Romantisme Gak Kreatif

Ceritanya …..

Saya membaca update status seorang teman wanita di FB.

“Baru aja dinyanyiin Just The Way You Are sama my darling. Hayyoo…., siapa yg bilang kalo pacar gw gak romantis??”

Padahal ……

Lagu itu adalah lagu yang disiapkan pacarnya dua malam berturut-turut, untuk kemudian dinyanyikan dengan gitar di hadapan saya, pada saat kami masih bersama dulu.

Jadi ………

Romantisme apa itu??



Advertisements

When You Meet Again

(membuka SMS yg datang)

“….. emang dasar pelacur loe!”

Saya tertegun.

“….. heran juga kalo masih ada yg mau sama cewek item kayak loe!”

Saya menahan napas.

“….. loe ngomong apa gak bakal mempan sama gw tauuu!!”

Saya mengerutkan dahi.

“….. cewek kayak loe pasti juga asalnya dari keluarga gak bener!! Dasar pelacur!!”

Brakk!! Saya pun menggebrak meja.

Jujur…

Saya tidak pernah bisa mengerti dan mau mengerti mereka-mereka yang populer dengan sebutan ‘psikopat’ itu. Mereka yang menurut penelitian berjumlah 1% dari total populasi dunia itu. Hanya 1%!! Sayangnya saya kurang beruntung sampai salah satu dari jumlah yang 1% itu berhasil menyambangi saya. Setelah runtutan SMS kata-kata kotor yang datang terus-menerus, sepanjang malam HP yang saya set ke mode silent dan saya lempar ke kursi itu menyala hampir tiap 5 menit. Paginya ketika saya ambil ada 117 misscal dan 30 SMS tidak senonoh. Saya tertawa, mencetus dalam hati : mampus kau gak tidur semalaman!

Mungkin di antara sodara-sodara ada yang ingin bertanya, emang loe gak marah, Lee?

Marah. Saya marah besar. Apalagi dia bawa-bawa nama keluarga saya. Nama adik-adik saya. Dan nama orang tua saya.

Let me ask you, pernah dealing dengan seorang psikopat? Kalau pernah, pasti tahu bahwa jenis manusia keji satu ini pintar memutar-balikkan omongan dan fakta. Tidak ada untungnya menjawab atau berbalas pantun dengannya. Somehow, walaupun itu adalah pengalaman pertama saya ‘baku-hantam’ dengan seorang psikopat, saya mengerti bahwa meladeni dia secara langsung bukan solusi terbaik. Lalu apa yang saya lakukan?

Setelah mencoba sabar, saya berpikir siapa kiranya si pengirim SMS keji yg anonim ini. Dan saya tak butuh waktu lama. Seorang teman menelepon.

“Loe terima SMS jahat, gak?”

“Maksud loe?”

“SMS jahat! Nulis kalo gw cewek gendut gak laku! Kalo gw a Pathetic woman! A****g*!!” seru si teman ditelepon.

“Sabar…., sabar say. Gw juga terima kok,”

“Pasti si ceweknya mantan loe deh! Sial! Dasar psikopat!”

Ahirnya si teman menutup teleponnya walaupun masih dengan jengkel setelah marah-marah yang isinya tidak perlu saya tuliskan. Sepakat dengan teman saya, saya pun memiliki dugaan yang sama. Tapi kenapa? Cemburu? So what kalo loe cemburu? Emangnya cowok loe gw apain?? Ketemu aja jarang!! So what kalo loe dr keluarga broken home? Apa kondisi satu itu membuat loe sah- sah aja buat meneror orang? Apa lantas gw juga harus maklum?!

“Sabar, Lee…. Sabar…. Orang sabar disayang Tuhan…,”

Itu yang saya katakan berkali-kali pada diri sendiri. Sabar. Namun bukan berarti saya tidak melakukan apa pun. Pelan-pelan saya pencet nomor demi nomor di HP sahabat saya, menelepon sang mantan. Sengaja tidak saya gunakan HP saya menghindari kemungkinan yang bersangkutan me-reject telepon saya.

Maka saya ajak bicaralah mantan yang membawa seorang psikopat ini pada saya.

