Pada Sebuah Kota

“Kota ini penuh amarah,”

Tiba-tiba saya teringat kata-kata itu. Pemandangan yang sedang terjadi di hadapan saya saat ini tak ayal menghadirkan kembali ucapan dari bibir merah-hitam milik wanita yang telah enam tahun tinggal bersama saya itu.

Saya menyipitkan mata, mencoba mencari tahu apa gerangan yang sebenarnya sedang terjadi di hadapan saya ini.

“Heh….!! Gila loe, ya!! Maen lari aja ke depan mobil gw!! Mau mati?!!”

Seorang wanita dengan make-up tebal dan kacamata hitam futuristik yang sangat besar mengeluarkan kepalanya dari SUV hitam yang dikendarainya. Dengan suara melengking ia menghardik pada wanita kumal yang jatuh terduduk hanya sepuluh cm dari bemper mobilnya.

Si wanita kumal gemetar. Kedua lengannya susah payah mencoba menopang tungkai yang ia paksa berdiri. Bola matanya melotot seperti akan mencuat keluar demi melihat SUV hitam yang berdiri jumawa di hadapannya.

“Heh!! Minggir, begooo….!! Gue ada meeting, nihh….!!” suara si wanita di balik setir SUV itu melengking lagi, sementara tangan kirinya menekan klakson beberapa kali.

Tiiinnn……!!

Tiiiiiinnnnn…..!!!

Si wanita kumal terkejut. Ia yang tadinya sudah setengah berdiri, terjatuh lagi. Dari kedua kakinya terlihat aliran kuning mengalir. Ia mengompol.

Dua pria yang sebelumnya tergerak untuk menolongnya seketika mengurungkan niat, sementara orang-orang yang bergerombol di pinggir jalan tanpa dikomando mulai menutup hidung.

Saya mencibir. 

Seorang petugas Polisi menepikan motor lalu menghampiri si wanita kumal.

“Ayo, ke pinggir, Bu. Jangan bikin macet jalanan,” kata si Polisi sembari memapah si wanita kumal ke tepi jalan.

“Tolong saya, Pak…. Anak saya….., anak saya…….,” ujar si wanita kumal terbata-bata.

“Kenapa anaknya?”

“Anak saya hilang dari kemarin! Anak saya hilang, Paakkkk!! Anak saya hilaaaaanngg…..!!” serta-merta si Ibu menjadi histeris.

“Tenang, Bu! Tenang! Bagaimana hilangnya?” tanya si Polisi.

“Kemarin siang saya tinggalkan di atas jembatan ini, Pak! Tapi cuma sebentar, sumpah!! Biasanya saya tinggal juga gak apa-apa!! Wong kami biasa tidur di situ, kok!” Si wanita kumal semakin histeris. Tangan kirinya mengacung, menunjuk-nunjuk ke arah jembatan penyeberangan yang terbentang di atas mereka.

“Baik…., baik…. Anak Ibu laki-laki atau perempuan? Umurnya?”

“Perempuan, Pak! Umurnya 5 tahun!” si wanita kumal mulai menangis.

Orang-orang yang bergerombol satu demi satu mulai melangkah pergi. Si wanita dengan kacamata hitam futuristik super besar tadi kembali melarikan SUV hitamnya dengan kecepatan tinggi. Saya memain-mainkan rambut, tak bergeming dari pojok halte bus tempat saya duduk sedari tadi.

Tiba-tiba ponsel saya bergetar. Sebuah nama berkedap-kedip di layarnya.

Saskia Hanum.

Spontan hati saya membuncah cerah.

“Hai, sayang! Gimana kota M? Sukses roadshow filmnya di sana?” sapa saya ceria.

“Huh! Sukses apanya?! Sponsor menarik dukungan, di sana mereka dapat kecaman juga. Mereka takut sama ormas yang ngaku-ngaku penegak moral bangsa itu! Asem!!” Jawab wanita di ujung sana, kesal. Saya mendesah panjang.

“Ya, sudahlah. Cheer up, baby. Ini bukan kali pertama kita diperlakukan seperti ini, kan? Ya udah, aku masakin iga panggang buat kamu malam ini, ya.” Kata saya menghibur.

“Oh, okey. Tapi sebelumnya, ada anak cewek di ruang tengah lagi makan Haagen-Dazs sambil nonton TV, baby. Anak siapa itu?”

“Oh, aku membawanya pulang kemarin. Panggil saja Intan, aku memberinya nama ‘Intan’. Coba lihat matanya, besar berbinar seperti intan,” jawab saya, ceria.

