Unnecessarily Intimidated

Buzz!!

Lee

Loe pasti mikir betapa enaknya kerjaan gw sampe gw bisa bolak-balik ke Starbucks tiap kehabisan kopi

Atau creambath di salon gedung sebelah pas jam kerja

Itu semua bukan karena gw sengaja milih profesi yg kerjanya cuma ongkang-ongkang kaki doang!

Sekretaris Direksi itu aslinya gak seperti itu!

Tapi itu karena proyek kantor gw udah jalan!

Kerjaan gw jadi lebih ringan

Direksi gw juga lebih sering di Riau daripada di kantor gw

Jadi jangan sekali-kali loe berpikiran kalo gw gak ada kerjaan!!

Kelakuan loe bikin gw tersindir, tauuu….!!

Dan yang lebih nyakitin…., loe kayaknya gak nyadar dan loe terus melakukan itu

………

Saya diprotes oleh seorang teman lewat sepenggal isi YM di atas. Mayke, wanita cantik dari kantor ujung selasar di lantai yang sama yang berkawan dengan saya sejak hampir 3 tahun lalu ini melayangkan protes pada saya.

Semenjak enam wanita muda pengacara dari kantor di ujung selasar yg lain mulai sering bergabung dalam makan siang yang dulu hanya terdiri saya, Mayke, dan Wennie (sebelum cewek yg disebut belakangan ini pindah kantor 2 bulan lalu), perlahan saya merasakan ada yang terusik dalam diri Mayke.

Awalnya hanya dari percakapan seputar kelas menengah negeri ini. Ternyata, percakapan yang saya buka dengan ringan ini disambut dengan sangat menarik oleh mereka. Tak urung saya jadi semakin tertarik membahas lebih lanjut karena sedianya topik itulah yang diusung media saya beberapa minggu setelahnya. Perbincangan seputar kelas menengah itu seingat saya lalu berkembang ke arah akronim baru dari negara-negara yang diprediksi akan menjadi pemimpin ekonomi mendatang (mendatang = entah kapan, maksudnya), Chindonesia – China, India dan Indonesia.

Percakapan yang, terlambat saya sadari, ternyata sulit diikuti oleh Mayke.

Berlanjut ke obrolan ringan seputar musik, di mana salah seorang wanita pengacara itu mengajak saya nonton konser ‘Kings of Convenience’ di Ritz Carlton. Mayke yang baru saja beli (kalo gak salah) CD bajakan kompilasi ST 12 terlihat sedikit bete di kursinya.

Sampai kemarin siang, saat saya menganjurkan salah satu dari wanita-wanita pengacara yang tak sengaja berpapasan dengan saya di toilet dan mengajak saya menyambangi Caramel Frappuchino di Starbucks gedung sebelah, untuk lebih baik mengajak Mayke ke Starbucks daripada saya.

Dan Mayke marah. Meninggalkan penggalan YM di atas yang saya temukan setelah makan siang.

Tak ayal saya terkejut. Penggalan YM di atas saya baca berkali-kali sebelum akhirnya melanjutkan ke penggalan yang lain.

Gw tahu, loe mungkin mikir gw wanita yang gak punya ambisi

Tapi gw sama sekali gak seperti itu!

Gw juga pengen punya karier yang bagus!!

Gw juga berperan membangun kantor gw sampe jadi kayak sekarang ini!

Gw sekretaris direksi, tapi gw sendiri yang turun ke lapangan untuk ketemu warga dan dialog soal pembebasan lahan…! Gw gak pernah cerita aja sama loe!

Jadi, bukan karena gw sekarang santai banget berarti gw gak punya ambisi!

Loe salah!! Loe salah besar!!!

Saya garuk-garuk.

Duh, Mayke…

Sebenarnya andai aku punya waktu sepuluh menit saja untuk keluar dari data-data yang menumpuk di meja dan suara atasan yang cempreng dan demanding, daripada kopi aku lebih butuh menarik rambutmu yang kerap dikuncir kuda. Melihat kamu marah-marah dan berteriak, “Extension gueeee….., extension gueeee……, ati-ati itu extension guee…!!” – akan jauh lebih menyegarkan daripada Caramel Frappuchino yang membasahi kerongkongan. Kalau saja kamu tau kenapa aku menyarankan Desy mengajak kamu waktu itu adalah karena aku yakin, wajah sendunya yang tampak setelah dimarahi atasannya akan tersegarkan oleh keceriaanmu daripada Mocchacino kesukaannya.

Duh, Mayke…

Jangan kamu hiraukan kami-kami yang sok pintar dan bicara soal politik – ekonomi negeri ini!!

