A Cry

I don’t cry easily.

Itulah mengapa mereka tidak menyukai saya. Kadang, saya pun begitu.

Tapi saya tahu, kamu tidak akan membenci saya karena itu. Lebih daripada siapa pun, kamu satu-satunya yang dapat melihat jauh ke dalam dan menemukan bagaimana diri saya sebenarnya. Saya tahu kamu akan memaklumi. Saya tahu kamu hanya akan tersenyum penuh pengetian seperti biasanya saat kita bicara tentang topik favorit kita, saya. Namun demikian, saya akan tetap meminta maaf padamu. Saya tak pantas berlindung di balik alasan atas habisnya persediaan air mata saya.

Kamu yang telah sangat baik pada saya, mohon maafkanlah wanita ini yang dua minggu lalu tidak menitikkan air mata setetes pun. Maafkanlah wanita ini yang dua minggu lalu tidak bergeming dari balik laptop dan dua monitornya sementara suara di telepon genggam dengan terisak mengabarkan kabarmu.

“Lee, mas telah meninggalkan kita semua…………….,”

Ia di balik telepon genggam itu terus menangis terisak. Saya tidak ingat bagaimana kami menyudahi pembicaraan itu. Namun saya terus teringat perjumpaan pertama saya dengan kamu.

Saya tidak menangis saat kita pertama bertemu, sebagaimana dua minggu lalu pun begitu. Padahal saya bertemu kamu untuk membantu saya menangis. Orang-orang jenuh, saya pun jenuh. Kala itu semua menyimpulkan sudah saatnya saya harus menangis keras-keras. Lalu mereka pun menyarankan saya bertemu denganmu. Tidak disangka, kamu malah menyumbat salurannya sehingga air mata yang persediaannya sudah sedikit itu semakin seret keluar.

Air mata bukan bagian dari cerita kita.

Saya pernah mempertanyakan ini dalam diri saya. Mengapa? Mengapa kamu biarkan yang lain berlari mengadu padamu dan menangis dengan keras? Sementara pada saya kamu malah membicarakan Spongebob Squarepants dan fenomena Facebook.

Air mata ternyata memang tidak pernah menjadi bagian dari cerita kita.

Ya, saya teringat akan hal itu. Itulah mengapa saya sangat yakin kamu akan mengerti mengapa setelah dua minggu ini, saya menangis.

Kamu yang mampu melihat ke dalam diri dan menemukan siapa sebenarnya saya, kamu tahu bahwa kamu tidak akan pernah terlupakan.

Selamat jalan sahabat, kakak dalam perjalanan hidup.

Selamat jalan Mas Seno….

Advertisements

When You Cry

Waduh… Jika Menangis Tianna Bisa Meninggal

Selasa, 10 November 2009 | 10:23 WIB

LONDON, KOMPAS.com — Sepintas tak ada yang berbeda dengan Tianna Lewis McHugh. Layaknya bocah berusia dua tahun, dia senang bermain dan tertawa. Namun, jangan sampai Tianna menangis mengingat akibatnya yang sangat fatal. Dia bisa meninggal jika menangis.

Sebenarnya wajar jika seorang balita menangis, tapi tidak dengan Tianna. Dia menderita reflex anoxic seizure (RAS), yaitu hanya dengan menangis bisa memicu kematiannya. Saat mengalaminya, kulit Tianna berubah menjadi putih, tubuhnya mengeras, jantungnya berhenti berdetak, dan berhenti bernapas.

Orangtua Tianna, Ceri Lewis dan Andy McHugh, harus berjuang setiap hari agar putrinya tidak menangis. Ibu Tianna, Ceri (23), histeris ketika mengetahui kondisi putrinya untuk pertama kalinya.

→ The rest can be found here.

We used to call ourselves as best friends for life. Saya dan Sabrina. Ya, kami berdua adalah sahabat sejati sepanjang hidup. Saya sering tertawa setiap kali kami mengucapkan kata-kata itu : best friends for life – sounds heavy. Pernah sekali waktu setelah mendengar kata-kata itu disebutkan, kami berpandang-pandangan.

“Are we could be defined as one too? Best friends for life?” tanya Sabrina.

“What do you think?” Saya bertanya balik.

“Hmm…., yeah. I think so. Mungkin tipe yg paling aneh dari semua sahabat sejati yang pernah ada,” jawabnya, lalu tertawa. Saya pun ikut tertawa. Seperti apa yang dikatakan Sabrina, bila ada pengkategorian dalam hal sahabat sejati ini, saya pikir mungkin kami masuk dalam golongan yang aneh. Mungkin malah yang ter-aneh.

