Marry The Rich

Wanita Korea Kaya Raya Mencari Jodoh
Jumat, 19 Juni 2009 | 14:50 WIB
SEOUL,KOMPAS.com - Hampir 400 orang pria Korea Selatan mengikuti kompetisi untuk menikahi seorang perempuan pengusaha dengan kekayaan sekitar 18 juta dollar (Rp 180 miliar).
Para pria itu merespons iklan di situs kontak jodoh Sunoo. Perempuan berusia 49 tahun itu dilukiskan Sunoo sebagai orang yang “elegan, ramping, feminim dan aktif” dan sedang mencari “belahan jiwa”.
Delapan finalis telah dipilih dari 394 pelamar yang usianya antara 37-49 tahun mulai dari pegawai perusahaan, guru, dan pekerja bank. “Sebagai pengusaha dia terlalu sibuk menemukan suaminya. Calon mempelai wanita memilih orang biasa namun orang yang serius untuk mengikuti kegiatan eksekutif tinggi,” ujar juru bicara Sunoo.
Wanita yang tidak disebutkan namanya itu menikmati olahraga, perjalanan dan dia menginginkan seorang pria untuk “menghangatkan hatinya”. “Dia menginginkan belahan jiwa dengan semangat hidup yang akan berbagi dalam sedih dan senang serta dapat menghabiskan waktu dalam perjalanan bersamanya,” ujar juru bicara Sunoo.
Jutawan itu berencana mewawancarai dua atau tiga dari delapan finalis setiap bulan sampai dia menemukan pasangannya.
Dua bulan belakangan ini media massa (baca : infotainment!) kita ribut dengan kasus Manohara dan Cici Paramida. Keduanya, yang sama-sama menjadi korban KDRT, dinilai menikahi pasangan masing-masing karena tergiur kekayaan yang ditawarkan oleh pasangan mereka.
Jujur, buat saya sendiri, apa yang salah sih dari wanita untuk menikah karena harta? Toh, kaum pria juga bisa melakukan hal yang sama seperti yang diceritakan artikel di atas. Let’s just mind our own business

Define Me ‘Strong’!
Di pagi hari begitu saya melangkahkan kaki ke kantor, saya merasa bahwa hari ini harusnya adalah hari terindah di minggu ini. Tidak banyak kerjaan menumpuk di meja dan saya bahkan bisa mengerjakannya dengan santai. Tapi perasaan bahagia itu langsung lenyap begitu di rapat rutin divisi si bos memberikan tanggung jawab baru pada saya. Di akhir meeting, mungkin dengan maksud memuji ia berkata,
‘Saya tahu kamu bisa. Kamu kan’ kuat.’
Saya langsung mendidih. Kalau saya mendengar kata itu sekali lagi saja di minggu ini, saya pasti akan kalap.
∞
Tujuh tahun lalu saya patah hati. Lelaki itu memilih dia, yang feminin dan lemah gemulai, daripada saya. Pada saat itu saya tidak berpikir karena perempuan satu itu lebih feminin daripada saya makanya sang pria idaman saya ini jatuh cinta padanya. Saya percaya alasannya hanya satu, karena ia jatuh cinta pada si wanita lemah gemulai itu sejak PANDANGAN PERTAMA. Yup, pandangan pertama. Seperti yang diakuinya disela-sela tayangan babak pertama Final Piala Dunia, Perancis vs Senegal. Harus saya akui, kenangan itu memang membekas dalam diri saya sehingga saya hapal detilnya.
Hari itu ia menelepon pagi sekali, membuat saya sumringah karena harapan yang tiba-tiba naik. Saya berpikir mungkin saja ada rasa rindu yang terselip di hatinya setelah seminggu kami tidak bertemu. Dia meminta saya datang siangnya, dengan pesan yang membuat harapan saya semakin naik tinggi.
‘Siarannya mulai jam satu, jadi jangan telat ya. Ada yang mau aku bicarakan sebelumnya sama kamu.’