Talk Over Breakfast

“Oh mengapa tak bisa dirimu
Yang mencintaiku tuluh dan apa adanya
Aku memang bukan manusia sempurna
Tapi ku layak dicinta karena ketulusan…. “

(Pasto)

Dan air matamu pun menitik lagi. Padahal sudah kukatakan agar jangan mendengarkan radio ataupun menonton TV dan sebangsanya selama luka hatimu masih terbuka.

“Udah, biarinin aja gw nangis! Gw kan’ bukan loe, yg jatuh cinta aja pake perhitungan!” Katamu sengit sambil menyeka bulir-bulir air mata yang mulai jatuh.

Nah kan, buntut-buntutnya kamu pasti salah lagi mengartikan tatapan mataku. Bukan sayang, ini bukan tatapan untuk memintamu tegar atau supaya berlaku kuat. Tapi, well, gak heran kalau kamu pun salah paham. Kamu pastinya orang ke 201 yang tersindir hanya oleh tatapan mataku.

Kuletakkan telor mata sapi setengah matang pada piring yang sudah kuisi dengan setangkup roti tawar. Kau menaikkan alis, pertanda kurang setuju pada pilihan menu sarapan pagiku.

“Makan aja, deh. Atau kalo gak mau, nanti gw suruh si As beli nasi uduk di pasar,” sahutku. Kau mengangguk, lalu meniup-niup kopi kental panas yang sebenarnya telah lama kutuang sebelumnya. Kurasa figur yang sedang patah hati bukan nalarnya saja yang mati, tapi juga indera perabanya.

Lalu kamu memandang kosong pada TV yang menyala. Metro TV menayangkan “Metro Pagi”.

“Kenapa ini terjadi lagi sama gw sih?” Kamu berkata pedih.

Aku pun kembali terpekur, seperti yang kulakukan tadi malam saat kamu datang dan kemudian menangis di kursi yang sama. Bukan hanya malam tadi, tapi tiap kali kamu datang dan tersedu dengan hal yang sama aku juga masih melakukan hal yang sama. Tujuh tahun aku mengenalmu, dan dua kali dalam setahun kamu menangisi ini. Sayang, mungkin air mata yang kau tumpahkan sudah sebanyak air kolam ikanku sekarang.

“Aku layak dicintai bukan….?”Tanyamu di antara isakan tangis.

Aku kembali pada posisiku tadi malam, memegang segelas kopi dan terpekur menatap wajah mendungmu.

“Aku tidak peduli harta…., aku tidak peduli jabatan…,”

Tentu sayang, kamu adalah Head of Marketing Communication dengan gaji puluhan juta per bulan.

“Aku juga tidak peduli asal usul keluarga.”

Memang, sudah tidak jaman mempertimbangkan apakah Mbah Kakung seseorang bekas anggota PKI atau bukan.

“Aku tidak peduli bibit, bebet, bobot!!”

Hmm…., sama dengan sebelumnya. Kamu hanya ingin merangkum dan menegaskan kembali.

“Aku hanya ingin seorang lelaki yang mencinta…….,”

Ah, kamu mulai jujur….

“Apakah aku tidak pantas untuk dicinta?”

Aku sahabat dekatmu! Tentu saja aku akan menjawab kalau kamu SANGAT PANTAS untuk dicintai!

“Mengapa tidak sedikit pun mereka tergerak dengan ketulusanku?!”

Oh…., andaikata kamu tergerak mencari tahu lebih jauh lagi….

“Sampai kapan aku harus menunggu dalam barisan? Mengapa antrianku tidak juga maju?!”

Ahh…!! Konotasi yang kamu pakai berganti sekarang! Great, at last something new dalam curhat rutinmu.

“Ray bilang kita bukan jodoh. Darimana dia tahu?!”

Oh!! Tentu saja dia tahu!!

“Dia juga bilang ‘we’re not meant for each other!’ How come, setelah kita menikmati kebersamaan hampir setengah tahun ini! Padahal dia bilang dia sangat menikmatinya….,” Kamu menyeka air matamu.

“Aku tidak mengerti laki-laki….,” ujarmu sedih.

Kutatap dirimu yang bersandar meringkuk di kursi. Kamu terlihat kecil, kamu terlihat rapuh. Padahal biasanya kamu terlihat gagah dan kuat.

Ah Tomi sayang, aku juga tidak mengerti laki-laki, makanya aku tidak menyukai satu pun di antara mereka. Sayangnya kamu menyukai mereka. Dan kamu patah hati dua kali setahun dengan mereka yang menyukai wanita.

Ah, ini percakapan yang terlalu berat untuk dilakukan saat sarapan pagi!

Pada Suatu Malam

Kepala saya masih sedikit sakit dan tangan yang terkilir mulai terasa nyeri ketika BAP selesai dibuat.

“Yah, sekarang yang penting Mbak istirahat aja, akan kami hubungi segera setelah ada perkembangan,” kata petugas yang sejak tadi mengetikkan keterangan yang saya sampaikan.

