Posted by: Reva Liany Pane | November 20, 2009

Curhat Si Hitam Manis

Saya kurang suka janjian pagi-pagi di mall. Apalagi jam 10 pagi, saat mall baru saja buka. Selain karena alasan saya susah bangun pagi pas weekend, emangnya mau ngapain pagi-pagi nangkring di mall?? Bantuin cleaning service-nya bersih-bersih?? Tapi waktu Kania, seorang teman yg baru pulang jalan-jalan ke Korea dengan membawa setumpuk oleh-oleh mengajak janjian di Senayan City, saya tidak mungkin untuk menolak. Demi seperangkat kosmetik dari Korea, jam 10 teng! saya pun dengan sumringah muncul di lobby Senayan City dan melambaikan tangan pada Kania.

Saat kami cipika-cipiki di lobby, sebuah CRV abu-abu berhenti. Seorang baby sitter dengan sigap turun dan membuka pintu belakang mobil, menurunkan kereta dorong bayi. Dari pintu tengah dengan elegannya turun seorang wanita berkulit gelap mengenakan kaos pink tangan buntung dan berkaca mata hitam dengan menggendong bayi mungil. Bayi yang berkulit putih dan berambut pirang tersebut jelas-jelas mengindikasikan bahwa paling tidak salah satu dari orang tuanya adalah orang asing. Or, kalau si wanita hitam manis ini adalah si Ibu, maka jelas sang Bapaklah yang keturunan asing itu.

Dari jarak kurang dari sepuluh meter dengan mereka, sahabat saya ini mendesis.

“Huh, bibi face!

Tanpa menunggu lama langsung saya geret Kania masuk ke dalam.

Tidak sedikit teman wanita saya yang mengatakan bahwa mereka tidak bisa berpasangan dengan sesama orang Indonesia. Sebagian berasalan orang Indonesia kebanyakan aturan dan terlalu banyak memasang barrier. Sebagian mengatakan pria Indonesia membosankan, plin plan, kurang romantis dan tidak mandiri. Ada juga yang memilih berpacaran dengan orang asing karena punya pengalaman pahit pacaran dengan pria Indonesia.

Lalu apa hubungannya dengan ‘bibi face’ di atas?

Saya yakin anda semua sudah mengerti arti dari kata ‘baby face’. Bukan, bukan penyanyi kulit hitam itu! ‘Baby face’ yang saya maksud adalah mereka yang  berwajah imut seperti bayi. Lalu kalau ‘bibi face’, makanan apa lagi itu?

‘Bibi face’ sebagaimana yang disebutkan oleh Kania maksudnya adalah wanita Indonesia berkulit gelap yang kerap kita jumpai mendampingi pria asing. Pasti pernah tho lihat pasangan pria bule dengan wanita Indonesia berkulit gelap? Nah, apa yang ada di pikiran anda waktu melihat pasangan tersebut?

Sudah jadi rahasia umum bahwa pria bule lebih menyukai wanita berkulit gelap. Stigma yang umum berlaku di masyarakat mengatakan wanita-wanita berkulit gelap ini umumnya adalah pencari materi dari kantong-kantong pria bule. Jadi layaknya gayung bersambut, terciptalah simbiosis mutualisme di antara mereka.

Don’t get me wrong! Saya tidak memberikan justifikasi pada stigma tersebut. Saya hanya memaparkan pandangan umum yang ada di masyarakat. Dan pandangan umum inilah yang telah menyulitkan teman saya, Naomi. Stigma yang mengatakan bahwa wanita Indonesia berkulit gelap yang jalan berpasangan dengan pria bule biasanya mengincar pundi-pundi uang mereka. Saat menggeret Kania masuk ke dalam Senayan City saya bersyukur bahwa Naomi tidak berada di situ dan mendengar komentar sadis Kania.

Naomi, dara cantik yang baru menikah dengan pria Italia ini sudah lama tahu kalau dia tidak cocok dengan pria Indonesia.

“Loe bisa bilang gw terlalu liberal, but this is who I’m,” begitu Naomi berkata pada saya suatu hari.