Saya dan Sabrina saling menemukan satu sama lain saat kami sama-sama dalam kondisi terpuruk. Bila Rama mengklaim bahwa memang ada yang dinamakan radar untuk mengenali sesamanya di tengah keramaian, maka saya yakin pastilah ada juga radar untuk mengenali individu-individu yang sedang terpuruk.

Kami bertemu pertama kali di riuhnya suasana klub malam. Saya dikenalkan pada Sabrina oleh seorang teman. Di antara hingar-bingar suara orang-orang yang sedang bersenang-senang, kami sampai harus berteriak untuk mengenalkan nama kami.

“Revaaa..!!” seru saya kencang.

“Sabrinaaa…!!” serunya juga kencang.

Jam 3 malam, setelah klub tutup, kami terdampar di tempat makan pinggir jalan. Saya dan teman tumpangan saya, Sabrina dan teman-teman bandnya. Kami berkenalan sekali lagi. Kali ini tanpa perlu berteriak satu sama lain.

” Reva,”

“Sabrina,”

Kami tidak menangis. Tidak ada setetes air mata pun mengalir di wajah kami saat itu. Mata kami pun tidak merah, apalagi bengkak. Saya pun tidak mengerti bagaimana, apakah karena kami sama-sama melihat serpihan demi serpihan dari hati yang remuk redam bertebaran dari tubuh kami berdua, ataukah simply karena kami sedang berada pada jurang yang sama.  Kami tidak menangis. Tapi kami berhasil menemukan satu sama lain yang sedang menangis dalam hati.

Keesokannya Sabrina berkunjung ke tempat saya. Ditemani sekotak A Mild dan Lene Marlin, Sabrina dan saya mengurai definisi dari ‘menangis’.

crying woman

Bila harus menangis, menangislah. Bila mampu menangis, maka menangislah.

Namun tidak ada yang mengharuskan kesedihan diekspresikan dengan tangisan, bukan?

Tidak. Tapi kenapa tidak? Mengapa air mata harus ditahan?

Mengapa juga air mata harus ditunjukkan?

Mengapa tidak? Untuk alasan harga diri? Kata siapa tangisan adalah milik mereka yang pengecut? Aku menangis bukan mencari simpati. Aku menangis karena aku sedih.

– Saya dan Sabrina –

Sepulang Sabrina dari tempat saya dengan membawa album Muse yang baru saya beli, saya pun akhirnya menangis.

Persahabatan saya dan Sabrina dimulai dengan cerita tentang tangisan. Persahabatan kami dibangun dari ekspresi kesedihan yang saya masih sering gagal melakukannya.  Saya yang lebih sering menangis dalam hati, dan Sabrina yang berteman dengan air mata.


Siang ini kala saya membaca artikel di atas, saya pun kembali menangis dalam hati. Bila persahabatan kami dibangun dari ekspresi kesedihan, maka semoga persahabatan yang akan dibangun bocah kecil itu kelak akan berakar dari ekspresi kebahagiaan.


Be Friends?

“Kalau berteman itu jangan milih-milih…  Gak baik….,” Begitu kata guru TK saya dulu. Kata-kata itu saat ini sering kali terngiang-ngiang di kepala saya.

female friends

Saya lagi spanneng. Saya spanneng demi melihat dia, wanita 30 tahun berkulit hitam dan berbadan gemuk yang duduk di ujung sana, tepat di sebelah meja si bos. Apa pasal?

Sebut saja namanya Ria. Usia 30 tahun. Dia masuk ke kantor saya ini setelah lima tahun bekerja di kantor lamanya. Hari pertamanya bergabung di kantor pun datanglah. Rupanya saat itu resepsionis saya telat datang, sehingga dia harus stand still di depan pintu kantor untuk kira-kira 45 menit. Di tengah-tengah langkah kaki yang terburu-buru karena hampir telat, saya melihatnya duduk dengan muka cemberut di depan meja resepsionis sambil menelepon.

“Iya, dek… Kantornya belom buka gitu… Jadi aku musti nunggu dulu… Tahu begini tadi aku gak usah pake hak tinggi, cape… Kaki jadi sakit….,”

What the hell?! Continue reading

Perfect Reason

‘Menurut loe kenapa gw harus menikah?’

Sebaris kalimat itu datang dari seorang teman lewat YM saya beberapa hari lalu. Sial, dua hari berturut-turut dalam satu minggu ini beruntun saya ditanya hal-hal yang ‘sersan’, seperti pertanyaan di atas ini dari dua sobat saya yang lagi galau. Mereka mempertanyakan apa alasan yang masuk akal buat seseorang untuk menikah.

