Maaf Lahir Batin

Mengucapkan :

“Selamat Idul Fitri 1431 H. Mohon maaf lahir dan batin untuk segala khilaf dan kesalahan”

– Reva Lee Pane

Advertisements

Teori Capcay

Namanya Nita. Dan pria yang ada di hadapannya bernama Roni.

“Ayolah, Ta. Ngapain nonton TV di kost, kita makan aja yukkk!” bujuk Roni.

Nita mengangkat wajahnya, ekspresi bosan sedari siang yang terpasang di wajahnya tak kunjung berubah.

“Makan apa?” tanyanya pendek.

“Gimana kalo kita makan Capcay? Kan loe suka sayur tuuuhh! Capcaynya Mas Dikun masih buka jam segini. Gw traktir deehhh…!!” jawab Roni dengan nada jumawa. Nita memandangnya lurus tanpa berkedip.

“Ogah!! Kalo di McD gw mau!” sahutnya jutek.

Roni terpana.

Bidadari yang dipujanya tak disangkanya punya sifat matre.

“Ehmm…., oke…., gak papa… Yuk, kita jalan,” ujar Roni pelan. Dalam otaknya saya bayangkan mahasiswa Teknik Sipil UGM angkatang ’99 itu sedang mengkalkulasi berapa biaya hidup yang tersisa di koceknya setelah mentraktir Nita. Yah, paling tidak sampai seminggu lagi, setelah PNS gajian dan bapaknya transfer duit padanya.

Nita beranjak dari duduknya. Tidak butuh waktu lama untuk wanita muda satu ini bersolek di depan kaca. Cukup mengoleskan lip gloss dan menepuk-nepuk loose powder di pipinya sesaat, voila, tidak lebih dari 5 menit ia pun siap sudah.

“Ayo, kita jalan!” serunya pada Roni sambil menyambar tas tangannya.

Saya geleng-geleng melihat mereka berdua dari ruang makan.

Kurang dari dua jam pasangan itu pulang. Roni pamit dengan muka cerah. Mungkin uang 50 ribu rupiah yang dikeluarkannya akhirnya tidak terbuang percuma. Saya mencegat Nita di depan pintu kamarnya.

“Matre loe!” Kata saya ketus. Nita memandang sejurus, lalu bertolak pinggang.

“Gue? Matre? Gak salah loe?!”

“Lah, ngapain loe pake acara minta ditraktir McD segala?! Kasian kan’ dia gak punya duit! Kalo gak mau bilang gak mau, jangan manfaatin orang!”

“Gw? Manfaatin?! Kayaknya jalan pikiran loe musti dibalik!” Nita menunjuk hidung saya.

“Dia udah gw tolak bolak-balik, tapi teteeep aja dateng teruss!! Dari yg gw tolak baik-baik sampe akhirnya gw naluriah pengen judesin tiap liat tampang dia! Mustinya dia sadar, kalo buat gw perjuangan meluangkan waktu sama dia. Jadi apa salahnya dia ngeluarin uang lebih utk hasil yang lebih? Toh, gw bisa ceria juga walaupun karena McD, dan dia puas kan?! Dia bisa seneng juga biarpun gw suruh cepet pulang!”

Saya bengong.

“Minggir loe!” perintah Nita judes.

“Gw gak mau jadi kayak elo,” cetus saya lugu.

“Gw juga gak mau jadi kayak loe, bisa-bisanya jatuh cinta tanpa perhitungan!”

BRAK!!

Damn!

Words

Hari ini adalah hari ulang tahunmu. Anehnya, aku malah teringat dengan hari ulang tahunku.

Di tanggal tersebut sepuluh tahun lalu sebuah paket ringan bersampul coklat datang ke tempatku. Paket itu darimu,  bertuliskan nama dan kota tempat di mana aku meninggalkanmu setahun sebelumnya. Tanpa menunggu lama kurobek sampul coklatnya. Well, kau tahu aku bukan wanita yang sabar. Dan aku tertawa terbahak. Meluncur di tanganku : Jean Paul Sartre  – “Kata-Kata”.