Naomi dalah wanita keturunan campuran Portugis-Maluku. Sarjana lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik dari salah satu perguruan tinggi negeri terbaik di Indonesia ini menguasai tiga bahasa asing: Inggris, Perancis dan Italia. Bayangkan betapa bahagianya saya yang menggemari novel-novel Agatha Christie saat menemukan tempat bertanya untuk kata-kata berbahasa Perancis yang sering diucapkan Hercule Poirot. Wanita yang saat ini bekerja sebagai news announcer di salah satu TV lokal daerah itu sama sekali tidak mempermasalahkan warna kulitnya yang gelap, sementara kebanyakan wanita justru sibuk berburu produk skin whitening terbaik. Dengan wajah cantik dan tinggi badan 170 cm, Naomi adalah salah satu wanita dengan tingkat percaya diri sangat tinggi yang pernah saya kenal. Namun demikian, Naomi terusik dengan stigma itu. Stigma bahwa wanita-wanita berkulit gelap ini adalah pencari materi dari kantong-kantong pria bule.

Suatu hari dalam rangka tugas kantor saya datang ke stasiun televisi tempat Naomi bekerja. Setelah urusan saya selesai, kami pun ngobrol. Naomi mengatakan kalau suaminya akan datang menjemput dan meminta agar saya menunggu sampai jadwal siarannya selesai. Dia mengajak saya makan malam bertiga dengan suaminya. Saat Naomi siaran, suaminya datang. Saya yang sudah kenal cukup lama dengan suaminya tanpa sungkan minta tolong untuk diantar ke mall yang berada tak jauh dengan studio untuk membeli kertas kado. Saya tidak berpikir panjang waktu itu, karena Naomi dan saya cukup dekat dan saya yakin Naomi tidak akan berpikiran negatif ataupun mempermasalahkan hal ini.

Ternyata saya salah!

Dengan sukses saya telah menghancurkan mood Naomi untuk makan malam. Saya yang tidak mengerti akar masalahnya jadi dongkol. Pasangan itu berdebat sepanjang perjalanan ke rumah saya dengan bahasa Italia yang jelas saya tidak mengerti. Beberapa hari setelah kejadian itu Naomi mengajak saya bertemu di coffee shop.  Saya OK saja, saya pikir dia pasti ingin menjelaskan kejadian beberapa malam sebelumnya.

“Loe tahu gak kalo pacaran sama orang bule itu susah?”

Itu kalimat pembuka Naomi pada saya.

Saya yang pengalaman pacarannya dengan orang asing adalah dengan orang Jepang, bukan bule, jelas geleng-geleng. Naomi tersenyum kecut dan menyalakan rokok. Kemudian selama setengah jam mengalirlah curhatan hati si hitam manis ini tentang stigma menjengkelkan yang telah mengganggunya sejak menjalin hubungan sampai akhirnya menikah dengan suaminya yang berkebangsaan Italia itu.

“Gw sering disangka pecun!!”

Ujar Naomi getir. Pandangan mata menghakimi itulah yang ditujukan padanya setiap ia berjalan berpasangan dengan suaminya.

“Mulai dari cowok bule, cowok Indonesia, sampe tukang ojek mikirnya gw cewek yg bisa dipake! Sial!!”

Selanjutnya ia bercerita bagaimana beberapa laki-laki datang dan meminta nomor teleponnya waktu suaminya ke toilet, ataupun bagaimana tukang ojek ujung gang bekas kontrakan suaminya yang menawarkan jasa langganan antar-jemput yang bisa dihubungi via telepon in case Naomi butuh cepat sampai ke tempat ‘klien’.

“Langsung gw tonjok tu tukang ojek!!” katanya berapi-api.

Masalah Naomi tidak berhenti di situ. Yang bersangkutan juga harus berhadapan dengan wanita-wanita peminat kantong pria bule yang juga mengincar suaminya. Dan jangan salah, kebanyakan wanita-wanita itu berpikir bahwa Naomi adalah salah satu di antara mereka. Naomi pernah gontok-gontokan di tempat parkir sebuah klub gara-gara seorang di antara mereka berkata kalo dia sok innocent, padahal ujung-ujungnya sama aja – harta yang diincar.