‘Heh?!’ respon saya begitu pertanyaan dalam YM itu datang dari sobat saya, Dee. Agak merasa jengkel membacanya, wong sudah jelas status YM saya tertulis : berteman dengan deadline a.k.a sibuk.  Kok ya tega-teganya dia melakukan ini pada saya. Dee tahu kalau betapa pun sibuknya saya, saya gak mungkin bisa cuek.

Kenapa? Terlalu susah, ya? Menyita waktu kerja loe yg sok padat itu?’ tanya Dee gencar. Hmm, rupanya nona satu ini benar-benar butuh jawaban, dan butuh dijitak tiga kali saat nanti saya bertemu dengannya.

‘Kenapa sih, non? Hobinya kok ngasih pertanyaan yang bikin gerah, mbok kalo hobi itu bagi-bagi sembako ke rakyat kecil atau kirim-kirim makanan ke gw.’

‘Gw serius, Lee. Give me one damn good answer to get married!’

Jeda sesaat. Sambil berpikir saya meng-klik icon senyum di YM, lalu meng-klik icon sedih, icon tertawa, icon terpingkal-pingkal, sampai akhirnya Dee mem-buzz saya.

‘Leeeeeeeeeeeeee……………………!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!’

Ugghh……, baiklah…, baiklah……!!

‘Kenapa sih emangnya?  Loe udah dapat jodoh? Udah ketemu si mister wrait? Atau ortu loe udah desperate jadi ngejodohin loe sama Mas Gatot tetangga loe itu?’ tanya saya.

‘Wei, gw serius ini, goblok.’

Sialan, udah nanyanya maksa ujung-ujungnya malah goblok-goblokin orang.

‘Karena umur loe udah lewat 30!!!’ Saya kasih tiga pentung sekalian. Biar berasa banget penekanannya.

Jeda lama. Saya jadi gak enak. Mungkin canda saya kelewatan, kita semua tahu kalau untuk persoalan nikah menikah ini umur jadi sangat sensitif untuk seorang wanita.

‘Dee…..,’

Tiada tanggapan.

‘Dee……., ‘

Tiada tanggapan juga.

Buzz!

‘Gw diajak married sama cowok gw.’ jawab Dee.

Saya tertegun. Agak lama kemudian saya pun terpingkal-pingkal.

‘Hwahahaha……..!!!’

Ya sodara-sodara, dengan kurang ajarnya saya malah tertawa terpingkal-pingkal.  Tak lama akhirnya handphone saya pun berbunyi. Seperti yang sudah saya duga, si nona Dee ini akhirnya menelepon.

‘Lee….., gimana nih?’ Tanya Dee panik.

‘Loe jawab apa?’ Saya balik bertanya.

‘Gw belum jawab, gw bilang gw minta waktu. Dan si dia jadi bingung gitu. Secara loe tahu kalo gw udah tiga tahun pacaran sama dia…,’

Well, anda pasti bertanya-tanya mengapa Dee, si wanita beruntung ini, malah kebingungan saat sang kekasih hati melamar. Reaksi yang umumnya terjadi adalah si wanita biasanya meneteskan air mata bahagia atau berteriak-teriak jejingkrakan, tapi tidak dengan Dee. Sepertinya inilah yang kemungkinan besar akan terjadi bila anda menjalin hubungan setengah hati dengan seseorang yang hanya anda beri setengah cinta dan berjalan sampai tiga tahun lamanya. Bagaikan buah simalakama, hidup tak mampu mati pun tak mau.

Memang, pada kebanyakan sesi curhatnya dengan saya Dee seringkali mengatakan bahwa ia sebenarnya wanita berhati tidak mulia. Mengapa demikian? Karena ia wanita yang tidak dapat membalas cinta kekasihnya sepenuh hati namun tak sanggup memutuskan hubungan. Selalu dan selalu dikatakan bahwa beberapa kali ia  berniat memutuskan hubungan cinta itu, namun selalu batal dengan alasan yang menurut saya sangat masuk akal.

‘Gw gak sanggup sendiri, ‘

Mendengarnya saya pun hanya bisa manggut-manggut. Siapa sih yang mau ‘sendiri’?

Anda dan saya punya banyak teman dan sahabat, demikian juga dengan Dee. Anda dan saya punya keluarga yang hangat dan saudara-saudara yang akan selalu mensupport, begitu juga halnya dengan Dee. Tapi saya sendiri (dan anda) pastinya telah menyadari bahwa selalu ada keterbatasan untuk teman, sahabat, saudara dan keluarga menemani kita. Itulah mengapa individu-individu yang pernah gagal bercinta tak jera untuk mendapatkan cinta yang baru.

