Cari Suami

…….

“Gw resign, Lee.”

Jeder!! Di siang bolong yg riweh dengan setumpuk dokumen di depan mata, hampir saja kopi saya tumpah demi mendengar sebaris kalimat dari sahabat perempuan yang satu ini.

“Tunggu…., tunggu….!! What the….. HAH?!!”

“Iya gw resign! Loe tau kan kalo gak mungkin semua itu terwujud kalo gw masih begini terus!”

“Tapi loe kan udah ‘Manager’, Ka! Manager! Loe gak sayang?!”

“Yah…, mau gimana lagi. Buat kebaikan semua orang juga. Biar nyokap gw gak khawatir lagi, biar masa biologis gw gak lewat gitu aja!”

Saya bengong.

“Masa biologis…? What ever, deh! Tapi masa loe resign demi cari suami?!!”

And the day just started again.

Enam Jam

Aku sedang nausea.

Dengan segelas es teh di tangan kanan dan sebatang rokok di jemari kiri, sudah enam jam ini aku nausea.

Apakah mungkin gara-gara es tehnya yang kebanyakan gula, rokok melempem yang teronggok di saku celana, ataukah karena rokok dan es teh bukan kombinasi yang sesuai, sudah enam jam ini aku nausea.

Es teh? Rokok? Rokok dan es teh?

Aku terkikik sendiri. Dua benda di tanganku ini membuatku geli. Kata siapa rokok tidak bisa berpasangan dengan es teh? Kamu? Kalian? Dunia?? Kata siapa rokok tidak bisa dipasangkan dengan es teh, heh?!

Kuhela napas panjang. Nausea ini tak kunjung hilang.

Jangan-jangan karena aku berada di tempat yang salah. Aku bukan peminum es teh, apalagi dengan gula yang banyak seperti ini. Rokokku juga bukan ini.  Entah ini rokok siapa, kenapa juga bisa ada di saku jeansku?

Eh, tunggu dulu. Ini bukan jeansku! Ini bukan jeansku!! Ini jeansnya siapa?!

Kuraba-raba lagi saku jeans yang membungkus kakiku ini. Terasa ada yang mengganjal di saku belakang. Segumpal kertas tebal berwarna pink kuraih paksa dari celana jeans yang sesak. Kurapikan kertas pink itu perlahan. Huruf demi huruf yang terukir dengan pena emas perlahan-lahan muncul. Dan aku tersadar.

Bukan.

Bukan es teh kebanyakan gula ini. Bukan rokok putih melempem ini. Bukan juga kombinasi rokok dan es teh sialan ini.

Bukan mereka.

Ini dia.

Ini dia yang membuatku nausea. Ini dia yang membuatku merasa mual dan ingin muntah.

Kertas pink ini. Kertas pink berbau harum ini. Begitu harumnya sehingga membuatku semakin merasa mual. Kubaca lagi perlahan goresan tinta emas yang terukir pada kertas pink itu, seperti yang kulakukan enam jam lalu.

Leksmana Sambodo dengan Laksmini Utari

Akad nikah akan dilangsungkan pada………

Enam jam lalu, sebelum aku berlari basah kuyup mencari perlindungan dari hujan pada lelakiku,  aku masih menjadi kekasihnya. Enam jam lalu,  sebelum kutanggalkan celana hareemku yang basah, menggantinya dengan celana jeans yang kukira milikku dan menemukan undangan pink beraroma Lavender itu di sakunya, segalanya masih seperti yang kutahu.

Enam jam lalu, si calon mempelai pria adalah kekasihku. Enam jam lalu, si calon mempelai wanita adalah sahabatku.

Enam jam lalu aku masih baik-baik saja. Enam jam setelahnya aku nausea.

Long time ago when I got crushed into reality.

P.S : Harap digarisbawahi, nama yg tercantum di atas adalah bukan nama yang sebenarnya.

Who Are You?