Kau tahu, yang paling kuingat adalah ketidakmampuanmu berkata-kata tentang perasaanmu. Satu tahun yang kita lewati sebelumnya mungkin hanya dipenuhi kata-kata rayuan dan pujian dariku akan dirimu. Sayang, waktu itu aku memang menggombal. Tapi aku menggombal dengan ikhlas. Dan percayalah, aku memilih untuk duduk selalu di bangku belakangmu karena aku memang suka melihat punggungmu.

Maka saat kau berkata bahwa yang paling membahagiakanmu adalah menari di tengah hujan bersamaku, aku tahu kalau kau mengatakan yang sebenarnya. Yang kusesali justru adalah kata-kataku yang kerap membawamu ke atas awan dan menghempaskanmu lagi ke dasar bumi yang paling dalam.

Kau, pria yang kutinggalkan sepuluh tahun lalu. Bila sampai pada suatu waktu kau membaca tulisan ini, tidak peduli kau mengatakannya atau tidak, kau selalu dapat mengandalkanku untuk membaca pikiranmu.

Remaja dan Sepeda Kumbang

Ada sebuah masa di mana saya sedang beranjak dewasa dan musik Indonesia sedang bagus-bagusnya. ‘Bagus’ di sini pastinya berkaitan dengan kualitas dan selera pribadi saya, ya. Jadi, save your opinion for yourself untuk definisi apa itu musik Indonesia yang bagus sebenarnya. Tidak usah kita perdebatkan, mari kita skip hal yang satu itu :mrgreen:

Pada masa itu, yang saya kerjakan tiap sebelum dan setelah pulang sekolah adalah nongrong di samping radio, mendengarkan satu demi satu lagu yang diputar dan celotehan penyiarnya. Dan saya tak pernah bosan. Maka tak salah bila saya pernah bercita-cita menjadi seorang penyiar, profesi yang dalam alam pikiran saya waktu itu terbentuk sebagai profesi paling keren,  gaul dan membahagiakan.

Keren, karena jarang sekali waktu itu anak sekolah seusia yang berpikiran untuk menjadi seorang kapiten penyiar.

“Loe mau jadi penyiar, Lee? Wah, kereeennn……,” respon seorang teman waktu itu, yang langsung menyesali jawaban ‘dokter’ yang dicantumkannya pada kolom ‘cita-cita’ di buku Bimbingan Kariernya :mrgreen:

Gaul, karena penyiar saat itu kesannya kok kenal siapa aja, ya. Bucek Depp? “Softrockers, kmrn gw gak sengaja ketemu sama Bucek Depp di McD Sarinah….. bla…. bla…..,” begitu ujar seorang penyiar pada suatu sore. Titi DJ? “Loe tau gak Kampungalitan, kalo gaya busana para aktris pada serial Friends menginspirasi gaya berpakaian selebritis kita juga? Waktu gw tanya Titi DJ kemaren…. bla…. bla…..,” tuh kan!! Kapan-kapan gw ketemu Titi DJ?! Apalagi Bucek Depp!! Yah, mungkin gara-gara gw ke McD Sarinah juga ada per-enam bulan sekali, makanya mau liat dari jauh aja gak kesampaian 😦

Dan penyiar adalah profesi paling membahagiakan, karena apa sih yang lebih membahagiakan dari menyenangkan orang lain? Plus, dengan menjadi penyiar seseorang juga mendapat bonus pengetahuan yang luas yang didapatkannya sebagai modal bercuap-cuap.

Maka pada suatu hari, di tengah hari bolong, seperti biasa Reva Lee remaja nangkring dengan setia di samping radio merk Panasonic milik Pak Pane yang biasa digunakannya untuk memutar lagu-lagu dari Alm. Broery Marantika. Di siang bolong itu sebuah radio memutar lagu Indonesia paling merasuk sekaligus paling indah yang saya dengar di tahun itu.