`Laki-laki seperti apa sih yang akan loe nikahi, Lee?’ Dee bertanya.

‘Laki-laki yang gw cintai, pastinya.’

Lee, love is one thing. Marriage is another thing. Gimana loe bisa tahu dia pria yg tepat untuk dinikahi? Emangnya loe sama sekali gak khawatir kalo hidup loe mungkin aja hancur di masa depan gara-gara loe menikahi laki-laki itu?!’ Well, Dee has the point.

Sejujurnya saya pernah memikirkan hal ini. Sambil ngantuk-ngantuk di sela-sela jam siaran malam saya di radio dulu, lirik sebuah lagu yang secara acak saya pilih tiba-tiba menelusup dalam diri saya. Dan saya berpikir, this is exactly what I feel when I decided to spend my lifetime with someone.

Naked and Sacred

…………………………..

“When I’m with you
I feel naked and sacred
And this world can’t be so cold
And I want to hold you naked
And sacred ‘till I grow old
Since I’ve met you (since I’ve met you)
My life has changed (my life has changed)
I feel like a bird
That has been let out of it cage”

Robert Miles feat. Maria Nayler

Sederhana sekali. Seperti itulah yang pastinya akan saya rasakan waktu saya memutuskan untuk menjalani hidup berdampingan bersama seseorang, perkara hancur atau tidak di masa depan itu perkara nanti. Sebelumnya kita harus sampai pada waktu dimanad segalanyaberjalan  lancar dan sesuai rencana. Keinginan saya adalah menikahi seorang soulmate. Mungkin begitu juga dengan anda. Mungkin begitu juga dengan Dee. But life is unpredictable.

“I know that somewhere in the Universe exists my perfect soulmate – but looking for her is much more difficult than just staying at home and ordering another pizza.”

Quote ini mungkin bisa memperjelas bagaimana life could be very unpredictable. Itulah mengapa dua orang sahabat saya, seorang lelaki dan seorang wanita, telah membuat janji untuk mulai mencari satu sama lain dan melihat kemungkinan apakah mereka bisa hidup berdampingan sebagai suami istri BILA keduanya masih single saat mencapai usia 30 tahun. Dulu saya pikir mereka berdua gila. Namun saat saya mendapat kabar kalau si pria akan jauh-jauh datang dari Jepang untuk memenuhi janjinya begitu ia mencapai usia 30 tahun September nanti, saya ikut senang. Si wanita pun walaupun malu-malu, tak menampik bahwa ia menantikan saat sahabat lelaki saya dengan siapa ia membuat janji itu datang.

Dan saya berpikir, mengapa demikian? Mungkinkah jawabannya sama dengan Dee?

Gw gak sanggup sendiri.’

Begitu selalu jawaban Dee saat ditanya. Pagi ini ketika saya mendapat kabar bahwa ia menerima lamaran kekasih yang tidak dicintainya sepenuh hati itu, saya pun bisa maklum.

“I’ve got everything I need except a man. And I’m not one of those women who thinks a man is the answer to everything. But I’m tired of being alone.”

Ada banyak alasan mengapa seseorang memilih untuk sendiri, namun di akhir lunch break yang saya gunakan untuk menulis postingan ini, saya merasakan betapa saya kagum pada anda semua single fighter yang tak letih mencari soulmate-nya.

Soulmate

Incompatible, it don’t matter though
‘cos someone’s bound to hear my cry
Speak out if you do
You’re not easy to find

Is it possible Mr. Loveable
Is already in my life?
Right in front of me
Or maybe you’re in disguise

Who doesn’t long for someone to hold
Who knows how to love you without being told
Somebody tell me why I’m on my own
If there’s a soulmate for everyone

Here we are again, circles never end
How do I find the perfect fit
There’s enough for everyone
But I’m still waiting in line

Who doesn’t long for someone to hold
Who knows how to love you without being told
Somebody tell me why I’m on my own
If there’s a soulmate for everyone

If there’s a soulmate for everyone

Most relationships seem so transitory
They’re all good but not the permanent one

Who doesn’t long for someone to hold
Who knows how to love you without being told
Somebody tell me why I’m on my own
If there’s a soulmate for everyone

Who doesn’t long for someone to hold
Who knows how to love you without being told
Somebody tell me why I’m on my own
If there’s a soulmate for everyone
If there’s a soulmate for everyone

by Natasha Bedingfield

To Tell The Truth

Is it OK to not telling your best friend the truth about her boyfriend?