How would you like to be defined?

“Itu siapa, Mam?” Tanya saya pada Ibunda sambil menunjuk seorang wanita berusia separuh baya yang baru saja selesai bercakap-cakap dengan beliau. Ibunda melihat sekilas.

“Oh, itu Ibu M,” jawab Ibunda pendek sambil melihat daftar SMS di Inbox HP beliau yang saya sodorkan sebelumnya. Sedari pagi tak henti-hentinya nada SMS berbunyi di HP mungil itu, sementara si empunya seperti biasa lupa membawanya dan meninggalkannya tergolek di meja kamar tamu rumah kami.

Saya manggut-manggut dan mulai berjalan mencari siapa pun yang sekiranya saya kenal. Resepsi pernikahan yang diadakan di gedung serba guna komplek tempat kami tinggal itu lumayan ramai (ya iya lah, lha wong yang diundang sa’komplek, kok!). Setelah putus asa menemukan bahwa tiada seorang pun anak muda yang saya kenal, saya pun menghampiri gubuk-gubukan yang berderet di dinding samping, siap menyerbu siomay, kambing guling, empal genthong dan teman-temannya yang niscaya langsung membuat kadar kolesterol naik.

Saya putuskan untuk mengantri di deretan pecinta kambing guling lebih dulu. Saat itulah tanpa sengaja saya mendengarkan percakapan si ibu yang tadi ngobrol dengan Ibunda saya.

“Eh jeung, tadi saya ngobrol dengan Bu Pane, lho. Anak sampeyan kuliah sa’angkatan sama anaknya Bu Pane di UGM tho?”

Ho-oh. Kenapa, jeung?”

“Anaknya sekarang di Jakarta, sudah kerja di perusahaan Jepang,” jawab si Ibu.

Saya cengar-cengir bego. Rupanya si ibu tidak sadar bahwa yang jadi bahan pembicaraannya persis berdiri di belakangnya sambil pegang sendok dan piring kosong.

“Anaknya Bu Pane itu belum punya anak lho,”

Wadezig!!

“Padahal udah dua tahun nikah, kan? Wong Ratri anak sampeyan saja lagi hamil anak kedua,”

Iyo…, yo….,” yang diajak bicara mengiyakan.

“Bu Pane bilang sih, katanya anaknya itu emang sengaja menunda punya anak. Terlalu sibuk sama kerjaannya. Lagian suaminya juga ndak ngeyel, terserah istrinya aja katanya. Nek sepantaran karo Ratri, berarti umure wes 29, tho? Apalagi yang ditunggu?!”

Yang diajak bicara masih mengiyakan.

“Ya gitu itu, kalo wanita jadi terlalu modern. Kerjanya di perusahaan asing, sudah tua tapi belum mau punya anak. Kasihan Bu Pane,  padahal dia kelihatannya sudah kepengen gendong cucu,”

Ho-oh. Oh yo, siapa itu nama anaknya Bu Pane itu? Aku kok lupa,”

Emboh. Aku yo ndak ingat. Namanya susah,”

Gubrakk!!!

Menurut ibu-ibu tadi, saya adalah anak pertama Bu Pane yang namanya mereka lupa. Anak wanita yang jadi terlalu modern sejak bekerja di perusahaan Jepang sehingga memutuskan untuk menunda punya anak walaupun sudah dua tahun menikah.

To Forgive and Forget

“The stupid neither forgive nor forget; the naive forgive and forget; the wise forgive but do not forget.” (Thomas S Szasz)

Apakah dengan mencantumkan quote di atas berarti saya menjilat ludah sendiri setelah berkoar-koar tentang ‘maaf dan memaafkan’ pada postingan saya sebelumnya?

Tidak, sama sekali tidak.