Sejak menjalin hubungan dengan suaminya, Naomi belajar bahwa dunia pergaulan ekspatriat ternyata sempit. Atau mungkin juga dunia pergaulan suaminya yang sempit – tambah Naomi. Pria asing yang ditemuinya itu-itu saja dari waktu ke waktu, walaupun pasangan mereka tidak selalu sama. Karena itulah Naomi selalu mengusahakan suaminya hanya hang out dengan dia, hanya makan di luar dengan dia, hanya berjalan berpasangan dengan dia, pokoknya ngapain dan kemana pun harus dengan dia! Sangat penting untuk menjaga image bahwa mereka adalah pasangan baik-baik, sehingga suminya tidak dilirik wanita-wanita gatel. Dan itulah alasan mengapa Naomi marah pada saya tempo hari.

“Dengan jalan sama loe, bisa memberikan kesan kalo suami gw available in the market. Itu yang gw hindari!” ujar Naomi.

Saya mengangguk-angguk. Hal ini belum pernah mengusik saya. Saya tahu bahwa stigma itu ada, namun saya berpikir hanya orang yang shallow saja yang mencap seperti itu, bahwa wanita yang jalan dengan pria asing adalah wanita matre.  So, tell me, apa yang sesungguhnya ada dalam pikiran anda setiap melihat wanita berkulit gelap berjalan berpasangan dengan pria bule?

Posted by: Reva Liany Pane | November 10, 2009

When You Cry

Waduh… Jika Menangis Tianna Bisa Meninggal

Selasa, 10 November 2009 | 10:23 WIB

LONDON, KOMPAS.com — Sepintas tak ada yang berbeda dengan Tianna Lewis McHugh. Layaknya bocah berusia dua tahun, dia senang bermain dan tertawa. Namun, jangan sampai Tianna menangis mengingat akibatnya yang sangat fatal. Dia bisa meninggal jika menangis.

Sebenarnya wajar jika seorang balita menangis, tapi tidak dengan Tianna. Dia menderita reflex anoxic seizure (RAS), yaitu hanya dengan menangis bisa memicu kematiannya. Saat mengalaminya, kulit Tianna berubah menjadi putih, tubuhnya mengeras, jantungnya berhenti berdetak, dan berhenti bernapas.

Orangtua Tianna, Ceri Lewis dan Andy McHugh, harus berjuang setiap hari agar putrinya tidak menangis. Ibu Tianna, Ceri (23), histeris ketika mengetahui kondisi putrinya untuk pertama kalinya.

→ The rest can be found here.

We used to call ourselves as best friends for life. Saya dan Sabrina. Ya, kami berdua adalah sahabat sejati sepanjang hidup. Saya sering tertawa setiap kali kami mengucapkan kata-kata itu : best friends for life – sounds heavy. Pernah sekali waktu setelah mendengar kata-kata itu disebutkan, kami berpandang-pandangan.

“Are we could be defined as one too? Best friends for life?” tanya Sabrina.

“What do you think?” Saya bertanya balik.

“Hmm…., yeah. I think so. Mungkin tipe yg paling aneh dari semua sahabat sejati yang pernah ada,” jawabnya, lalu tertawa. Saya pun ikut tertawa. Seperti apa yang dikatakan Sabrina, bila ada pengkategorian dalam hal sahabat sejati ini, saya pikir mungkin kami masuk dalam golongan yang aneh. Mungkin malah yang ter-aneh.

Saya dan Sabrina saling menemukan satu sama lain saat kami sama-sama dalam kondisi terpuruk. Bila Rama mengklaim bahwa memang ada yang dinamakan radar untuk mengenali sesamanya di tengah keramaian, maka saya yakin pastilah ada juga radar untuk mengenali individu-individu yang sedang terpuruk.

Kami bertemu pertama kali di riuhnya suasana klub malam. Saya dikenalkan pada Sabrina oleh seorang teman. Di antara hingar-bingar suara orang-orang yang sedang bersenang-senang, kami sampai harus berteriak untuk mengenalkan nama kami.

“Revaaa..!!” seru saya kencang.

“Sabrinaaa…!!” serunya juga kencang.

Jam 3 malam, setelah klub tutup, kami terdampar di tempat makan pinggir jalan. Saya dan teman tumpangan saya, Sabrina dan teman-teman bandnya. Kami berkenalan sekali lagi. Kali ini tanpa perlu berteriak satu sama lain.