Namun ternyata, mantan yang pernah selingkuh dua kali dari saya selama kami pacaran ini malah membela pacarnya (ya iyalah, what do you expect??). Bagaikan kerbau dicocok hidung, dia malah mem-back up semua kata-kata pacarnya. Dan di situlah saya sadar bahwa semua ini tiada gunanya. Ini hanyalah permainan seorang wanita psikopat yang merasa insecure dengan dirinya, dipicu dari kurangnya rasa percaya atas kesetiaan pacarnya. Saya tertawa lagi. Dan mematikan HP selama beberapa hari. Setelah beberapa hari mematikan alat komunikasi yang efektif dan efesien itu, SMS-SMS dari wanita satu itu pun menjadi basi. Tak ada efeknya lagi pada saya. Dan soon, teror itu berakhir. Bersamaan dengan kandasnya kisah cinta si wanita psikopat dengan mantan saya.

Cerita bergulir.

Sang mantan ini akan menikah dalam waktu dekat.

Seorang sahabat sekaligus informan terpercaya mengatakan bahwa wanita psikopat itu akan hadir di resepsi sang mantan. Selama ini saya tidak pernah bertemu langsung dengan si wanita psikopat ini setelah ‘percobaan pembunuhan jati diri’ pada saya tempo itu.

Kalau bertemu dia, menurut anda saya akan berlaku bagaimana? :mrgreen:

Penggalan Cerita#2

Cerita#1

Title : Dimanapun, saling mendoakan

Lokasi : Mikrolet 44

Di atas Mikrolet yang sedang melaju, bangku depan

Cewek : “Assalamualaikum, Bang!”

Supir Mikrolet : (terkejut) “Eh, Waalaikumsalam, mbak,”

Cewek : “Eh, bukan! Maksud saya, stop kiri, Bang…,”

Supir : “Oh….,”

Tiga orang di bangku belakang : (tertawa)

Cerita#2

Title : Terserah Saya Mau Kemana

Lokasi : Parkir Motor Malioboro Mall

Seorang tukang parkir membantu seorang cewek mengeluarkan motornya dari himpitan motor-motor lainnya.

Tukang Parkir : “Kemana nih, Mbak?”

Cewek : (muka tersinggung) : “Ke rumah Budi! Ngapain sih nanya-nanya!” (ketus)

Tukang Parkir : “Bukan…., maksud saya motornya mau di arahkan ke selatan atau utara….,”

Saya : (ngakak ditahan)

Cerita#3

Title : Sasaran Baru

Lokasi : Lobby Setiabudi Atrium Building

Beberapa pria mengerubungi sebuah layar LCD 17″ yg terpasang di dinding sebelah lift.

Pria#1 : “Ini baru dipasang ya? Oww…., buat tayangan iklan….,”

Pria#2 : “Tanggung, kecil bgt ukurannya,”

Pria#3 : “Itu gmn masangnya? Bisa dicongkel gak?”

Saya : (memandang pria#3 dan geleng2 sendiri)

Cerita#4

Title : Lebay

Lokasi : Matahari Department Store – Blok M Plaza

Cewek#1 : “Liat deh manequin yg itu,”

Cewek#2 : “Yg mana? Yg pake baju pink?”

Cewek#1 : “Iya. Iiihhh……, lebay banget sih manequinnya!”

Saya dan teman : (ngeloyor berlalu, sudah jengah dengan kelebayan yg berlebayan).

Sebagai Permulaan

1# – Empat Jam Menjelang Pergantian Tahun

Pencet channel Fox Crime, mulai menikmati ‘Dexter’ the serial killer. Dua jam kemudian mulai berasa eneg lihat tubuh bergelimpangan.

2# – Detik-Detik Menjelang Tahun Baru

Mikir, gw butuh resolusi baru gak ya?

3# – 1 Januari 2010

Menghajar Pondok Indah Mall seharian. Pulang membawa tentengan yang walaupun ringan tapi dipastikan membuat keuangan gw babak belur sampai dua bulan setelahnya. Oh ya, berat badan turun lagi 2 kg. Ukuran bajuku kembali ke ‘S’. Yatta!! :mrgreen:

4# – 2 Januari 2010

“Apa kabar kantorku, sayang? Laptop manisku? Mohon bantuannya untuk tahun ini lagi, ya! Oh ya Bos, laporannya setelah tahun baru ya,” – dan leyeh- leyeh lagi di sofa.

5# – 3 Januari 2010

Sadar-sesadar sadarnya bahwa ini adalah hari libur terakhir. Jadi, gunakan sebaik mungkin! And end up with watching ‘Dexter’ the serial killer again selama 4 jam lagi. Duhh…., somebody…., help me get out of this comfy sofa!

Lambung mulai menjerit. Asam lambung meraung-raung. Sukses tidur tiada nyenyak!