Sampai saat ini saya masih memegang komitmen untuk selalu berusaha meminta maaf dengan tulus dan memaafkan dengan ikhlas, hasil perenungan panjang tempo hari. Quote di atas ini simply mencerminkan bagaimana saat ini saya akhirnya mampu berdamai dengan diri sendiri. Walaupun…. hmmm…., tidak dengan cara yang patut saya banggakan.

Minggu lalu saya bertemu lagi dengan dia untuk kesekian kalinya.

Dia masih sama, masih seperti yang dulu. Masih dengan ‘gojek kere‘nya. Dengan mata binarnya setiap kali bicara hal-hal yang menyangkut seni dan musik. Masih dengan towelan di pinggang saya setiap kali saya terlihat menggemaskan. Tak ketinggalan sorot mata ingin membantai tiap kali saya mengeluarkan  tingkah ‘semuanya selalu tentang aku’ – istilah untuk keegoisan saya yang pernah ia berikan dulu dalam sebuah lagu. Dengan ini setidaknya dia membuktikan pada dirinya sendiri kebenaran salah satu teori tentang manusia yang pernah ia kemukakan pada saya. Teori bahwa ‘manusia tidak pernah berubah, dan tidak akan berubah’.

Pertemuan dengannya minggu lalu itu perlahan membawa saya kembali pada masa itu. Masa saat saya pernah memandangnya dengan rasa sayang. Masa saat golakan semangat mudanya membuat saya terpana penuh kagum. Masa saat kejayaan yang menghampiri membuatnya dipandang orang. Dan masa saat saya terpaksa menyaksikannya berlari dari satu pucuk muda ke pucuk muda lainnya.

Kau laki-laki pemuja keindahan. Kau laki-laki pengagum keselarasan. Kau laki-laki yang telah mengkhianatiku dengan dua gadis muda lain. Kau si pemuja keindahan yang memaksaku harus mengerti alasan dibalik perilaku menghancurkan itu : ketidakberdayaan. Kau tidak berdaya menghadapi dua gadis itu. Dua gadis muda nan indah yang sayang bila dilewatkan.

Saat ini, saat  saya duduk dihadapan layar putih ini, saya tertawa-tawa sendiri demi mengingat perjumpaan dengannya minggu lalu itu. Tawa yang akhirnya bisa  saya lepas. Tawa yang akhirnya terjadi saat setelah sekian lama saya akhirnya bisa berdamai dengan diri sendiri.

Berbeda dengannya yang beranggapan bahwa manusia tidak akan berubah, teori saya adalah tidak ada satu pun di dunia yang kekal. Saya yakin bahwa manusia bisa berubah. Saya yakin bahwa manusia tidak akan selalu berada di tempat yang sama. Setidaknya itulah teori saya. Pertemuan denganya minggu lalu itu pun tak ayal membuat saya berpikir, mungkinkah hal ini telah berlaku dengannya? Pribadi  yang terkenal dengan justufikasi bahwa manusia tidak akan berubah itu? Mungkin, YA. Mungkin dia pun bisa berubah. Itulah yang  saya pikirkan saat  saya melihat dia menggandeng wanita itu minggu lalu. Wanita bundar seperti bola bekel itu.

Wahai kau laki-laki masa lalu, maafkan aku bila tawa ini mungkin bukanlah tawa yang baik. Damai yang kudapat ini bukan karena aku yang mengusahakannya sendiri. Semua ini kudapat setelah perjumpaanku dengan kalian. Ya, kalian : kau dan dia. Kau dan wanita bundar seperti bola bekel yang merelakan hatchback matic-nya kau bawa kemana-mana, dan yang telah menghadiahkanmu notebook hitam elegan yang manis menghias kamarmu. Sesuatu yang tak akan mungkin akan kulakukan.

Jadi sekali lagi maafkan aku. Maafkan aku atas tawa dan damai yang akhirnya kudapatkan ini. Mungkin kau memang telah berubah. Atau mungkin juga kau belum berubah. Namun siapa yang bisa benar-benar tahu? Aku? Dia? Kau?