” Reva,”

“Sabrina,”

Kami tidak menangis. Tidak ada setetes air mata pun mengalir di wajah kami saat itu. Mata kami pun tidak merah, apalagi bengkak. Saya pun tidak mengerti bagaimana, apakah karena kami sama-sama melihat serpihan demi serpihan dari hati yang remuk redam bertebaran dari tubuh kami berdua, ataukah simply karena kami sedang berada pada jurang yang sama.  Kami tidak menangis. Tapi kami berhasil menemukan satu sama lain yang sedang menangis dalam hati.

Keesokannya Sabrina berkunjung ke tempat saya. Ditemani sekotak A Mild dan Lene Marlin, Sabrina dan saya mengurai definisi dari ‘menangis’.

crying woman

Bila harus menangis, menangislah. Bila mampu menangis, maka menangislah.

Namun tidak ada yang mengharuskan kesedihan diekspresikan dengan tangisan, bukan?

Tidak. Tapi kenapa tidak? Mengapa air mata harus ditahan?

Mengapa juga air mata harus ditunjukkan?

Mengapa tidak? Untuk alasan harga diri? Kata siapa tangisan adalah milik mereka yang pengecut? Aku menangis bukan mencari simpati. Aku menangis karena aku sedih.

– Saya dan Sabrina -

Sepulang Sabrina dari tempat saya dengan membawa album Muse yang baru saya beli, saya pun akhirnya menangis.

Persahabatan saya dan Sabrina dimulai dengan cerita tentang tangisan. Persahabatan kami dibangun dari ekspresi kesedihan yang saya masih sering gagal melakukannya.  Saya yang lebih sering menangis dalam hati, dan Sabrina yang berteman dengan air mata.


Siang ini kala saya membaca artikel di atas, saya pun kembali menangis dalam hati. Bila persahabatan kami dibangun dari ekspresi kesedihan, maka semoga persahabatan yang akan dibangun bocah kecil itu kelak akan berakar dari ekspresi kebahagiaan.


Posted by: Reva Liany Pane | October 27, 2009

Berani Berkoar Berani Terima Akibatnya

Percakapan antara cowok A, teman-teman, dan saya.

“Gw mau bikin studio musik, guys!” seru cowok A begitu turun dari Suzuki Swift putih yang membawanya sampai ke sebuah Coffee Shop, tempat kami nongkrong.

“Oh ya? Bagus tuh, musik kan lagi happening!” kata yang lain.

Yo-i, makanya gw mutusin buat bikin studio musik. Tadinya sih gw pengen bikin coffee shop aja, tapi kayaknya coffee shop gitu-gitu aja deh. Gak yakin coffee shop gw nanti bakalan laris, orang kita kan’ masih brand minded. Mau ngopi pasti larinya ke Starbucks!’ katanya bersungut-sungut.

“Tapi studio musik kan’ banyak saingannya juga…,”

“Iya sih, tapi musik kan’ bidang gw juga. At least gw udah familliar dengan musik, gak gampang dibohongin. Gw sih pengennya megang studio musik itu sendiri, gak diserahin ke orang lain. Kalo coffee shop agak susah jagain-nya, man. Secara gw tour terus kan sama band gue.” lanjut si A.

Hmmm………

Saya celingak-celinguk. Menyeruput caramel ice blend yang tinggal beberapa senti. And…..that’s it! Hari ini jatah sabar saya sudah habis.

“Bikin studio musik mahal lho!” celetuk saya. Si A kaget, mungkin karena tidak melihat saya sebelumnya.

“Hai, Lee. Udah lama di sini?” sapa si A.

“Lumayan. Menurut gw sih, dua-duanya punya resiko yang sama. Sama-sama butuh investasi yang gede juga.”

I know, makanya gw kudu hati-hati biar gak rugi…,” jawabnya, masih dengan nada jumawa.

Saya melirik dari balik sedotan.

“Emang bayaran loe sekali manggung berapa sih? Bukannya album loe baru keluar? Loe masih masa promosi ‘kan?” tanya saya. Si A mulai terlihat jengah.

“Iya sih…., makanya yang mau bayarin dulu nyokapnya si Rani.” jawab A.