Pertanyaan itu kembali muncul di kepala saya setelah memutar ulang semua DVD That 70’s Show weekend minggu lalu, weeekend yang memang sudah saya rencanakan untuk dihabiskan hanya dengan menonton ulang episode-episode dari comedy series favorit saya itu. Untuk anda yang pernah menontonnya (dan anda yang sayangnya belum pernah menontonnya), ada satu episode yang menceritakan saat Donna mengetahui bahwa Michael Kelso ada affair dengan Laurie, kakak perempuan Eric (pacar Donna), dimana pada saat itu Kelso sendiri sedang menjalin hubungan dengan Jackie (hoho…, masih ingat donk ya?). Yang mengejutkan lagi buat Donna adalah, ternyata Eric and the gank sudah tahu juga tentang hal ini. Saat Donna marah, merasa Eric (dan teman-temannya) tidak berperikemanusiaan dengan merahasiakan hal ini, Hyde mengatakan ‘Even I don’t rat on a mate.’ (check on ‘Plot Summary for “That ’70s Show” Vanstock (1999))

tube_70show

‘Even I don’t rat on a mate.’

Well, kalimat ini mengingatkan saya pada kejadian yang hampir sama yang terjadi pada saya beberapa minggu sebelumnya. Mari saya ceritakan sedikit detailnya.

Beberapa minggu lalu saya dan beberapa teman lama mengadakan reuni kecil, sebuah acara yang akhirnya terealisasi juga setelah lebih dari tiga kali terjadi penyesuaian waktu dan tempat. Salut pada teman-teman saya yang keukeuh untuk membuat acara ini terjadi. Meluangkan waktu dan tenaga untuk mengkonfirmasi setiap orang, mengeluarkan uang untuk biaya telepon-telepon setiap kali perubahan terjadi, sementara saya hanya ongkang-ongkang kaki memutuskan untuk menunggu informasi kepastian acara saja. Hehe…, maap ya teman-teman…

Seperti layaknya sebuah reuni, obrolan soal masa lalu langsung mengalir lancar. Si A mengakui kalau dulu sebenarnya sempat naksir dengan mantan pacar saya (what?!), si B bercerita bahwa selama ini ia mengetahui kalau mantan dosen kami adalah seorang gay dan sempat menjalin hubungan dengan kakak kelas kami (another shocking story), sementara si C komplain kenapa saya harus memotong pendek rambut saya yang dulunya panjang. Yeee…, suka-suka yang punya rambut donk 🙂

And after a while, meluncurlah cerita lama tentang si D dan kisah cintanya. Sebut saja teman saya si D ini dengan sebutan Ana. Saat Ana dengan ikhlas keluar sebentar  untuk menjemput seorang teman dari Jogja yang terlanjur nongkrong dan pesan makanan di tempat yang salah (dan sempat marah-marah karena dikiranya kita semua telat), entah bagaimana obrolan kami langsung terpusat pada Ana dan kisah cinta lamanya.

‘Sweaar, gw gak berani liat mukanya tiap kali papasan sama Ana. Gw gak tega…,’ cetus Dina.

‘Gw malah gak berani ngobrol sama dia lagi….,’ lanjut Ve.

‘Gw langsung pergi kalo liat motor Mas Surya parkir di depan kost. Gak jadi pulang…,’

‘Gw malah sebulan gak pulang-pulang….,’

‘Yeee….., itu sih emang karena loe lagi pulang kampung!’

Baiklah, mari saya beritahu latar belakang dari obrolan di atas. Pada saat itu kami, yang kuliah di sebuah universitas dengan terluas di Jogja, tinggal di kost yang sama. Kami sangat dekat dan kerap meluangkan waktu bersama. Ngerjain tugas bersama (walaupun jurusan kita beda semua), nyalon bersama, clubbing bersama, mengutuki cowok bersama, bahkan menangis bersama saat valentine karena keluguan kami menghadapi lelaki. Sebegitu kompaknya kami saat itu.

Lalu datanglah seorang Mas Surya, mahasiswa program S2 di universitas kami, yang saat itu telah beberapa bulan mempelajari bahasa Jepang di bawah bimbingan saya (cieee…, kalo dipikir-pikir canggih juga bahasa Jepang saya sampai bisa mengajar seorang mahasiswa S2!). Lanjut cerita, Mas Surya ini akhirnya pacaran dengan sobat saya Ana. Gimana bisa? Ini dia nih, yang selalu membuat saya mati kutu disalahkan teman-teman soal yang satu ini. Setelah acara clubbing bareng kami dengan Mas Surya dan teman-temannya, saya yang terlalu asyik ngobrol dengan komunitas R&B tidak memperhatikan adanya adegan flirting antara Ana dengan Mas Surya, dan dengan entengnya memberikan nomor HP si Mas Surya itu pada Ana keesokan harinya.