Yang  saya tahu saat ini hanya satu, bahwa saya memaafkan karena saya belum lupa.

“The stupid neither forgive nor forget; the naive forgive and forget; the wise forgive but do not forget.”

Kantorku Catwalk-ku

Atasanku tersayang,

Aku tahu kita jarang sepaham.

Di meja ruang meeting kita acap kali beradu argumen. Entah karena kau kurang puas, aku yang memprotes, atau bahkan karena kau salah paham akibat keterbatasan penguasaan bahasa Inggrismu. Bahasa yang satu itu katanya ibarat fasilitas pemersatu antar bangsa. Tapi bila denganmu, duh Gusti…

Namun kuakui bahwa kita memang sepaham untuk yang satu ini.

Kita sama-sama menjadikan selasar kantor bagaikan catwalk kita. Hari demi hari kurasa kau pun sadar kalau staff – staff yang menganga tiap kali kita hadir di pagi hari itu sebenarnya selalu menunggu suguhan fashion show terbaru dari kita berdua. Kupikir kita bahkan telah berhasil mempengaruhi beberapa di antara mereka. Kau lihat si Uni di pojok divisi Administrasi sana? Sweeter buluk berwarna orange (ampuunn dehhh…!!) yang kerap dipakainya itu telah berganti dengan cardigan putih berpotongan manis. Atau si Lili di meja asisten marketing sana, kemeja batik yg kuasumsikan berharga 15 ribu dan lebih cocok dipakai adiknya karena saking ketatnya itu sepertinya sudah dihibahkan pada sang adik (akhirmya..!!). Berganti dengan terusan batik manis berwarna pink – emas yang sangat cocok untuk kulit putihnya.

Sayangnya beberapa bulan belakangan ini aku agak khawatir denganmu, wahai atasanku.

Sepatu yang akhir-akhir ini kau kenakan itu sebenarnya hendak kubeli beberapa bulan lalu. Sepatu itu memang bagus. Mencerminkan bahwa si pemakai adalah wanita aktif yang peduli dengan penampilan. Mencerminkan si pemakai adalah wanita yang sadar bahwa penampilan adalah salah satu asset mengejar jenjang karier yang lebih baik. Brain, Beauty and Behaviour. Lagi-lagi kita sepaham bahwa kecantikan memang selayaknya dibungkus dengan packaging yang baik, berkualitas dan bercita rasa tinggi.

Namun layaknya di meja ruang meeting dimana kita kerap beradu argumen tiap akhir minggu, kali ini aku terpaksa tidak sepaham denganmu.

Dengan heel setinggi 12 cm, sepatu itu terlalu tinggi untuk tubuhmu yang mungil. Bahkan kupikir terlalu berat untuk tubuhmu yang kurus. Setelah beberapa bulan kulihat sepatu itu melenggak-lenggok di ‘catwalk’ kantor ini, kuperhatikan bahwa semakin lama heel yang sebelah kiri semakin miring. Dan hari demi hari kulihat sudut kemiringannya menjadi semakin mengkhawatirkan. Setiap berpapasan, kurasakan mereka seperti ingin berteriak. Entah karena merasa tersiksa, atau karena ingin memberi peringatan.

Wahai atasanku,

Tidakkah sebaiknya sepatu bercita rasa tinggi yang satu itu kau istirahatkan dulu? Seperti aku yang sedang mengistirahatkan kakiku dan bermanja-manja dengan wedges yang luar biasa nyaman ini sejak bulan lalu?

Mungkin sudah saatnya kita memberi mereka, yang telah terinspirasi oleh kita, kesempatan untuk menjadi model yang melenggak-lenggok di ‘catwalk’ kita ini. Kesempatan untuk menjadi mereka yang diperbincangkan atas apa yang membungkus mereka hari ini.

sepatu1

Me in a paragraph

Pagi ini tiba-tiba seorang teman lama yang jarang banget mengontak saya (kecuali kalau ada perlunya), menelepon. Saya disuruh ikutan satu quiz di Facebook yang di-suggest olehnya. Kebanyakan quiz di Facebook emang ngawur, dan hasil quiz ini katanya malah lebih cocok buat saya daripada dia.