“Wow, ngutang dulu maksud loe? Hebat, loe berarti berani benar ya. Investasi segede itu musti berapa lama baru bisa balik? Ck…, ck…!” kata saya. Si A mendelik.

“Yah….., namanya juga yg ngasih modal calon mertua, Lee. Jadi ya gw gak usah khawatir-khawatir amatlah!” sahutnya ketus.

There. He said it. Persis seperti itulah yang ingin saya dengar.

Saya beranjak, meletakkan selembar 50 ribuan di meja.

“Gw balik dulu ya, guys. Oh ya A, itu mobilnya si Rani mendingan loe cuci dulu deh, entar dia uring-uringan lagi kalo loe jemput pake mobil dekil begitu.” kata saya sambil beranjak meninggalkan lokasi.

Hari itu, mungkin dia lagi sial ketemu saya yang lagi edan.

Tips : kalo hidup ditanggung orang dan bisa bermewah-mewah dengan fasilitas yang dimiliki orang lain, please, jangan berkoar-koar. Bila anda berani berkoar-koar, anda berarti berani terima akibatnya.

Posted by: Reva Liany Pane | October 24, 2009

Bukan Wonder Woman

Waktu saya ceritakan tentang hal ini pertama kali pada rekan-rekan penyiar di kantor saya dulu, respon yang keluar antara lain adalah:

“Dasar Mbak Lee tee-aaa!

“Gila loe, Lee!”

“Busett, mbak Lee udah kayak Wonder Woman aja,”

Begitulah respon yang saya terima saat menceritakan peristiwa yang terjadi pagi harinya di sekitar kampus almamater saya.

Wonder Woman

Cerita ini sebenarnya terjadi sudah agak lama, kira-kira lima tahun lalu. Pada suatu pagi setelah mengantarkan seorang teman ke stasiun, saya yang mengendarai motor dipepet oleh sebuah motor yang dinaiki dua anak lelaki. Kenapa saya bilang ‘anak’, karena keduanya memang masih anak-anak bau kencur sepantaran anak SMP.

Untuk anda yang pernah ke Jogja, pasti sudah tahu bahwa umumnya pengendara motor di Jogja melengkapi dirinya dengan ‘peralatan perang’ a.k.a jaket, sarung tangan, dan masker. Ya, ‘peralatan perang’ yang dimaksud adalah peralatan melawan teriknya matahari Jogja yang luar biasa menyengat. Jadi dengan tubuh dan wajah yang dibalut oleh peralatan tersebut, maka heranlah saya ketika dua anak bau kencur tadi menjejeri motor saya dan…….

“Cewek…!” seru anak yang duduk di depan.

“Hai, cewek…!” seru anak yang duduk di belakang.

Saya bengong saking shocknya.

“Cewek mau kemana, sih?” tanya yang satu.

“Cewek godain kita donk!” seru yang satunya lagi.

Dari semula bengong, saya langsung jadi naik darah. What the f***k?!!

Saya buka masker saya dan berteriak pada mereka.

“Hei, berhenti kalian berdua! Minggir ke situ!”

Tapi dua anak itu malah tertawa terbahak-bahak. Akhirnya saya putuskan bahwa untuk situasi ini saya mampu untuk berbuat sedikit nekad. Dengan bermodalkan pengalaman ikut balapan jalanan di jaman baheula, sekaligus pengalaman kecelakaan dimana saya belajar bahwa bila ditendang orang saat mengendarai motor bisa mengakibatkan kecelakaan, maka dengan kaki yang saya angkat mengarah ke pengemudinya, saya mengancam mereka untuk berhenti atau saya tendang.

Emang dasar sableng! Gak heran kalau sampai sekarang anak kampus saya lebih mengenal saya dengan sebutan ’si mbak Kamtib’ – peranan yang saya ambil dalam dua tahun berturut-turut ospek mahasiswa baru di kampus. Ternyata saya emang bisa menakutkan di depan orang lain.

Dan berhentilah dua anak bau kencur itu, dengan tampang bingung.

Sebenarnya apa sih yang saya mau dari dua bocah tengil itu sampai melakukan tindakan se-nekad itu?