Sebuah tindakan bodoh yang begitu saja saya lakukan dan tidak mendapat pengampunan dari teman-teman sampai saat ini.

‘Loe sih Lee…!’ Kata Dina

‘Emang, gara-gara si Lee nih…,’ dukung yang lain.

Saya pun cuma bisa tersenyum masam mendengarnya. Lho, kenapa memangnya dengan semua itu? Kenapa Ana gak boleh flirting dengan Mas Surya? FYI sodara-sodara, Mas Surya adalah buaya darat berpengalaman kelas kakap.  Kami sudah mengetahuinya, sudah menghitung paling tidak saat itu dia menjalin hubungan dengan tiga wanita sekaligus (satu di Jakarta, satu di bali, dan satu di Menado), dan pada akhir tahun bertambah satu dengan masuknya Ana ke dalam daftar koleksinya. Ternyata apa yang kami tahu tidak diketahui oleh Ana. Entah bagaimana kami pun heran bagaimana hal ini bisa terjadi, karena walaupun statusnya hanya murid saya, Mas Surya lumayan dekat dengan kami. Memang harus diakui, keberadaan koleksi wanita Mas Surya di berbagai tempat itu kami ketahui bukan dari mulut Mas Surya sendiri, tapi lewat mulut Mas Tri, penjaga kost yang kerap diminta mas Surya menjawab telepon dari pacar-pacarnya.

‘Ada tiga, mbak… Ada yg di Bali, ada yg di Jakarta, trus ada juga yang di Menado.’ tutur Mas  Tri.

‘Kok bisa ya, mbak? Kayak kucing, hihihi…,.’ lanjut Mas Tri.

‘Kayak kucing?’

‘Iya. Kalo kucing kan’ menandai wilayahnya dengan mengencinginya, kalo Mas Surya dengan memacari perempuannya.’

Hal yang umum kami ketahui tentang Mas Surya adalah yang bersangkutan memang hobi travelling, apalagi dengan ditunjang sumber dana tidak terbatas dari keluarganya yang kaya, mau pergi kapan pun dan kemana pun cincailah ibaratnya. Mendengar perumpamaan Mas Tri, kami pun jadi nyengir juga. Nyengir bego.

Keadaan di kost lantas menjadi super tidak enak. Tidak ada satu pun dari kami yang berani mengatakan hal yang sebenarnya pada Ana. Beberapa di antara kami malah sengaja menjauhinya dan meminimalisir kemungkinan bertemu. Jadi seperti musuhan. Keadaan kembali normal enam bulan kemudian saat Mas Surya lulus dan cabut ke Jepang. Keadaan yang seperti musuhan berganti ke adegan hibur menghibur Ana yang merasa dicampakkan. Habis manis sepah dibuang.

Dan sampailah kita ke reuni beberapa minggu itu dimana saya jadi tergelitik, bertanya-tanya mengapa kami tidak mengatakan hal yang sebenarnya pada Ana. Mengapa kami tidak berani mengungkap keborokan Mas Surya saat itu. Bahkan sampai saat ini pun tidak ada yang berani buka mulut pada Ana dan menceritakan kalau  menangisi Mas Surya adalah sebuah kemubaziran air mata, karena kemudian kami mengetahui kalau ternyata Mas Surya sudah punya ISTRI!!

Saya pun bertanya pada mereka, teman-teman saya yang bisanya cuma menyalahkan saya tanpa mempertimbangkan kemungkinan bahwa bisa jadi sudah takdir Ana untuk menjalani hal itu. Baydewei, jangan tanya saya tentang apa itu takdir, saya juga gak tahu. I tought maybe it meant to be that way.

‘Kenapa sih kita gak cerita aja sama Ana soal siapa Mas Surya itu?’ Tanya saya.

Teman-teman saya memandang satu sama lain. Mengangkat bahu.

‘Because it wasn’t feel right,’ kata Dina akhirnya. Saya manggut-manggut.