6# – 4 Januari 2010

a. Datang ke kantor dengan mata merah kurang tidur.

b. “Ya ampun ni anak, tahun baru masuk kantor udah pake hitam-hitam?? Lee, loe mau bikin gw tambah stress, ya??” – Wennie, manager purchasing.

c.  “Ok, laporan akhir sudah masuk. Yah walaupun sedikit tapi sales kita naik. Tahun ini bekerja lebih baik, ya!” – Big Boss, ngomong pake bahasa Jepang. Tanpa berusaha mengatakan achievement ini dengan bahasa yg bisa lebih dimengerti staff lain (bahasa Inggris, misalnya), tanpa mengucapkan terima kasih sama sekali! Status di YM kuubah dari ‘ngantuk’ menjadi ‘nenek sihir’.

d. Hasil general check up datang. Bagooss!! Kolesterol juara satu! Naik dibandingkan tahun lalu (membatalkan janji makan malam di Resto Soto Jakarta dan Sate Kambing paling enak dekat rumah)

e. Bete, hari pertama ngantor tapi gak ada yg berhasil dikontak. Masih pade liburan, yee??

f. YM sama Wendy

Wendy :  Gw barusan marah2 sama OB. Gw baru keluar toilet, ada yg suit2 godain gw gitu. Gw langsung  samperin. Gw “tembak” aja dia. ‘Maksud loe apa??’ Gw amuk dia. Belum gw gampar aja tuh OB!

Lee        : OB? Tadi siang gw malah ngamuk sama petugas keamanan ATM yang lagi ngawal duit.

Wendy : Heh?? Kenapa?

Lee        : Dia ‘suit-suitin’ gw.

Wendy : …………………….

Bego tu keamanan…….

7# – 5 Januari 2010

Resolusi Tahun Baru 2010 :

a. Mengejar target sales lebih baik dari sebelumnya.

b. Belajar bahasa Jepang lagi lebih keras dari sebelumnya dan lolos level 2 Ujian Kemampuan Bahasa Jepang.

c. Get in shape!

d. Turunin kolesterol. Hidup lebih sehat (dimulai dengan mengganti teh melati ke teh hijau, makan rebusan buncis dan wortel tiap malam).

e. Masih menghunus pedang keadilan (hari gini masih ketemu cowok kurang ajar? Lapor padaku. Biar kujadikan sansak di kantor!)

SELAMAT TAHUN BARU 2010

新年明けまして、おめでとうございます!!今年も、がんばってね!

😉

Penggalan Cerita#1

Cerita#1

Title : Camkan itu!!

Lokasi : Taman Air Mancur Setiabudi One

Cowok : “Kamu tuh apa-apaan sih?!”

Cewek: “Apa-apaan gimana?! Kalo kamu diusir Papah karena penampilan kamu kan’ aku juga yang malu! Ingat  ya Mas, jangan pernah pake sendal kalo kamu main ke rumahku lagi! Camkan itu!!”

Saya : (tersedak caramel frappuchino)

Cerita#2

Title : Hanya Omongan

Lokasi : Rumah sepupu

Saya : (beranjak dari kursi setelah selama satu jam dengan khusyu’ nonton ‘Oprah Winfrey Show)

keponakan pembantu sepupu : “Hah? Itu tadi Mbak nonton apa sih? Acara kok isinya cuma ngomong doang gitu? Emang apanya yang dilihat, mbak?”

Saya : (geleng-geleng kepala demi mendengar ucapan si keponakan pembantu sepupu saya. Lulusan SMA yang baru datang dari Solo)

Cerita#3

Title : Bumbu Percintaan

Lokasi : Sebuah Coffee Shop di FX

Cowok : “Sayang, kok foto kamu kayak orang lagi encok gini sih?”

Cewek : “An****!! Apa kamu bilang tadi?! Sialan, emang dasar cowok sok kecakepan loe!!” (melempar tasnya yang besar pada si cowok)

Saya : (mengelus dada)

Cerita#4

Title : Salahnya Infotainment!

Lokasi : Rumah teman

Saya : (sesaat memandang berita tentang pernikahan Tora Sudiro dan Mieke Amalia) “Doohh…, gak penting deh, El! Ganti, ah! Ngapain nonton infotainment!”

