Cari Suami

…….

“Gw resign, Lee.”

Jeder!! Di siang bolong yg riweh dengan setumpuk dokumen di depan mata, hampir saja kopi saya tumpah demi mendengar sebaris kalimat dari sahabat perempuan yang satu ini.

“Tunggu…., tunggu….!! What the….. HAH?!!”

“Iya gw resign! Loe tau kan kalo gak mungkin semua itu terwujud kalo gw masih begini terus!”

“Tapi loe kan udah ‘Manager’, Ka! Manager! Loe gak sayang?!”

“Yah…, mau gimana lagi. Buat kebaikan semua orang juga. Biar nyokap gw gak khawatir lagi, biar masa biologis gw gak lewat gitu aja!”

Saya bengong.

“Masa biologis…? What ever, deh! Tapi masa loe resign demi cari suami?!!”

And the day just started again.

Enam Jam

Aku sedang nausea.

Dengan segelas es teh di tangan kanan dan sebatang rokok di jemari kiri, sudah enam jam ini aku nausea.

Apakah mungkin gara-gara es tehnya yang kebanyakan gula, rokok melempem yang teronggok di saku celana, ataukah karena rokok dan es teh bukan kombinasi yang sesuai, sudah enam jam ini aku nausea.

Es teh? Rokok? Rokok dan es teh?

Aku terkikik sendiri. Dua benda di tanganku ini membuatku geli. Kata siapa rokok tidak bisa berpasangan dengan es teh? Kamu? Kalian? Dunia?? Kata siapa rokok tidak bisa dipasangkan dengan es teh, heh?!

Kuhela napas panjang. Nausea ini tak kunjung hilang.

Jangan-jangan karena aku berada di tempat yang salah. Aku bukan peminum es teh, apalagi dengan gula yang banyak seperti ini. Rokokku juga bukan ini.  Entah ini rokok siapa, kenapa juga bisa ada di saku jeansku?

Eh, tunggu dulu. Ini bukan jeansku! Ini bukan jeansku!! Ini jeansnya siapa?!

Kuraba-raba lagi saku jeans yang membungkus kakiku ini. Terasa ada yang mengganjal di saku belakang. Segumpal kertas tebal berwarna pink kuraih paksa dari celana jeans yang sesak. Kurapikan kertas pink itu perlahan. Huruf demi huruf yang terukir dengan pena emas perlahan-lahan muncul. Dan aku tersadar.

Bukan.

Bukan es teh kebanyakan gula ini. Bukan rokok putih melempem ini. Bukan juga kombinasi rokok dan es teh sialan ini.

Bukan mereka.

Ini dia.

Ini dia yang membuatku nausea. Ini dia yang membuatku merasa mual dan ingin muntah.

Kertas pink ini. Kertas pink berbau harum ini. Begitu harumnya sehingga membuatku semakin merasa mual. Kubaca lagi perlahan goresan tinta emas yang terukir pada kertas pink itu, seperti yang kulakukan enam jam lalu.

Leksmana Sambodo dengan Laksmini Utari

Akad nikah akan dilangsungkan pada………

Enam jam lalu, sebelum aku berlari basah kuyup mencari perlindungan dari hujan pada lelakiku,  aku masih menjadi kekasihnya. Enam jam lalu,  sebelum kutanggalkan celana hareemku yang basah, menggantinya dengan celana jeans yang kukira milikku dan menemukan undangan pink beraroma Lavender itu di sakunya, segalanya masih seperti yang kutahu.

Enam jam lalu, si calon mempelai pria adalah kekasihku. Enam jam lalu, si calon mempelai wanita adalah sahabatku.

Enam jam lalu aku masih baik-baik saja. Enam jam setelahnya aku nausea.

Long time ago when I got crushed into reality.

P.S : Harap digarisbawahi, nama yg tercantum di atas adalah bukan nama yang sebenarnya.

Who Are You?

How would you like to be defined?