Oh jauh sekali rumahmu
Kangen rindu semua ada
Selalu ada untukmu kekasih

Kukayuh sepeda kumbangku
Kuberhayal andai dapat
Mengantarkanku sampai ke rumahmu

Kuingin menikmati sepenggal malam ini
Ku tak tahu adakah dayaku

Seandainya aku bisa terbang
‘Kan kujelang engkau kekasih
Seandainya aku bisa terbang
‘Kan kugapai engkau kekasih
Dan kupeluk engkau sungguh
Untuk selamanya

Kahitna – “Seandainya Aku Bisa Terbang”


Keesokan harinya tanpa berpikir dua kali lagi, saya rushing menuju mall yang terletak di dekat rumah demi membeli album pertama dari Kahitna – “Cerita Cinta”. Reva Lee remaja ingin mendengarkan lagu ini kapan pun dia mau tanpa harus menunggu penyiar radio bersedia memutarkannya.

Tanpa perduli bahwa album itu menguras kocek sebesar enam ribu rupiah, yang tinggal segitu-gitunya saya miliki sampai Bu Pane memberikan saya uang jajan lagi di akhir bulan. In the end, Reva Lee remaja memang harus rela berjalan kaki sepanjang 5 km memotong lapangan Golf selama seminggu tiap pulang sekolah sebagai kompensasi.

Album itu sodara-sodara, adalah album pertama yang pernah saya beli. Album penuh kebanggaan, penuh perjuangan dan menjadi kenangan yang akan selalu membawa senyum simpul setiap muncul dalam ingatan. Anda? Jangan-jangan anda malah belum pernah beli album original!  😆

Sekarang kemana album itu ya?



Capek Sama Jakarta

Gramedia Matraman discount bow…!! Temen gw beli novelnya Sophie Kinsella cuma 10 ribu!!

Begitu bunyi SMS yang masuk ke HP saya minggu lalu. Sebuah SMS berisi pengumuman obral buku besar-besaran di Gramedia Matraman menjadi jawaban dari ketidakhadiran si teman di tempat di mana saya menunggunya malam itu. Doski yang baru saja landing dari Kuala Lumpur ternyata bela-belain menghajar lalu lintas sore Jakarta dari bandara Soekarno-Hatta demi penawaran menarik ini, daripada mengantar oleh-oleh buat saya. Hiks….

Maka saya pun tidak mau kalah.

Pencet-pencet HP, telpon sana-sini, dan tercapailah kesepakatan untuk menyambangi Gramedia Matraman hari sabtu kemarin dengan seorang sahabat pria. Rencana kami buat dengan cermat.

“Jam 9 pagi loe jemput gw dulu, kita hairmask di salon Tante gw. Abis itu cabut ke Gramed Matraman, trus lanjut ke Late Night Shopping Plaza Semanggi, ok?”

“Deal!” kata teman saya, lelaki ganteng yang sudah dua bulan ini kelimpungan cari salon yg “pokoknya hair stylistnya bukan banci!” untuk melakukan treatment satu itu pada rambutnya yang disinyalir mulai rusak.

Maka datanglah ia jam 9 pagi lewat banyak, khas orang Indonesia. Tanpa banyak ba-bi-bu saya langsung naik ke boncengan motor, dan kami pun berangkat menuju hair studio milik Tante saya. Hair mask selesai dilakukan pukul 12.30 WIB. Dengan sedikit berbasa-basi pada si Tante, kami pun pamit. Cengangas-cengenges demi membayangkan tumpukan buku diobral dan mall yang banting harga.

Tanpa terbersit sedikit pun betapa beratnya perjalanan yang harus ditempuh ke ranah tujuan itu.

Pukul 13.07 WIB – Kalimalang

Ban belakang bocor

“Untung deh, ada tambal ban tuh,” Kata teman saya sambil menunjuk tambal ban yang letaknya tak sampai 10 meter dari tempat motornya terhenti.

“Ganti ban gak, bang?” tanya si tukang tambal ban dengan dialek Bataknya yang kental.

“Gak usah, tambal aja. Ini ban dalam juga saya baru ganti,” jawab teman saya. Saya? Duduk anteng di kursi kecil sambil kipas-kipas.

Dalam 15 menit, beberapa motor datang dengan keluhan yang sama. Saya mulai curiga.