Ella : (termenung sesaat, lalu gusar) “Lee, kalo sampe gw jadi tambah takut buat married, itu salahnya infotainment juga!!” (mengambil bantal dan membantingnya)

Curhat Si Hitam Manis

Saya kurang suka janjian pagi-pagi di mall. Apalagi jam 10 pagi, saat mall baru saja buka. Selain karena alasan saya susah bangun pagi pas weekend, emangnya mau ngapain pagi-pagi nangkring di mall?? Bantuin cleaning service-nya bersih-bersih?? Tapi waktu Kania, seorang teman yg baru pulang jalan-jalan ke Korea dengan membawa setumpuk oleh-oleh mengajak janjian di Senayan City, saya tidak mungkin untuk menolak. Demi seperangkat kosmetik dari Korea, jam 10 teng! saya pun dengan sumringah muncul di lobby Senayan City dan melambaikan tangan pada Kania.

Saat kami cipika-cipiki di lobby, sebuah CRV abu-abu berhenti. Seorang baby sitter dengan sigap turun dan membuka pintu belakang mobil, menurunkan kereta dorong bayi. Dari pintu tengah dengan elegannya turun seorang wanita berkulit gelap mengenakan kaos pink tangan buntung dan berkaca mata hitam dengan menggendong bayi mungil. Bayi yang berkulit putih dan berambut pirang tersebut jelas-jelas mengindikasikan bahwa paling tidak salah satu dari orang tuanya adalah orang asing. Or, kalau si wanita hitam manis ini adalah si Ibu, maka jelas sang Bapaklah yang keturunan asing itu.

Dari jarak kurang dari sepuluh meter dengan mereka, sahabat saya ini mendesis.

“Huh, bibi face!

Tanpa menunggu lama langsung saya geret Kania masuk ke dalam.

Tidak sedikit teman wanita saya yang mengatakan bahwa mereka tidak bisa berpasangan dengan sesama orang Indonesia. Sebagian berasalan orang Indonesia kebanyakan aturan dan terlalu banyak memasang barrier. Sebagian mengatakan pria Indonesia membosankan, plin plan, kurang romantis dan tidak mandiri. Ada juga yang memilih berpacaran dengan orang asing karena punya pengalaman pahit pacaran dengan pria Indonesia.

Lalu apa hubungannya dengan ‘bibi face’ di atas? Continue reading

Bukan Wonder Woman

Waktu saya ceritakan tentang hal ini pertama kali pada rekan-rekan penyiar di kantor saya dulu, respon yang keluar antara lain adalah:

“Dasar Mbak Lee tee-aaa!

“Gila loe, Lee!”

“Busett, mbak Lee udah kayak Wonder Woman aja,”

Begitulah respon yang saya terima saat menceritakan peristiwa yang terjadi pagi harinya di sekitar kampus almamater saya.

Wonder Woman

Cerita ini sebenarnya terjadi sudah agak lama, kira-kira lima tahun lalu. Pada suatu pagi setelah mengantarkan seorang teman ke stasiun, saya yang mengendarai motor dipepet oleh sebuah motor yang dinaiki dua anak lelaki. Kenapa saya bilang ‘anak’, karena keduanya memang masih anak-anak bau kencur sepantaran anak SMP.

Untuk anda yang pernah ke Jogja, pasti sudah tahu bahwa umumnya pengendara motor di Jogja melengkapi dirinya dengan ‘peralatan perang’ a.k.a jaket, sarung tangan, dan masker. Ya, ‘peralatan perang’ yang dimaksud adalah peralatan melawan teriknya matahari Jogja yang luar biasa menyengat. Jadi dengan tubuh dan wajah yang dibalut oleh peralatan tersebut, maka heranlah saya ketika dua anak bau kencur tadi menjejeri motor saya dan…….

“Cewek…!” seru anak yang duduk di depan.

“Hai, cewek…!” seru anak yang duduk di belakang.

Saya bengong saking shocknya.

“Cewek mau kemana, sih?” tanya yang satu.

“Cewek godain kita donk!” seru yang satunya lagi.

Dari semula bengong, saya langsung jadi naik darah. What the f***k?!!

Saya buka masker saya dan berteriak pada mereka.

“Hei, berhenti kalian berdua! Minggir ke situ!”

Tapi dua anak itu malah tertawa terbahak-bahak. Akhirnya saya putuskan bahwa untuk situasi ini saya mampu untuk berbuat sedikit nekad. Dengan bermodalkan pengalaman ikut balapan jalanan di jaman baheula, sekaligus pengalaman kecelakaan dimana saya belajar bahwa bila ditendang orang saat mengendarai motor bisa mengakibatkan kecelakaan, maka dengan kaki yang saya angkat mengarah ke pengemudinya, saya mengancam mereka untuk berhenti atau saya tendang.

Emang dasar sableng! Gak heran kalau sampai sekarang anak kampus saya lebih mengenal saya dengan sebutan ‘si mbak Kamtib’ – peranan yang saya ambil dalam dua tahun berturut-turut ospek mahasiswa baru di kampus. Ternyata saya emang bisa menakutkan di depan orang lain.

