Saya kurang suka janjian pagi-pagi di mall. Apalagi jam 10 pagi, saat mall baru saja buka. Selain karena alasan saya susah bangun pagi pas weekend, emangnya mau ngapain pagi-pagi nangkring di mall?? Bantuin cleaning service-nya bersih-bersih?? Tapi waktu Kania, seorang teman yg baru pulang jalan-jalan ke Korea dengan membawa setumpuk oleh-oleh mengajak janjian di Senayan City, saya tidak mungkin untuk menolak. Demi seperangkat kosmetik dari Korea, jam 10 teng! saya pun dengan sumringah muncul di lobby Senayan City dan melambaikan tangan pada Kania.
Saat kami cipika-cipiki di lobby, sebuah CRV abu-abu berhenti. Seorang baby sitter dengan sigap turun dan membuka pintu belakang mobil, menurunkan kereta dorong bayi. Dari pintu tengah dengan elegannya turun seorang wanita berkulit gelap mengenakan kaos pink tangan buntung dan berkaca mata hitam dengan menggendong bayi mungil. Bayi yang berkulit putih dan berambut pirang tersebut jelas-jelas mengindikasikan bahwa paling tidak salah satu dari orang tuanya adalah orang asing. Or, kalau si wanita hitam manis ini adalah si Ibu, maka jelas sang Bapaklah yang keturunan asing itu.
Dari jarak kurang dari sepuluh meter dengan mereka, sahabat saya ini mendesis.
“Huh, bibi face!“
Tanpa menunggu lama langsung saya geret Kania masuk ke dalam.
∞
Tidak sedikit teman wanita saya yang mengatakan bahwa mereka tidak bisa berpasangan dengan sesama orang Indonesia. Sebagian berasalan orang Indonesia kebanyakan aturan dan terlalu banyak memasang barrier. Sebagian mengatakan pria Indonesia membosankan, plin plan, kurang romantis dan tidak mandiri. Ada juga yang memilih berpacaran dengan orang asing karena punya pengalaman pahit pacaran dengan pria Indonesia.
Lalu apa hubungannya dengan ‘bibi face’ di atas?
Saya yakin anda semua sudah mengerti arti dari kata ‘baby face’. Bukan, bukan penyanyi kulit hitam itu! ‘Baby face’ yang saya maksud adalah mereka yang berwajah imut seperti bayi. Lalu kalau ‘bibi face’, makanan apa lagi itu?
‘Bibi face’ sebagaimana yang disebutkan oleh Kania maksudnya adalah wanita Indonesia berkulit gelap yang kerap kita jumpai mendampingi pria asing. Pasti pernah tho lihat pasangan pria bule dengan wanita Indonesia berkulit gelap? Nah, apa yang ada di pikiran anda waktu melihat pasangan tersebut?
Sudah jadi rahasia umum bahwa pria bule lebih menyukai wanita berkulit gelap. Stigma yang umum berlaku di masyarakat mengatakan wanita-wanita berkulit gelap ini umumnya adalah pencari materi dari kantong-kantong pria bule. Jadi layaknya gayung bersambut, terciptalah simbiosis mutualisme di antara mereka.
Don’t get me wrong! Saya tidak memberikan justifikasi pada stigma tersebut. Saya hanya memaparkan pandangan umum yang ada di masyarakat. Dan pandangan umum inilah yang telah menyulitkan teman saya, Naomi. Stigma yang mengatakan bahwa wanita Indonesia berkulit gelap yang jalan berpasangan dengan pria bule biasanya mengincar pundi-pundi uang mereka. Saat menggeret Kania masuk ke dalam Senayan City saya bersyukur bahwa Naomi tidak berada di situ dan mendengar komentar sadis Kania.
Naomi, dara cantik yang baru menikah dengan pria Italia ini sudah lama tahu kalau dia tidak cocok dengan pria Indonesia.
“Loe bisa bilang gw terlalu liberal, but this is who I’m,” begitu Naomi berkata pada saya suatu hari.
Naomi dalah wanita keturunan campuran Portugis-Maluku. Sarjana lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik dari salah satu perguruan tinggi negeri terbaik di Indonesia ini menguasai tiga bahasa asing: Inggris, Perancis dan Italia. Bayangkan betapa bahagianya saya yang menggemari novel-novel Agatha Christie saat menemukan tempat bertanya untuk kata-kata berbahasa Perancis yang sering diucapkan Hercule Poirot. Wanita yang saat ini bekerja sebagai news announcer di salah satu TV lokal daerah itu sama sekali tidak mempermasalahkan warna kulitnya yang gelap, sementara kebanyakan wanita justru sibuk berburu produk skin whitening terbaik. Dengan wajah cantik dan tinggi badan 170 cm, Naomi adalah salah satu wanita dengan tingkat percaya diri sangat tinggi yang pernah saya kenal. Namun demikian, Naomi terusik dengan stigma itu. Stigma bahwa wanita-wanita berkulit gelap ini adalah pencari materi dari kantong-kantong pria bule.