‘Pas gw baca hasilnya, kok gw malah jadi inget elo. Gile bener, ini mah loe banget!’

And so I took the quiz.

Which Crazy B***h Are You?

Sinead O ‘Connor

You are one fierce bitch. You are very independent and will take no bullshit from anyone but your personality is actually sort of quiet and shy. You are a natural beauty and you are very comfortable with your feminity. You don’t feel the need to overdo it or go out of your way to fuss over your looks. You don’t want to distract people from what you stand for and the talents you possess. You are very idealistic and will go to any extremes to stand up for what you believe in even if it creates controversy and people don’t understand. Relationships can be hard for you sometimes because men feel threatened by you but time again they come running to you and realize that you are actually very sweet and motherly…. until they cross you –

Hahaha…! Just ignore the Sinead, it’s me in a paragraph!

sinead250

Foto taken from here.

Woman and Weight

“Ya ampun, Taa..!! Loe gemuk amat!!”

Kata-kata itu saya dengar dua minggu lalu di selasar lantai dua gedung kantor saya, tepat di depan toilet wanita. Saya yang sedianya mau ke toilet untuk cuci muka karena mata udah mulai bekerjap-kerjap ngantuk, spontan melek dengan pandangan mata yang langsung jadi terang-benderang. Indera ke-enam saya, yang tiada lain adalah indera pengendus hal-hal menarik bin ajaib, serta-merta membunyikan alarm. Wait, this is interesting, saya membatin. Mengapa demikian? Mari saya bawa anda semua pada kejadian itu.

Let’s take a look at the object, si ‘Taaaaa….!!’ itu. Saya tidak tahu siapa sebenarnya nama gadis ini. Mari kita panggil saja dia ‘Ita’ (kalaupun salah paling gak jauh-jauh dari itu). Miss Ita ini sepengetahuan saya adalah seorang staff dari salah satu perusahaan di suite bagian barat lantai dua gedung kantor yang saya tempati. Lalu bagaimana reaksi Miss Ita ini saat mendengar, “Ya ampun Taaa……, loe gemuk amat…!!” adalah TENTU SAJA merah padam. Apalagi setelah beberapa pria dan dua orang cleaning service yang lewat meluangkan waktu untuk melihat objek seruan itu. Sementara sang subject, seorang wanita yang saya ketahui belakangan ternyata baru saja kembali ke kantor setelah cuti melahirkan selama 3 bulan, tanpa merasa ada yang salah melanjutkan semburannya,

“Beneran deh….., loe gemukan…!!!”

Tanpa merasa perlu untuk mengurangi volume suaranya.

Hihihi…., saya sebenarnya ingin ketawa demi melihat betapa kacaunya saat si Ita mencoba untuk membuat si ibu itu diam, ataupun senyum yang sedikit dipaksakan saat akhirnya mereka berdua mengobrol di toilet, dengan saya yang sengaja berlama-lama demi untuk mendengarkan obrolan mereka. Miss Ita susah payah mengalihkan pembicaraan, sementara si Ibu dengan cueknya melanjutkan pembicaraan ke seputar berat badan, yang ujung-ujungnya:

“Untung gue udah nikah, jadi gak begitu perduli sama berat badan.”

Dherr!! Skor 1 – 0 untuk kemenangan si Ibu.

Saya jadi tergelitik untuk menggali kejadian itu. Reaksi si Ita, kata-kata si Ibu, dan TERUTAMA pikiran saya yang menyimpulkan bahwa si Ibu itu tidak berperasaan. Mengapa demikian? Mungkin artikel di bawah ini dapat menjelaskan hal tersebut.

