Capek Sama Jakarta

Gramedia Matraman discount bow…!! Temen gw beli novelnya Sophie Kinsella cuma 10 ribu!!

Begitu bunyi SMS yang masuk ke HP saya minggu lalu. Sebuah SMS berisi pengumuman obral buku besar-besaran di Gramedia Matraman menjadi jawaban dari ketidakhadiran si teman di tempat di mana saya menunggunya malam itu. Doski yang baru saja landing dari Kuala Lumpur ternyata bela-belain menghajar lalu lintas sore Jakarta dari bandara Soekarno-Hatta demi penawaran menarik ini, daripada mengantar oleh-oleh buat saya. Hiks….

Maka saya pun tidak mau kalah.

Pencet-pencet HP, telpon sana-sini, dan tercapailah kesepakatan untuk menyambangi Gramedia Matraman hari sabtu kemarin dengan seorang sahabat pria. Rencana kami buat dengan cermat.

“Jam 9 pagi loe jemput gw dulu, kita hairmask di salon Tante gw. Abis itu cabut ke Gramed Matraman, trus lanjut ke Late Night Shopping Plaza Semanggi, ok?”

“Deal!” kata teman saya, lelaki ganteng yang sudah dua bulan ini kelimpungan cari salon yg “pokoknya hair stylistnya bukan banci!” untuk melakukan treatment satu itu pada rambutnya yang disinyalir mulai rusak.

Maka datanglah ia jam 9 pagi lewat banyak, khas orang Indonesia. Tanpa banyak ba-bi-bu saya langsung naik ke boncengan motor, dan kami pun berangkat menuju hair studio milik Tante saya. Hair mask selesai dilakukan pukul 12.30 WIB. Dengan sedikit berbasa-basi pada si Tante, kami pun pamit. Cengangas-cengenges demi membayangkan tumpukan buku diobral dan mall yang banting harga.

Tanpa terbersit sedikit pun betapa beratnya perjalanan yang harus ditempuh ke ranah tujuan itu.

Pukul 13.07 WIB – Kalimalang

Ban belakang bocor

“Untung deh, ada tambal ban tuh,” Kata teman saya sambil menunjuk tambal ban yang letaknya tak sampai 10 meter dari tempat motornya terhenti.

“Ganti ban gak, bang?” tanya si tukang tambal ban dengan dialek Bataknya yang kental.

“Gak usah, tambal aja. Ini ban dalam juga saya baru ganti,” jawab teman saya. Saya? Duduk anteng di kursi kecil sambil kipas-kipas.

Dalam 15 menit, beberapa motor datang dengan keluhan yang sama. Saya mulai curiga.

Ban selesai ditambal. Kami meneruskan perjalanan.

Lima menit kemudian….

Ban bocor lagi

“Hah?! Kok bocor lagiii?? Sial nih tukang tambal ban!!”

Yak! Ban belakang yg tadi ditambal bocor lagi. Padahal jaraknya gak sampai 500 meter dari tempat tukang tambal ban tadi.

“Lee, loe naik taksi aja ya. Gw mau samperin lg itu tukang tambal ban!” Seru teman saya sambil menggeretakkan gigi. Akhirnya saya naik taksi dengan hati gak enak berhubung teman saya itu pastinya harus lari-lari menuntun motor kembali ke tempat si tukang tambal ban di tengah terik matahari, sementara saya malah enak-enakan duduk santai di taksi.

Sampai di Gramedia Matraman

Pukul 14.37

Gramedia Matraman

Bersuka cita. Akhirnya sampai juga di tempat yang diidam-idamkan. Setelah menenteng 10 buku dalam tas belanja, teman saya datang.

“Gimana? Gimana? Loe apain tuh tukang tambal ban?”

“Sialan! Dalam radius 200 meter gak ada tukang tambal ban lain selain dia..! Udah abis gw marahin, akhirnya tetep aje gw ganti ban di dia..! 40 ribu, damn! Padahal tempat lain paling cuma 30 ribu…!!” bersungut-sungut teman saya menceritakan kejadian di tukang tambal ban.

Untungnya…. obral buku di Gramedia Matraman itu BENERAN obral. Gak lama mukanya kembali cerah terjun ke lautan buku murah.

Satu setengah jam kemudian…

Pukul 16.00

Cari Makan

“Cari makan, yuk. Gw tau tuh soto yang enak dekat sini,” kata teman saya.

“Yuuukkk!!” Makan gitu loh, dan tentunya sudah pasti Reva Lee bakal ditraktir :mrgreen:

Tapiiiii………..

Pukul 16.20 – Perempatan Matraman

Ciiitt…! – lampu merah, teman saya menghentikan motornya di sebelah kanan jalan, dekat pembatas Trans Jakarta, karena kami akan belok kanan. Motor doski persis berada paling depan sejejeran dengan mobil.

Tiinnn…!! Tiiinn….!! Motor di belakang meng-klakson. Teman saya cuek. Saya juga cuek. Kami tidak melanggar lalu lintas.

Tiiinnn….!! Tiiiinnnn….!! Beberapa motor lain mulai ikutan mengklakson. Teman saya cuek. Saya juga masih cuek. Kami tidak mau melanggar lalu lintas walaupun motor-motor di belakang kami memaksa kami untuk melanggar.

Tiiiinnnnn….!! Tiiiinnnnn…..!!

“Mas, maju aja Mas…!! Jangan ngalangin jalan..!! Gak apa-apa kok, maju aja…!!” seru seorang pengendara di belakang. Teman saya yang kesal akhirnya membuka kaca helm dan membalikkan badan. Menatap dengan pandangan kesal.

Sejenak bunyi klakson terhenti.

Reva Lee ikutan menatap satu-persatu pengendara motor di belakang. Sebel, ini motor-motor rese’ kayak  kebelet ke belakang semua lagaknya…

Lampu hijau menyala. Kami kembali melaju.

Pukul 17.02

Rumah Makan Mie Ayam (berhubung sotonya gak buka)

Selesai makan.

“Bow, pulang yuukk…. Gue kok rasanya capek banget ya….,” cetus saya.

“Iya…., gue juga. Capek sama Jakarta….,”



Advertisements