akan dicintai dan kamu akan bahagia.” Begitu kata ibumu, setiap malam sebelum tidur, sambil menyisir rambutmu yang panjang melewati bahu. Saat ini akhirnya kamu pun takjub, tanpa kamu sadari ternyata rutinitas itu berlangsung sedari TK sampai lulus SMA.

Kamu menenggak lagi kopi kental hitam tanpa gula itu. Cangkir kelima. Kamu sukses membuat barista di coffee shop itu stress karenamu. Kamu tidak tahu, lima hari lalu ada seorang pelanggan jatuh pingsan setelah menenggak kopi pesanannya di sini. Yang bersangkutan ternyata kena serangan jantung. Dan ia khawatir hal yang sama akan terjadi padamu.

Tapi yah…, kamu tak tahu itu. Kamu beranggapan bahwa barista itu tak ubahnya seperti lelaki lain. Tatapan penuh perhatiannya kamu anggap sebagai tahap awal untuk memangsamu. Namun tak seperti biasanya, kamu hanya diam seolah tak peduli. Kamu yang biasanya akan naik pitam, lantas menyuruhnya untuk pergi ke neraka. Di beberapa kesempatan kamu bahkan tak enggan menuangkan minuman panas mengepulmu ke atas kepala beberapa dari mereka. Tapi kali ini kamu hanya diam. Kamu tak peduli pada sekelilingmu. Kamu sedang merenungkan sesuatu.

“Ibu, bahagia itu apa?” tanyamu puluhan tahun lalu. Kau mendengar Ibumu mengucapkannya ratusan kali. Ibumu menganga keheranan, tak mengerti mengapa bocah kecil seusiamu telah mampu mempertanyakan sesuatu yang penuh makna.

“Bahagia itu perasaan penuh cinta. Karena kamu mencintai, dan karena kamu dicintai. Ibu cinta sekali sama kamu, dan Ibu bahagia karena kamu cinta sama Ibu juga,” jawab Ibumu penuh senyum. Kamu hanya manggut-manggut. Sayangnya baru sekarang kamu sadari bahwa otak berusia sepuluh tahunmu itu sebenarnya tak mengerti apa yang dimaksudkan Ibumu.

Pun sekarang.

Kamu tertawa kecil, lalu meletakkan cangkir kopi panas mengepul yang sedari tadi kamu pegang.

“Kalau begitu, itulah mengapa aku tak kunjung bahagia. Karena aku tak mampu mencinta,” ujarmu sendiri, getir.

Barista di depanmu mendongak. Khawatir kalau-kalau 5 gelas kafein telah membuatmu berhalusinasi.