Suatu hari dalam rangka tugas kantor saya datang ke stasiun televisi tempat Naomi bekerja. Setelah urusan saya selesai, kami pun ngobrol. Naomi mengatakan kalau suaminya akan datang menjemput dan meminta agar saya menunggu sampai jadwal siarannya selesai. Dia mengajak saya makan malam bertiga dengan suaminya. Saat Naomi siaran, suaminya datang. Saya yang sudah kenal cukup lama dengan suaminya tanpa sungkan minta tolong untuk diantar ke mall yang berada tak jauh dengan studio untuk membeli kertas kado. Saya tidak berpikir panjang waktu itu, karena Naomi dan saya cukup dekat dan saya yakin Naomi tidak akan berpikiran negatif ataupun mempermasalahkan hal ini.
Ternyata saya salah!
Dengan sukses saya telah menghancurkan mood Naomi untuk makan malam. Saya yang tidak mengerti akar masalahnya jadi dongkol. Pasangan itu berdebat sepanjang perjalanan ke rumah saya dengan bahasa Italia yang jelas saya tidak mengerti. Beberapa hari setelah kejadian itu Naomi mengajak saya bertemu di coffee shop. Saya OK saja, saya pikir dia pasti ingin menjelaskan kejadian beberapa malam sebelumnya.
“Loe tahu gak kalo pacaran sama orang bule itu susah?”
Itu kalimat pembuka Naomi pada saya.
Saya yang pengalaman pacarannya dengan orang asing adalah dengan orang Jepang, bukan bule, jelas geleng-geleng. Naomi tersenyum kecut dan menyalakan rokok. Kemudian selama setengah jam mengalirlah curhatan hati si hitam manis ini tentang stigma menjengkelkan yang telah mengganggunya sejak menjalin hubungan sampai akhirnya menikah dengan suaminya yang berkebangsaan Italia itu.
“Gw sering disangka pecun!!”
Ujar Naomi getir. Pandangan mata menghakimi itulah yang ditujukan padanya setiap ia berjalan berpasangan dengan suaminya.
“Mulai dari cowok bule, cowok Indonesia, sampe tukang ojek mikirnya gw cewek yg bisa dipake! Sial!!”
Selanjutnya ia bercerita bagaimana beberapa laki-laki datang dan meminta nomor teleponnya waktu suaminya ke toilet, ataupun bagaimana tukang ojek ujung gang bekas kontrakan suaminya yang menawarkan jasa langganan antar-jemput yang bisa dihubungi via telepon in case Naomi butuh cepat sampai ke tempat ‘klien’.
“Langsung gw tonjok tu tukang ojek!!” katanya berapi-api.
Masalah Naomi tidak berhenti di situ. Yang bersangkutan juga harus berhadapan dengan wanita-wanita peminat kantong pria bule yang juga mengincar suaminya. Dan jangan salah, kebanyakan wanita-wanita itu berpikir bahwa Naomi adalah salah satu di antara mereka. Naomi pernah gontok-gontokan di tempat parkir sebuah klub gara-gara seorang di antara mereka berkata kalo dia sok innocent, padahal ujung-ujungnya sama aja – harta yang diincar.
Sejak menjalin hubungan dengan suaminya, Naomi belajar bahwa dunia pergaulan ekspatriat ternyata sempit. Atau mungkin juga dunia pergaulan suaminya yang sempit – tambah Naomi. Pria asing yang ditemuinya itu-itu saja dari waktu ke waktu, walaupun pasangan mereka tidak selalu sama. Karena itulah Naomi selalu mengusahakan suaminya hanya hang out dengan dia, hanya makan di luar dengan dia, hanya berjalan berpasangan dengan dia, pokoknya ngapain dan kemana pun harus dengan dia! Sangat penting untuk menjaga image bahwa mereka adalah pasangan baik-baik, sehingga suminya tidak dilirik wanita-wanita gatel. Dan itulah alasan mengapa Naomi marah pada saya tempo hari.
“Dengan jalan sama loe, bisa memberikan kesan kalo suami gw available in the market. Itu yang gw hindari!” ujar Naomi.
Saya mengangguk-angguk. Hal ini belum pernah mengusik saya. Saya tahu bahwa stigma itu ada, namun saya berpikir hanya orang yang shallow saja yang mencap seperti itu, bahwa wanita yang jalan dengan pria asing adalah wanita matre. So, tell me, apa yang sesungguhnya ada dalam pikiran anda setiap melihat wanita berkulit gelap berjalan berpasangan dengan pria bule?