Simple. Saya mau mereka minta maaf. Saya mau mereka tahu bahwa tindakan yang baru saja mereka lakukan adalah salah satu bentuk pelecehan terhadap lawan jenis. Saya mau mereka belajar dari pengalaman ini dan tidak mengulanginya lagi di lain waktu.

Mereka tertawa sembari mengatakan, Mbok biasa wae, mbak. Ini kan sudah biasa,”

Biasa gundulmu!!

Akhirnya saya ulang permintaan saya supaya mereka minta maaf, sambil (kembali) menggertak bahwa saya akan melaporkan ke polisi atas dasar pelecehan.

Rupanya gertakan saya mengena. Dengan enggan akhirnya mereka minta maaf sambil sebelumnya menyebutkan nama dan dimana mereka bersekolah. Betul dugaan saya, keduanya masih bocah beratribut celana pendek biru alias SMP!

Komentar yang saya terima ketika menceritakan hal di atas bermacam-macam. Dari bengong, tepuk tangan, geleng-geleng sampai mengatakan kalau saya ’sok kuat’ ,  ‘cari perkara’, atau bahkan menyamakan aksi saya dengan aksi ‘Wonder Woman’. Terus terang bukannya saya tidak takut sama sekali saat melakukan hal nekad itu. Namanya aja nekad, ya modalnya cuma aksi penuh tekad aja. Kalau terjadi apa-apa, paling-paling saya teriak.

Bila sebelumnya saya pernah menyebutkan betapa banyak individu-individu yang merasa memiliki hak istimewa, maka kali ini rasanya saya ingin berteriak betapa semakin rendahnya kepedulian individu-individu yang lalu-lalang di sekitar kita saat ini.

Apa buktinya? Wong saya ikutan nyumbang untuk gempa di Padang kok. Wong saya menyantuni fakir miskin dan anak yatim kok. Wong saya rajin bayar zakat tiap bulan kok. Saya peduli kok ! – taruhan, di antara anda pasti ada yg bilang begitu.

Kepedulian tidak selalu harus dilakukan dengan hal-hal di atas. Kepedulian bisa dilakukan lewat hal-hal kecil. Misalnya, dengan mengingatkan bahwa menggoda cewek yang lewat adalah salah (seperti yg saya lakukan), sampai peduli dengan kesehatan orang lain. Anda mau merokok, silakan. Tapi jangan merokok di depan saya yang asapnya persis masuk ke hidung saya! Anda mau meludah, boleh. Tapi pilih tempat yang tepat, di toilet misalnya. Sangatlah mengherankan buat saya menemukan betapa banyaknya orang yang hobi meludah di jalan, di trotoar, di parkiran mobil, di taman, di tempat-tempat terbuka yang memungkinkan penyebaran virus lewat udara. Please tell me, sejak kapan orang Indonesia punya kebiasaan meludah sembarangan? Karena seingat saya orang tua saya pernah mewanti-wanti bahwa tidak sopan dan tidak baik untuk meludah di muka umum. Menyaksikan semakin banyak orang yang melakukannya, duhh…., sungguh pemandangan yang menjijikkan dan mengundang saya untuk menggampar pelakunya.

Beberapa minggu lalu saya melihat video tentang seorang wanita muda yang mengusir pengendara-pengendara motor dari trotoar jalan Sudirman yang mengganggu hak pejalan kaki. Kemarin saya menemukan seorang teman, Yessy Muchtar, mengusir seorang pria dari  angkot setelah dengan cueknya merokok di dalam angkot sehingga mengganggu penumpang lain. Saya, wanita muda di trotoar Sudirman, dan Yessy bukannya berlagak ’sok berani’ atau ‘cari gara-gara’. Aksi kami bukan karena ingin berlagak seperti pendekar wanita. Kami bukan Wonder Woman! Kami hanya peduli dengan hak kami dan hak orang banyak. Action speak louder than words, no matter how fast words spread!

——–

Yessy Muchtar : FYI – Jangan pernah bertemu saya di angkot, pagi-pagi, dengan asap rokok mengarah pada saya. Saya bisa suruh kamu turun dari angkot saat itu juga. Persis seperti yang saya lakukan baru saja. Terimakasih!

Older Posts »

Categories