Jujur saya merasakan hal yang sama. Mungkin bila anda dihadapkan pada keadaan yang sama, banyak di antara anda yang akan melakukan hal yang berbeda dengan kami. Beberapa di antara anda mungkin memilih untuk langsung melemparkan kenyataan ke muka Ana, dengan pertimbangan seorang teman yang baik apalagi sahabat pastinya tidak akan menjerumuskan sahabatnya. Well, it’s a good point. Itu bisa jadi hal yang benar untuk dilakukan, tapi belum tentu baik bila dilakukan. Akan halnya dengan Ana, Mas Surya itu diakuinya sebagai SATU-SATUNYA pria yang memenuhi SEMUA kriterianya. Well, another good thing to be learned, there is NO such perfection in this world. Sodara-sodara harus maklum kalau tidak ada satu hal pun yang bisa kami lakukan untuk Ana. Seperti saat saya menggertakkan gigi karena geram saat melihat seekor semut hitam menggelepar setelah terinjak kaki saya, should I kill it? Or should I just let it and watch it die? Dan seperti halnya Ana, kami hanya bisa diam (mungkin beberapa mendoakan), until a miracle came and open her eyes. Or until it goes even worst – baru mungkin kami akan bertindak.

Is it so, guys? Din? Ve? Tru? Dies? Rach?

Friends – Beneath One Rejection

Simply karena manusia tidak bisa hidup sendiri maka manusia memerlukan teman. Sore menjelang weekend minggu lalu tiba-tiba saya tergerak untuk menulis tentang ‘teman’ – yang baru bisa saya posting sekarang karena meeting mendadak Jum’at malam (sad). Agak aneh juga kenapa tiba-tiba rencana saya yang tadinya mau nulis tentang ‘Sarah Palin’ (sok-sok’an mau ngomentarin urusan politik dalam negeri orang) jadinya malah nulis tentang ‘teman’, mungkin karena sedari paginya sembari naik motor dibonceng dibelakang adik saya, saya terus-menerus teringat dengan beberapa teman saya.

Teman saya banyak (cieee….., bangga!!), tapi hanya beberapa yang saya panggil sebagai ‘sahabat’. Seperti kebanyakan orang bilang kalau kata ‘menikah’ dan ‘kawin’ itu punya arti berbeda dalam tanda petik, buat saya pun ‘teman’ dan ‘sahabat’ punya arti berbeda. Not all friends can be called as ‘sahabat’.

Keadaan tidak begitu menguntungkan bagi saya tahun-tahun belakangan ini, karena walaupun banyak teman disekeliling saya namun ‘sahabat’ saya malah tersebar sampai di Jepang sana. Sangat menyakitkan karena terkadang I do miss them so much! The least I could do adalah YM-an dengan mereka, itu juga kalau deadline lagi jauh di ujung kulon sana. Kadang saya dan mereka bisa nongol online pun, status yang terpasang adalah -busy-, sementara saya setia dengan status -Another day of busy-ness-. Hari itu lumayan menyenangkan, karena waktu saya tiba-tiba bisa sedikit longgar sehingga saya bisa menyapa seorang sahabat di Jogja yang setelah sekian lama akhirnya punya niat juga untuk hijrah ke Jakarta (Aku menunggu hari kita bisa nonton bareng, Mas Deka. Semoga waktu itu tidak lama lagi :)) Tapi karena saya sadar sesadar sadarnya bahwa waktu luang itu amatlah langka, maka saya pergunakan waktu langka itu untuk consult soal ngatur postingan saya di wordpress yang berantakan. Payah!!

Ada beberapa kejadian unik yang terjadi dalam hubungan persahabatan saya dengan segilintir sahabat itu. Misalnya dengan seorang sahabat senasib dan tidak sepenanggungan sejak kuliah di Sastra Jepang UGM dulu. Dikatakan senasib karena sama-sama mendapat dosen killer dan tugas segudang, tapi tentunya tidak sepenanggungan karena nasib nilai-nilai Ms. Nita ini ditanggung oleh sahabat saya yang lain, Mr. Edi, si jagonya tata bahasa dan conversation, sementara nasib nilai-nilai saya tentunya ditanggung oleh saya sendiri…

The story continues, sampailah ke saat saya resign dari pekerjaan saya sebagai penyiar di Jogja. Hijrah-lah saya ke Jakarta. Seperti yang umum diketahui orang, cari kerja gak gampang. Saya bergerilya mencari celah-celah lowongan pekerjaan, dan si Ms satu itu dengan setia mengikuti perkembangan gerilya saya termasuk sesi curhat, marah-marah dan nangis bombay karena susyahnya nyari kerja. Di antara sesi curhat dan marah-marah itu, ada satu hal yang saya ingat dengan jelas.

“Di kantor gw ada lowongan sih, Lee. Tapi head division-nya killer minta ampun. Malah sampai ada yang baru seminggu kerja langsung cabut karena gak tahan. Gw gak nyaranin loe ngelamar buat kerjaan itu deh..,”

That was the first.