Ban selesai ditambal. Kami meneruskan perjalanan.

Lima menit kemudian….

Ban bocor lagi

“Hah?! Kok bocor lagiii?? Sial nih tukang tambal ban!!”

Yak! Ban belakang yg tadi ditambal bocor lagi. Padahal jaraknya gak sampai 500 meter dari tempat tukang tambal ban tadi.

“Lee, loe naik taksi aja ya. Gw mau samperin lg itu tukang tambal ban!” Seru teman saya sambil menggeretakkan gigi. Akhirnya saya naik taksi dengan hati gak enak berhubung teman saya itu pastinya harus lari-lari menuntun motor kembali ke tempat si tukang tambal ban di tengah terik matahari, sementara saya malah enak-enakan duduk santai di taksi.

Sampai di Gramedia Matraman

Pukul 14.37

Gramedia Matraman

Bersuka cita. Akhirnya sampai juga di tempat yang diidam-idamkan. Setelah menenteng 10 buku dalam tas belanja, teman saya datang.

“Gimana? Gimana? Loe apain tuh tukang tambal ban?”

“Sialan! Dalam radius 200 meter gak ada tukang tambal ban lain selain dia..! Udah abis gw marahin, akhirnya tetep aje gw ganti ban di dia..! 40 ribu, damn! Padahal tempat lain paling cuma 30 ribu…!!” bersungut-sungut teman saya menceritakan kejadian di tukang tambal ban.

Untungnya…. obral buku di Gramedia Matraman itu BENERAN obral. Gak lama mukanya kembali cerah terjun ke lautan buku murah.

Satu setengah jam kemudian…

Pukul 16.00

Cari Makan

“Cari makan, yuk. Gw tau tuh soto yang enak dekat sini,” kata teman saya.

“Yuuukkk!!” Makan gitu loh, dan tentunya sudah pasti Reva Lee bakal ditraktir :mrgreen:

Tapiiiii………..

Pukul 16.20 – Perempatan Matraman

Ciiitt…! – lampu merah, teman saya menghentikan motornya di sebelah kanan jalan, dekat pembatas Trans Jakarta, karena kami akan belok kanan. Motor doski persis berada paling depan sejejeran dengan mobil.

Tiinnn…!! Tiiinn….!! Motor di belakang meng-klakson. Teman saya cuek. Saya juga cuek. Kami tidak melanggar lalu lintas.

Tiiinnn….!! Tiiiinnnn….!! Beberapa motor lain mulai ikutan mengklakson. Teman saya cuek. Saya juga masih cuek. Kami tidak mau melanggar lalu lintas walaupun motor-motor di belakang kami memaksa kami untuk melanggar.

Tiiiinnnnn….!! Tiiiinnnnn…..!!

“Mas, maju aja Mas…!! Jangan ngalangin jalan..!! Gak apa-apa kok, maju aja…!!” seru seorang pengendara di belakang. Teman saya yang kesal akhirnya membuka kaca helm dan membalikkan badan. Menatap dengan pandangan kesal.

Sejenak bunyi klakson terhenti.

Reva Lee ikutan menatap satu-persatu pengendara motor di belakang. Sebel, ini motor-motor rese’ kayak  kebelet ke belakang semua lagaknya…

Lampu hijau menyala. Kami kembali melaju.

Pukul 17.02

Rumah Makan Mie Ayam (berhubung sotonya gak buka)

Selesai makan.

“Bow, pulang yuukk…. Gue kok rasanya capek banget ya….,” cetus saya.

“Iya…., gue juga. Capek sama Jakarta….,”



Unnecessarily Intimidated

Buzz!!

Lee

Loe pasti mikir betapa enaknya kerjaan gw sampe gw bisa bolak-balik ke Starbucks tiap kehabisan kopi

Atau creambath di salon gedung sebelah pas jam kerja

Itu semua bukan karena gw sengaja milih profesi yg kerjanya cuma ongkang-ongkang kaki doang!

Sekretaris Direksi itu aslinya gak seperti itu!

Tapi itu karena proyek kantor gw udah jalan!