“Itu siapa, Mam?” Tanya saya pada Ibunda sambil menunjuk seorang wanita berusia separuh baya yang baru saja selesai bercakap-cakap dengan beliau. Ibunda melihat sekilas.

“Oh, itu Ibu M,” jawab Ibunda pendek sambil melihat daftar SMS di Inbox HP beliau yang saya sodorkan sebelumnya. Sedari pagi tak henti-hentinya nada SMS berbunyi di HP mungil itu, sementara si empunya seperti biasa lupa membawanya dan meninggalkannya tergolek di meja kamar tamu rumah kami.

Saya manggut-manggut dan mulai berjalan mencari siapa pun yang sekiranya saya kenal. Resepsi pernikahan yang diadakan di gedung serba guna komplek tempat kami tinggal itu lumayan ramai (ya iya lah, lha wong yang diundang sa’komplek, kok!). Setelah putus asa menemukan bahwa tiada seorang pun anak muda yang saya kenal, saya pun menghampiri gubuk-gubukan yang berderet di dinding samping, siap menyerbu siomay, kambing guling, empal genthong dan teman-temannya yang niscaya langsung membuat kadar kolesterol naik.

Saya putuskan untuk mengantri di deretan pecinta kambing guling lebih dulu. Saat itulah tanpa sengaja saya mendengarkan percakapan si ibu yang tadi ngobrol dengan Ibunda saya.

“Eh jeung, tadi saya ngobrol dengan Bu Pane, lho. Anak sampeyan kuliah sa’angkatan sama anaknya Bu Pane di UGM tho?”

Ho-oh. Kenapa, jeung?”

“Anaknya sekarang di Jakarta, sudah kerja di perusahaan Jepang,” jawab si Ibu.

Saya cengar-cengir bego. Rupanya si ibu tidak sadar bahwa yang jadi bahan pembicaraannya persis berdiri di belakangnya sambil pegang sendok dan piring kosong.

“Anaknya Bu Pane itu belum punya anak lho,”

Wadezig!!

“Padahal udah dua tahun nikah, kan? Wong Ratri anak sampeyan saja lagi hamil anak kedua,”

Iyo…, yo….,” yang diajak bicara mengiyakan.

“Bu Pane bilang sih, katanya anaknya itu emang sengaja menunda punya anak. Terlalu sibuk sama kerjaannya. Lagian suaminya juga ndak ngeyel, terserah istrinya aja katanya. Nek sepantaran karo Ratri, berarti umure wes 29, tho? Apalagi yang ditunggu?!”

Yang diajak bicara masih mengiyakan.

“Ya gitu itu, kalo wanita jadi terlalu modern. Kerjanya di perusahaan asing, sudah tua tapi belum mau punya anak. Kasihan Bu Pane,  padahal dia kelihatannya sudah kepengen gendong cucu,”

Ho-oh. Oh yo, siapa itu nama anaknya Bu Pane itu? Aku kok lupa,”

Emboh. Aku yo ndak ingat. Namanya susah,”

Gubrakk!!!

Menurut ibu-ibu tadi, saya adalah anak pertama Bu Pane yang namanya mereka lupa. Anak wanita yang jadi terlalu modern sejak bekerja di perusahaan Jepang sehingga memutuskan untuk menunda punya anak walaupun sudah dua tahun menikah.

To Forgive and Forget

“The stupid neither forgive nor forget; the naive forgive and forget; the wise forgive but do not forget.” (Thomas S Szasz)

Apakah dengan mencantumkan quote di atas berarti saya menjilat ludah sendiri setelah berkoar-koar tentang ‘maaf dan memaafkan’ pada postingan saya sebelumnya?

Tidak, sama sekali tidak.

Sampai saat ini saya masih memegang komitmen untuk selalu berusaha meminta maaf dengan tulus dan memaafkan dengan ikhlas, hasil perenungan panjang tempo hari. Quote di atas ini simply mencerminkan bagaimana saat ini saya akhirnya mampu berdamai dengan diri sendiri. Walaupun…. hmmm…., tidak dengan cara yang patut saya banggakan.

