Enam Jam

Aku sedang nausea.

Dengan segelas es teh di tangan kanan dan sebatang rokok di jemari kiri, sudah enam jam ini aku nausea.

Apakah mungkin gara-gara es tehnya yang kebanyakan gula, rokok melempem yang teronggok di saku celana, ataukah karena rokok dan es teh bukan kombinasi yang sesuai, sudah enam jam ini aku nausea.

Es teh? Rokok? Rokok dan es teh?

Aku terkikik sendiri. Dua benda di tanganku ini membuatku geli. Kata siapa rokok tidak bisa berpasangan dengan es teh? Kamu? Kalian? Dunia?? Kata siapa rokok tidak bisa dipasangkan dengan es teh, heh?!

Kuhela napas panjang. Nausea ini tak kunjung hilang.

Jangan-jangan karena aku berada di tempat yang salah. Aku bukan peminum es teh, apalagi dengan gula yang banyak seperti ini. Rokokku juga bukan ini.  Entah ini rokok siapa, kenapa juga bisa ada di saku jeansku?

Eh, tunggu dulu. Ini bukan jeansku! Ini bukan jeansku!! Ini jeansnya siapa?!

Kuraba-raba lagi saku jeans yang membungkus kakiku ini. Terasa ada yang mengganjal di saku belakang. Segumpal kertas tebal berwarna pink kuraih paksa dari celana jeans yang sesak. Kurapikan kertas pink itu perlahan. Huruf demi huruf yang terukir dengan pena emas perlahan-lahan muncul. Dan aku tersadar.

Bukan.

Bukan es teh kebanyakan gula ini. Bukan rokok putih melempem ini. Bukan juga kombinasi rokok dan es teh sialan ini.

Bukan mereka.

Ini dia.

Ini dia yang membuatku nausea. Ini dia yang membuatku merasa mual dan ingin muntah.

Kertas pink ini. Kertas pink berbau harum ini. Begitu harumnya sehingga membuatku semakin merasa mual. Kubaca lagi perlahan goresan tinta emas yang terukir pada kertas pink itu, seperti yang kulakukan enam jam lalu.

Leksmana Sambodo dengan Laksmini Utari

Akad nikah akan dilangsungkan pada………

Enam jam lalu, sebelum aku berlari basah kuyup mencari perlindungan dari hujan pada lelakiku,  aku masih menjadi kekasihnya. Enam jam lalu,  sebelum kutanggalkan celana hareemku yang basah, menggantinya dengan celana jeans yang kukira milikku dan menemukan undangan pink beraroma Lavender itu di sakunya, segalanya masih seperti yang kutahu.

Enam jam lalu, si calon mempelai pria adalah kekasihku. Enam jam lalu, si calon mempelai wanita adalah sahabatku.

Enam jam lalu aku masih baik-baik saja. Enam jam setelahnya aku nausea.

Long time ago when I got crushed into reality.

P.S : Harap digarisbawahi, nama yg tercantum di atas adalah bukan nama yang sebenarnya.

Wanita Angin

PassionDancer

‘Sayang, kau mau kemana?’

Kutanya dia yang sedang memandang jauh ke depan. Dia yang tak bergerak, yang hanya diam terpaku. Mata dalamnya menelusuri jengkal demi jengkal nuansa jingga di hadapannya. Dia hanya terdiam, tak bergerak sejengkal pun. Namun kurasakan ia seperti hendak menjauh. Dan aku takut.

Perasaan itu kembali datang merayapiku.

‘Sayang….,’

Dia menoleh dan tersenyum.

‘Kau mau kemana?’ Kutanyakan lagi pertanyaan yang sama.

Dia mengernyitkan dahi, seakan tak mengerti dengan pertanyaanku. Lagi, lagi dan lagi kau lakukan itu. Kau berpura-pura, sayang. Kita berdua tahu itu. Dan aku takut.

Kau wanita yang senantiasa mengikuti ke arah mana angin berhembus. Kau yang datang hanya untuk singgah. Kau yang bebas, lepas, dan tak mampu kuikat. Kau yang bagaikan angin. Kau yang tak takut kehilangan apapun…

‘Aku takut sayang….,’

Kau kembali mengernyitkan dahi. Seakan tak mengerti dengan pertanyaanku. Kau berpura-pura, sayang. Kita berdua tahu kalau kau tahu. Aku takut kehilanganmu…


Note : picture taken from here