Wanita Lebih Stres dengan Berat Badan Daripada Kanker

Rabu, 14 Januari 2009 | 21:53 WIB

TEMPO Interaktif ,  London: Wanita mana yang tak ingin tubuhnya ramping semampai. Dalam sebuah penelitian di Inggris, ternyata wanita lebih stres dengan tubuh mereka dibandingkan dengan ancaman penyakit kanker.

Dalam jejak pendapat di dunia maya, stres dengan penyakit yang mempunyai potensi membunuh ini hanya berpengaruh kurang dari dua persen, dari 1000 wanita yang menjadi responden. Penemuan ini memberikan kritik kepada tekanan media masa untuk selalu tampil muda dan kurus sebagai efek yang berbahaya bagi seluruh kesehatan wanita.

“Wanita dibombardir dengan citra yang menyuguhkan tubuh yang sempurna, saat mereka tidak punya banyak waktu untuk duduk dan menarik nafas,” ujar pakar kesehatan Sarah Jarvis. “Menyedihkan, mungkin mereka sibuk untuk selalu tampil muda dan meningkatkan harapan sosialnya bahwa mereka dapat membuang permasalahan kesehatan mereka di masa depan.”

Sekitar 25 persen, wanita lebih memperhatikan berat badannya, pada kelompok wanita usia 20-40 tahun. Sedangkan umur menjadi perhatian kedua, diikuti stres terhadap kanker, termasuk kanker hati dan kemandulan. Sedangkan 20 persen wanita pada usia 20 tahun justru khawatir dengan stress terhadap berat badan.

Tak ada wanita yang menyebut AIDS sebagai kekhawatiran mereka. “Dalam 20 tahun melakukan poling, saya telah melihat banyak perubahan dalam tingkat perhatian wanita dengan kesehatan,” ujar Jarvis, yang menjadi editor buku kesehatan wanita.

Based on the article above, sedikit banyak inilah dasar pemikiran saya yang menyimpulkan tindakan si Ibu tidak berperasaan bahkan cenderung sadis. Wong buat seorang wanita berat badan lebih menakutkan daripada kanker kok!

fat-woman

Sejak meninggalkan bangku SD, entah bagaimana saya mulai memahami bahwa berkomentar mengenai berat badan, bentuk badan, ataupun warna kulit seorang wanita berarti mengambil resiko kehilangan teman. Tentu saja kita tak perlu khawatir bila kita berkomentar, “Ya ampun, kurus banget loe, May!!” atau, “Dina, tambah putih aja loe.” ataupun, “Wow, langsing deh kamu.” Tapi tentunya anda akan mendapat senyuman pahit dan terancam tidak akan disapa lagi kalau anda berkomentar sama seperti si Ibu, “Ya ampun Taaa……, loe gemuk amat…!!”

Saya, entah harus merasa beruntung atau tidak, tidak pernah mencapai berat badan yang dikategorikan sebagai ‘gemuk’. Walaupun akhir-akhir ini banyak yang mengatakan kalau saya ‘gemukan’, tapi toh tetap saja tidak (atau belum) masuk dalam kategori gemuk – dengan tinggi badan 165 cm dan berat badan 48 kg (lumayan naik dari sebelumnya 45 kg). Honestly, saya merasa cemas dengan kenaikan berat badan ini. Walaupun toh akhirnya berhasil susut dari 50 ke 48 kg karena diet lumayan ketat, tetap saja beberapa kali saya merasakan insecure bila berpapasan dengan wanita berbadan se – papan. Saya jadi geli sendiri. Ternyata saya termasuk dalam deretan ‘korban iklan dan tayangan televisi’.