Minggu lalu saya bertemu lagi dengan dia untuk kesekian kalinya.

Dia masih sama, masih seperti yang dulu. Masih dengan ‘gojek kere‘nya. Dengan mata binarnya setiap kali bicara hal-hal yang menyangkut seni dan musik. Masih dengan towelan di pinggang saya setiap kali saya terlihat menggemaskan. Tak ketinggalan sorot mata ingin membantai tiap kali saya mengeluarkan  tingkah ‘semuanya selalu tentang aku’ – istilah untuk keegoisan saya yang pernah ia berikan dulu dalam sebuah lagu. Dengan ini setidaknya dia membuktikan pada dirinya sendiri kebenaran salah satu teori tentang manusia yang pernah ia kemukakan pada saya. Teori bahwa ‘manusia tidak pernah berubah, dan tidak akan berubah’.

Pertemuan dengannya minggu lalu itu perlahan membawa saya kembali pada masa itu. Masa saat saya pernah memandangnya dengan rasa sayang. Masa saat golakan semangat mudanya membuat saya terpana penuh kagum. Masa saat kejayaan yang menghampiri membuatnya dipandang orang. Dan masa saat saya terpaksa menyaksikannya berlari dari satu pucuk muda ke pucuk muda lainnya.

Kau laki-laki pemuja keindahan. Kau laki-laki pengagum keselarasan. Kau laki-laki yang telah mengkhianatiku dengan dua gadis muda lain. Kau si pemuja keindahan yang memaksaku harus mengerti alasan dibalik perilaku menghancurkan itu : ketidakberdayaan. Kau tidak berdaya menghadapi dua gadis itu. Dua gadis muda nan indah yang sayang bila dilewatkan.

Saat ini, saat  saya duduk dihadapan layar putih ini, saya tertawa-tawa sendiri demi mengingat perjumpaan dengannya minggu lalu itu. Tawa yang akhirnya bisa  saya lepas. Tawa yang akhirnya terjadi saat setelah sekian lama saya akhirnya bisa berdamai dengan diri sendiri.

Berbeda dengannya yang beranggapan bahwa manusia tidak akan berubah, teori saya adalah tidak ada satu pun di dunia yang kekal. Saya yakin bahwa manusia bisa berubah. Saya yakin bahwa manusia tidak akan selalu berada di tempat yang sama. Setidaknya itulah teori saya. Pertemuan denganya minggu lalu itu pun tak ayal membuat saya berpikir, mungkinkah hal ini telah berlaku dengannya? Pribadi  yang terkenal dengan justufikasi bahwa manusia tidak akan berubah itu? Mungkin, YA. Mungkin dia pun bisa berubah. Itulah yang  saya pikirkan saat  saya melihat dia menggandeng wanita itu minggu lalu. Wanita bundar seperti bola bekel itu.

Wahai kau laki-laki masa lalu, maafkan aku bila tawa ini mungkin bukanlah tawa yang baik. Damai yang kudapat ini bukan karena aku yang mengusahakannya sendiri. Semua ini kudapat setelah perjumpaanku dengan kalian. Ya, kalian : kau dan dia. Kau dan wanita bundar seperti bola bekel yang merelakan hatchback matic-nya kau bawa kemana-mana, dan yang telah menghadiahkanmu notebook hitam elegan yang manis menghias kamarmu. Sesuatu yang tak akan mungkin akan kulakukan.

Jadi sekali lagi maafkan aku. Maafkan aku atas tawa dan damai yang akhirnya kudapatkan ini. Mungkin kau memang telah berubah. Atau mungkin juga kau belum berubah. Namun siapa yang bisa benar-benar tahu? Aku? Dia? Kau?

Yang  saya tahu saat ini hanya satu, bahwa saya memaafkan karena saya belum lupa.

“The stupid neither forgive nor forget; the naive forgive and forget; the wise forgive but do not forget.”