Dan berhentilah dua anak bau kencur itu, dengan tampang bingung.

Sebenarnya apa sih yang saya mau dari dua bocah tengil itu sampai melakukan tindakan se-nekad itu?

Simple. Saya mau mereka minta maaf. Saya mau mereka tahu bahwa tindakan yang baru saja mereka lakukan adalah salah satu bentuk pelecehan terhadap lawan jenis. Saya mau mereka belajar dari pengalaman ini dan tidak mengulanginya lagi di lain waktu.

Mereka tertawa sembari mengatakan, Mbok biasa wae, mbak. Ini kan sudah biasa,”

Biasa gundulmu!!

Akhirnya saya ulang permintaan saya supaya mereka minta maaf, sambil (kembali) menggertak bahwa saya akan melaporkan ke polisi atas dasar pelecehan.

Rupanya gertakan saya mengena. Dengan enggan akhirnya mereka minta maaf sambil sebelumnya menyebutkan nama dan dimana mereka bersekolah. Betul dugaan saya, keduanya masih bocah beratribut celana pendek biru alias SMP!

Komentar yang saya terima ketika menceritakan hal di atas bermacam-macam. Dari bengong, tepuk tangan, geleng-geleng sampai mengatakan kalau saya ‘sok kuat’ ,  ‘cari perkara’, atau bahkan menyamakan aksi saya dengan aksi ‘Wonder Woman’. Terus terang bukannya saya tidak takut sama sekali saat melakukan hal nekad itu. Namanya aja nekad, ya modalnya cuma aksi penuh tekad aja. Kalau terjadi apa-apa, paling-paling saya teriak.

Bila sebelumnya saya pernah menyebutkan betapa banyak individu-individu yang merasa memiliki hak istimewa, maka kali ini rasanya saya ingin berteriak betapa semakin rendahnya kepedulian individu-individu yang lalu-lalang di sekitar kita saat ini.

Apa buktinya? Wong saya ikutan nyumbang untuk gempa di Padang kok. Wong saya menyantuni fakir miskin dan anak yatim kok. Wong saya rajin bayar zakat tiap bulan kok. Saya peduli kok ! – taruhan, di antara anda pasti ada yg bilang begitu.

Kepedulian tidak selalu harus dilakukan dengan hal-hal di atas. Kepedulian bisa dilakukan lewat hal-hal kecil. Misalnya, dengan mengingatkan bahwa menggoda cewek yang lewat adalah salah (seperti yg saya lakukan), sampai peduli dengan kesehatan orang lain. Anda mau merokok, silakan. Tapi jangan merokok di depan saya yang asapnya persis masuk ke hidung saya! Anda mau meludah, boleh. Tapi pilih tempat yang tepat, di toilet misalnya. Sangatlah mengherankan buat saya menemukan betapa banyaknya orang yang hobi meludah di jalan, di trotoar, di parkiran mobil, di taman, di tempat-tempat terbuka yang memungkinkan penyebaran virus lewat udara. Please tell me, sejak kapan orang Indonesia punya kebiasaan meludah sembarangan? Karena seingat saya orang tua saya pernah mewanti-wanti bahwa tidak sopan dan tidak baik untuk meludah di muka umum. Menyaksikan semakin banyak orang yang melakukannya, duhh…., sungguh pemandangan yang menjijikkan dan mengundang saya untuk menggampar pelakunya.

Beberapa minggu lalu saya melihat video tentang seorang wanita muda yang mengusir pengendara-pengendara motor dari trotoar jalan Sudirman yang mengganggu hak pejalan kaki. Kemarin saya menemukan seorang teman, Yessy Muchtar, mengusir seorang pria dari  angkot setelah dengan cueknya merokok di dalam angkot sehingga mengganggu penumpang lain. Saya, wanita muda di trotoar Sudirman, dan Yessy bukannya berlagak ‘sok berani’ atau ‘cari gara-gara’. Aksi kami bukan karena ingin berlagak seperti pendekar wanita. Kami bukan Wonder Woman! Kami hanya peduli dengan hak kami dan hak orang banyak. Action speak louder than words, no matter how fast words spread!

——–

Yessy Muchtar : FYI – Jangan pernah bertemu saya di angkot, pagi-pagi, dengan asap rokok mengarah pada saya. Saya bisa suruh kamu turun dari angkot saat itu juga. Persis seperti yang saya lakukan baru saja. Terimakasih!