Saya pikir seperti halnya yang dijelaskan pada artikel di atas, bombardir iklan dan tayangan-tayangan yang menyuguhkan sosok wanita tinggi, langsing bahkan cenderung kurus, dengan kulit putih bersinar berhasil mencekoki kita tentang fisik wanita ideal. Dan tidak berhenti sampai di situ, banyak profesi bahkan menuntut wanita memiliki tubuh seperti layaknya Rihanna. Bukan lagi profesi model, peragawati maupun pramugari, office lady pun dituntut memiliki bentuk fisik demikian. Coba anda ingat, betapa banyak tender yang goal karena di – handle oleh seorang wanita berfisik aduhai? Saya bahkan tidak memungkiri kalau beberapa data esensial yang saya dapatkan adalah berkat penampilan fisik SAJA.

Dan itu baru menyangkut pekerjaan. Bagaimana halnya bila menyangkut pria? Baik, saya suguhkan lagi publikasi dari hasil pene;itian yang menyangkut wanita dan berat badannya.

Pria Penyebab Berat Badan Wanita Naik

Jakarta Para perempuan, jangan salahkan ice cream dan kue favorit jika pinggang Anda melar, karena penelitian menunjukkan, laki-laki terdekat Andalah penyebabnya.

Sebuah penelitian online dilakukan situs khusus perempuan terhadap 3.000 orang perempuan. Pertanyaan berkisar penyebab perubahan berat badan diberikan kepada perempuan-perempuan tadi.

Dikutip kilasberita.com dari Dailymail, Jumat (12/12/2008) 70 persen penyebab naik turunnya bobot tubuh perempuan adalah kebahagiaannya dalam berhubungan dengan lelaki yang ia cintai. Rasa bahagia atau stress akibat hubungan pribadi sangat mempengaruhi turun naiknya berat badan perempuan.

Jane McCadden sang peneliti mengungkapkan bahwa emosi perempuan saat berhubungan berpengaruh besar pada naik turunnya berat badan. Rasa bahagia bisa membuat seorang perempuan menjadi nafsu makan. Sebaliknya saat hubungannya mengalami masalah, emosi perempuan dapat menghilangkan nafsu makannya bahkan menimbulkan rasa sakit.

Gaya hidup seorang perempuan juga sangat dipengaruhi oleh laki-laki yang menjadi pendampingnya. Lebih dari setengah jumlah perempuan yang disurvei mengakui hal tersebut.

Jadi jika Anda para pria tetap ingin melihat pasangan Anda sehat, bahagiakanlah mereka! (kilasberita.com/amz/dtc)

Untuk kaum wanita yang identik dengan kaum ‘berperasaan’ (means setiap tindakannya dipengaruhi perasaan), kaum pria tidak dipungkiri bisa sangat berpengaruh dengan kondisi berat badan seorang wanita. Padahal, bukan rahasia umum lagi kalau kebanyakan pria mengidamkan untuk berpasangan dengan wanita berfisik at least seperti Victoria Beckham. Jadi apa kabar dengan inner beauty? Inner beauty sudah terjun ke laut.

victoriabeckham

Baiklah, harus saya akui kalau saya pesimis dengan si Miss Inner Beauty ini. Saya pastinya adalah si korban iklan dan generalisasi image yang diciptakan oleh kaum kapitalis. Saya adalah Lee si wanita yang percaya dengan kecantikan dalam satu paket lengkap: brain, body and soul. Dan hey, rupanya inilah jawaban mengapa saya mengidolakan Ally McBeal.

ally-mcbeal

Anyway, tidak seperti halnya saya yang pesimis dengan hanya mengandalkan inner beauty, banyak di antara anda yang pastinya masih percaya bila si inner beauty ini mampu menaklukan pria, pekerjaan termasuk atasan yang sering marah-marah dan tender dengan high expectancy, bahkan dunia sekalipun. Percayalah, saya angkat topi untuk itu. Termasuk angkat topi untuk teman dari kantor sebelah yang berkata kalau ia hanya akan tersenyum dan berlalu bila mengalami hal seperti si Ita di atas.

Bila hal itu terjadi pada saya, apa yang akan saya lakukan ya? Hmm……..