Jam di dinding menunjukkan pukul 2 pagi. Dan saya benar-benar lelah. Lamat-lamat dari balik bantal yang saya dekap di dada, suara-suara yang terdengar mengantar saya ke dalam alam mimpi.

Saya adalah seorang pendekar wanita. Dikatakan sebagai yang tak terkalahkan dari pegunungan Utara. Saya sedang mengemban tugas mengantarkan dokumen dari gulungan daun lontar hasil penyusupan telik sandi kerajaan yang saya sematkan di pinggang. Dengan menunggang kuda putih yang gagah, saya melintasi padang rumput menuju ke istana di tanah Barat. Sekelebat tanpa saya duga, dari belakang melesat dua orang penunggang kuda menyambar gulungan daun lontar yang tersemat di pinggang saya itu. Saya yang mulanya terkejut, segera dapat menguasai diri dan mengejar kedua perampas tersebut. Tidak tahukah kalian siapa saya?! Saya adalah pendekar wanita yang tak terkalahkan dari pegunungan Utara! Saya layangkan selendang biru pada mereka yang niscaya akan terasa seperti tendangan seribu kaki kuda pada tubuh mereka yang kurang ajar.

Dan mereka pun terjatuh. Dengan jumawa saya mengambil kembali gulungan daun lontar itu dan meninggalkan mereka yang terkapar di tanah.

Saya terbangun.

Jam di meja menunjukkan pukul 9 pagi.

Ternyata itu semua tadi hanya mimpi. Pada kenyataannya jambret yang merampas tas saya malam sebelumnya berhasil melarikan diri. Saya bukanlah si pendekar wanita dari pegunungan Utara seperti dalam mimpi tadi.

“Sabar ya, kak Ikhlaskan saja. Yang penting kamu gak apa-apa,”  Kata Bu Pane.

“Iya, kak. Banyak lho yang dijambret dengan kekerasan. Temennya Mbak Linda ngejar jambretnya sampai jatuh di jalan. Tasnya emang masih dapat, tapi sampai sekarang temennya Mbak Linda itu bolak-balik ke dokter terus, sering sakit kepala habis jatuh itu,” sahut si Pane bungsu.

Saya manggut-manggut.

Jujur.

Saya ikhlas. Sudah lama saya sadari bahwa sesuatu itu hakikatnya bukan milik manusia seutuhnya. Dunia berputar. Bila saat ini sesuatu ada di saya, lain kali bisa ada di tangan yang lain. Manusia lahir tanpa membawa suatu apa pun. Dan akan kembali kepada-Nya hanya bermodalkan amalan dan iman yang dipupuknya selama hidup. Bukan Blackberry, bukan iPod, bukan dompet Mango yang dibeli di Malaysia waktu sale, ataupun Toyota Alphard dan rumah mewah seharga 4 Milyar rupiah seperti yang dimiliki Gayus Tambunan.

“Yang ikhlas ya nak,” Pak Pane menenangkan.

Saya mengangguk.

“Pap,”

“Ya?”

“Pinjam HP-nya ya,”

“Ah, kamu pakai saja itu,”

“Gak, kakak pinjam aja, kok. Tapi 3 bulan…..,”

Segitiga dan Logika

“Apa yang salah dari mencintai lelaki yang sudah dimiliki orang lain, Lee?”

Saya terdiam mendengar pertanyaan itu. Wanita yang menelepon saya ini telah setengah jam menumpahkan tragedi cinta segitiganya pada saya. Well, kalau cinta bisa disebut sebagai tragedi, mungkin cinta segitiga adalah salah satunya.

“Kalau cinta tidak pernah salah, lalu siapa yang salah? Aku yang tergoda rayuannya? Dia yang tidak puas dengan pasangannya? Atau pasangan yang super sibuk dan gak ngasih perhatian itu? Siapa?!”

Wanita ini mulai terisak.

“If everything happens for a reason, I really don’t have a clue what the purpose of all these s**ts!!”

Saya menghela napas. Masih terdiam. Tak kuasa mengatakan apa yang saya pikirkan.

“Honey, I believe everything happens for a reason. Tapi aku tidak percaya pada pepatah edan yang berkata bahwa cinta tidak harus memiliki. So, do you really wanna own this man?” – namun kata-kata ini hanya menggantung di langit-langit mulut saya, tanpa pernah terujar pada wanita ini yang nalarnya sedang tumpul.

Sampai saat ia datang menggedor daun pintu saya pagi harinya disertai isakan keras. Si pemilik sah laki-laki yang berada di sudut segitiga itu datang padanya beberapa jam sebelumnya, meninggalkan tanda mata merah pada pipi mulusnya dan sejuta sumpah serapah yang akan menghantui malam-malamnya sampai sepuluh tahun ke depan.

Saat ini, tiba-tiba saya teringat kata-kata yang hendak saya ucapkan tadi malam.