Kerjaan gw jadi lebih ringan

Direksi gw juga lebih sering di Riau daripada di kantor gw

Jadi jangan sekali-kali loe berpikiran kalo gw gak ada kerjaan!!

Kelakuan loe bikin gw tersindir, tauuu….!!

Dan yang lebih nyakitin…., loe kayaknya gak nyadar dan loe terus melakukan itu

………

Saya diprotes oleh seorang teman lewat sepenggal isi YM di atas. Mayke, wanita cantik dari kantor ujung selasar di lantai yang sama yang berkawan dengan saya sejak hampir 3 tahun lalu ini melayangkan protes pada saya.

Semenjak enam wanita muda pengacara dari kantor di ujung selasar yg lain mulai sering bergabung dalam makan siang yang dulu hanya terdiri saya, Mayke, dan Wennie (sebelum cewek yg disebut belakangan ini pindah kantor 2 bulan lalu), perlahan saya merasakan ada yang terusik dalam diri Mayke.

Awalnya hanya dari percakapan seputar kelas menengah negeri ini. Ternyata, percakapan yang saya buka dengan ringan ini disambut dengan sangat menarik oleh mereka. Tak urung saya jadi semakin tertarik membahas lebih lanjut karena sedianya topik itulah yang diusung media saya beberapa minggu setelahnya. Perbincangan seputar kelas menengah itu seingat saya lalu berkembang ke arah akronim baru dari negara-negara yang diprediksi akan menjadi pemimpin ekonomi mendatang (mendatang = entah kapan, maksudnya), Chindonesia – China, India dan Indonesia.

Percakapan yang, terlambat saya sadari, ternyata sulit diikuti oleh Mayke.

Berlanjut ke obrolan ringan seputar musik, di mana salah seorang wanita pengacara itu mengajak saya nonton konser ‘Kings of Convenience’ di Ritz Carlton. Mayke yang baru saja beli (kalo gak salah) CD bajakan kompilasi ST 12 terlihat sedikit bete di kursinya.

Sampai kemarin siang, saat saya menganjurkan salah satu dari wanita-wanita pengacara yang tak sengaja berpapasan dengan saya di toilet dan mengajak saya menyambangi Caramel Frappuchino di Starbucks gedung sebelah, untuk lebih baik mengajak Mayke ke Starbucks daripada saya.

Dan Mayke marah. Meninggalkan penggalan YM di atas yang saya temukan setelah makan siang.

Tak ayal saya terkejut. Penggalan YM di atas saya baca berkali-kali sebelum akhirnya melanjutkan ke penggalan yang lain.

Gw tahu, loe mungkin mikir gw wanita yang gak punya ambisi

Tapi gw sama sekali gak seperti itu!

Gw juga pengen punya karier yang bagus!!

Gw juga berperan membangun kantor gw sampe jadi kayak sekarang ini!

Gw sekretaris direksi, tapi gw sendiri yang turun ke lapangan untuk ketemu warga dan dialog soal pembebasan lahan…! Gw gak pernah cerita aja sama loe!

Jadi, bukan karena gw sekarang santai banget berarti gw gak punya ambisi!

Loe salah!! Loe salah besar!!!

Saya garuk-garuk.

Duh, Mayke…

Sebenarnya andai aku punya waktu sepuluh menit saja untuk keluar dari data-data yang menumpuk di meja dan suara atasan yang cempreng dan demanding, daripada kopi aku lebih butuh menarik rambutmu yang kerap dikuncir kuda. Melihat kamu marah-marah dan berteriak, “Extension gueeee….., extension gueeee……, ati-ati itu extension guee…!!” – akan jauh lebih menyegarkan daripada Caramel Frappuchino yang membasahi kerongkongan. Kalau saja kamu tau kenapa aku menyarankan Desy mengajak kamu waktu itu adalah karena aku yakin, wajah sendunya yang tampak setelah dimarahi atasannya akan tersegarkan oleh keceriaanmu daripada Mocchacino kesukaannya.

Duh, Mayke…

Jangan kamu hiraukan kami-kami yang sok pintar dan bicara soal politik – ekonomi negeri ini!!