Dengan jantung berdetak tak karuan, saya datang siangnya. Saya masuk dan menemukan dia sedang menempelkan beberapa foto di dinding kamarnya. Beberapa foto dengan figur yang sama, ia dan seorang wanita. Mendadak ada perasaan tak enak muncul.
‘I want u to be the first to hear this good news. I ‘m in a relationship. With this girl. Amazing isn’t it? Yeah, I know u don’t know her yet, but you’ll get to know her soon…, ‘
Dan begitu saja, saya dihempaskan ke dasar jurang yang paling dalam. Laki-laki itu, yang saya yakin tidak bodoh untuk menangkap sinyal-sinyal cinta saya, memberi saya kehormatan sebagai orang pertama yang mendengar kisah cinta barunya dengan wanita antah berantah langsung dari mulutnya.
Tahun demi tahun berganti, sampai pada beberapa hari lalu ketika akhirnya saya bertemu pria ini kembali. Single, as attractive as before, telling that deep inside he always loves me along the way.
Saya terkejut. Tidak ada perasaan yang tersisa untuknya lagi saat ini, namun tak urung saya tergelitik untuk bertanya : why? Why are you telling me this now? Why not before? And the most important, when did u start to feel that way about me?
Sesaat ia terdiam, menawarkan kotak rokoknya pada saya yang segera saya ambil sebatang. Setelah beberapa hisap rokok, perlahan ia menjawab.
‘Lee, aku selalu sayang sama kamu. Waktu Alina menyatakan cinta padaku, I couldn’t say no. Dia bisa bunuh diri! Lalu saya pikir, karena kamu kuat, kamu mampu bertahan dan akan selalu ada di sana untuk saya. Yah, sampai saya membereskan semua urusan dengan Alina.’
And I shocked!
Rokok yang juga baru beberapa kali saya hisap itu pun terjatuh dari tangan saya.
Damn!!! Lelaki yang (pernah) saya cintai itu ternyata lelaki kerdil. What the hell is this? Which part of me refered you to ’strong’?!
Saya memutar balik kenangan-kenangan lama bersamanya. Frame demi frame keberadaan dia dan Alina, wanita itu, terbayang di kepala saya dan membawa kembali luka lama. It’s true what they said, heartbreak wound never really heals!
Saya me-recall kembali moment-moment itu, mencoba dengan keras mengingat-ingat tindakan, ucapan, bahkan gesture yang membuat saya seakan-akan terlihat strong enough berada dalam situasi itu. Apakah karena saya berkata ‘I am happy for you’ saat ia mendeklarasikan hubungan asmaranya, atau karena saya dengan senang hati meminjamkan motor saya padanya saat ia harus menjemput kekasihnya di stasiun, atau karena saya tidak menangis dan mengancam bunuh diri bila ditolak?! Which part?! Because if I’m not mistaken, I did leave u in the end because I’m not that strong!
Saya menyadari air mukanya berubah. Dia sadar kalau ada yang tidak saya sukai dari ucapannya. Dan saya begitu marah sampai tubuh saya gemetar. Saya pandangi ia dari bawah ke atas tanpa sanggup menyamburkan apa yang ada dalam pikiran saya. Selalu begitu bila seorang Lee sedang emosi tingkat tinggi.
Dasar laki-laki bodoh! Did you really think that just because I took the hit and stayed long enough in ‘just friends’ zone meaning I strong enough to do that?!
It’s actually simply the sign that I didn’t have the strength to talk about my feelings and face the possibility to lose you, you stupid guy! Because even though people call it ‘heartbreak’, it actually feels like every part of my body is broken too!
God, what’s with u guys? What’s with u people?!
Apakah karena seorang wanita tidak mampu menangis di depan kalian lantas kalian anggap ia ‘kuat’?! Apakah karena saya selalu mencoba untuk mencapai target dan tidak pernah complain lalu kalian pikir saya ‘kuat’ untuk menanggung pekerjaan yang seharusnya dikerjakan tiga orang?! Apakah karena saya seorang perfeksionis lalu anda bisa me-refernya sebagai ‘kuat’ juga?!
DEFINE ME ‘STRONG’!