“……, oh gitu ya? Yah, namanya juga cari kerja. Lagian loe baru sekali gagal interview aja juga udah senewen gitu. Sabarlah…,”

“Gw sih sabar, Ta. Keuangan gw yang udah gak sabar. Nafsu belanja gw juga tidak terpenuhi…,”

“Dasar gelo!!”

“Di kantor loe gmn, say?”

“Ada sih, Lee. Tapi gw gak nyaranin deh…,”

“Heh, si head divison killer itu belom dapat orang juga?”

” Kalo itu sih udah, yang kosong divisi lain. Tapi gw nyaranin gak usah deh, soalnya…. bla..bla..bla..bla..bla…,”

Jeng satu ini masih menolak dengan halus. Sampai suatu hari,

“Pokoknya loe jangan masuk kantor gw deh!!” Katanya, tandas dan jelas.

That was the last.

Intinya adalah, sahabat saya yang satu ini tidak mau menolong saya mendapatkan pekerjaan di kantornya. Padahal dia head-nya HRD, merangkap tangan kanan si bos, yang dari urusan administrasi, HRD, general affairs, driver, security system, ISO sampai barbeque party-nya si bos juga dia yang ngurusin. Istilahnya, nona satu inilah si dedengkot penguasa kantor setelah 4,5 tahun masa pengabdiannya di perusahaan tersebut. Memasukkan saya sebagai staff baru cincai-lah ibaratnya… Tapi apa mau dikata, sang dedengkot tersebut tidak tergerak menolong saya. Padahal katanya kita sahabat…. Saat itu saya sedikit ragu dengan arti persahabatan antara kami berdua.

Tapi toh kurang dari 3 minggu kemudian saya mendapatkan pekerjaan juga, yang notabene adalah berkat sarannya. Membuat saya sedikit melupakan tentang kesangsian saya atas persahabatan kami.

Sampai lima bulan yang lalu.

Rupanya tiga bulan saja waktu yang saya lewatkan dimana saya tidak bekerja membuat saya lupa bahwa yang namanya ‘dunia kerja’ itu adalah dunia penuh intrik, senggol-senggolan dan tendang-tendangan.

Sampai di Jumat pagi lalu.

“Gw gak mau loe masuk kantor gw karena gw gak ingin persahabatan kita berantakan, Lee. Di Jogja loe resign gara-gara intrik di kantor loe, apalagi di jakarta.”

Oooohhhhh……… Hati saya mencelos. Untung saya tidak mengkonfrontasi dia. Untung saya tidak bertanya even a word tentang alasan dibalik penolakannya untuk menolong saya mendapatkan kerja di kantornya. Untungnya saya berpegang teguh pada penilaian saya tentangnya yang didasarkan dari 9 tahun persahabatan kami. Untungnya saya percaya bahwa jeng yang satu ini pasti punya alasan yang masuk akal dibalik itu. Untung saja…

Untungnya dia juga mengerti saya. Untungnya dia tahu betapa saya bisa sangat keras kepala. Untungnya dia mengerti bahwa saya bisa sangat memaksa. Untungnya dia adalah dia. Untungnya dia belum pindah juga Ke Sydney, yang kalau itu sampai terjadi saya pasti akan sangat bersedih.

Our Way

Pada suatu siang di gersangnya kantor….

(suara telepon di meja)
“Halo?”
“Lee?”
“Yup. Siapa, ya?”
“Aduh cantik, maap ya jeng. Gw gak sempat terus ngirimnya…,”
“Fian?”
“He-eh. Gw habis dari Medan, bow. Abis itu langsung banyak kerjaan…,”
“Jadi?”
“Nanti deh bow, kalo sempat pasti gw kirimin…,”
“Loe gak butuh duit, ya? Loe tahu kan, kalo invoice-nya belom nyampe, uangnya gak bisa keluar jeng.”
“Iya, iya… Nanti deh gw kirimin…,”
– Terdiam –
“Terus?”
“Heh?”
“Terus apa lagi? Gitu aja? Cuma mau bilang invoice-nya belum bisa dikirim?”
“Ho-oh”.
– Terdiam –
“Fi, loe cuma mau telepon soal itu doang?”
“Hehe….,”
“Fi, thanks ya.”
“Hehe…., no problem. Anytime darling. See ya around, take care ok.”
“Ok, bye-bye.”
“Bye-bye.”

Without saying anything, hanya karena SMSnya saya cuekin seharian, cowok satu itu menelpon dan menghibur saya dengan cara kita. Truly indeed, gay guy is a girl’s best friend. Thanks, Man!