Advertisements

Sebuah Kata Maaf

‘Always forgive your enemies – nothing annoys them so much’ (Oscar Wilde). Yang satu ini sodara-sodara, adalah salah satu quote favorit saya.

Dengan pernyataan di atas ini rasanya akan langsung terbaca bagaimana pribadi saya yang sebenarnya, ya 🙂

Sesuai dengan tampang yang sering langsung diasumsikan orang memiliki kepribadian judes dan galak, saya biasanya juga langsung diasumsikan punya sifat pendendam. Bukan bermaksud mengelak, tapi saya sendiri sering tertawa mendengar orang yang mendeskripsikan saya seperti itu. Dianggap judes mungkin asalnya karena sifat saya yang ingin semua serba efesien dan perfeksionis, sehingga bila ada yang keluar jalur sedikit saya akan langsung mengingatkan. Sifat seperti itu ditambah suara bariton yang tegas seperti laki-laki tak ayal akan langsung diasosiasikan menjadi ‘judes’ ataupun galak’. Makanya gak heran kalau saya selalu terpilih menjadi pengurus kelas masa-masa sekolah dulu, mungkin karena dianggap paling kompeten untuk mengatur dengan modal suara yang saya miliki, haha

Saya sendiri sebenarnya tak ambil pusing dengan titel ‘judes’ dan ‘galak’ itu, tapi saya menganggap serius praduga ‘pendendam’. Tak lain dan tak bukan karena hal itu sedikit banyak benar adanya. Maka begitu saya membaca postingan dari dua orang sahabat, Mas Deka dan Jeung Yessy, yang kedua-duanya entah karena ‘nyambung’ satu sama lain ataupun karena terpengaruh suasana Ramadhan dan Idul Fitri kompakan nulis tentang sikap untuk maaf dan memaafkan, tak urung membuat saya jadi merenung.

saling-memaafkan

Selama hidup anda, berapa kali anda meminta maaf?

Continue reading

Unik. Unique. Unico. Le seul. ユニーク.

Mereka bilang aku unik. Kau juga bilang aku unik. Kau pun bilang kau jatuh cinta padaku karena aku unik.

Dan aku telah mendengarnya ratusan kali, ‘…karena kau unik…..,’

Unik. Unique. Unico. Le seul. ユニーク.

Well I think everyone is unique. So, what’s unique actually?

Isn’t it enough for you to say that you love me for being me?

no free image

The Meaning of Trust

Kompas.com – 1 dari 3 Wanita Mencek SMS di Ponsel Pasangannya

Jumat, 13 Februari 2009 | 15:59 WIB

Inilah hasil survei online yang pernah digelar oleh Virgin Mobile Australia, yang melibatkan 500 wanita usia 18-29 tahun. Fakta bahwa satu dari tiga wanita mencek atau melihat-lihat isi ponsel pasangan hanya salah satu dari banyak penemuan lainnya. Misalnya, enam dari 10 wanita mencek isi SMS di inbox ponsel saat pasangannya sedang mandi. Empat dari 10 mencuri lihat meskipun pasangan berada di ruangan yang sama. Kemudian, ini yang menyebalkan: 73% wanita menemukan hal-hal yang tidak ingin mereka ketahui sebelumnya. Sejumlah 45% wanita mengatakan SMS tersebut berisi pesan-pesan rayuan atau seksual. Satu dari 10 pasangan memutuskan hubungan gara-gara isi SMS tersebut!

Hal ini sangat ironis dengan keadaan kita sendiri. “Kita sendiri jarang membiarkan ponsel kita hilang dari pandangan. Namun begitu kita masuk ke kamar mandi, ternyata ada orang yang membuka-buka ponsel kita,” ujar Amber Morris dari Virgin Mobile.

Mencek isi ponsel pasangan sebenarnya hanya menunjukkan rasa tidak aman terhadap hubungan kita dengan pasangan. Perasaan kita sebagai wanita memang sangat kuat, dan karena tidak mungkin untuk mengkonfrontasi pasangan, kita lantas mencuri-curi lihat isi ponselnya. Padahal, kita sendiri yang akan kelabakan saat dugaan kita bahwa si dia berselingkuh ternyata benar.

1. Anda perlu mengetahui bahwa melihat-lihat isi ponsel orang lain, meskipun itu suami Anda sendiri, sama saja dengan mencuri. Namanya saja mencuri lihat. Di luar negeri, Anda bisa saja diadukan ke polisi dengan tuduhan melanggar privasi.

2. Ingatkah Anda ketika Jack Nicholson membentak Tom Cruise dalam film A Few Good Men dengan kalimat “You can’t handle the truth!“. Itulah bila Anda berusaha keras mengorek keterangan dari seseorang, untuk mendapati bahwa informasi tersebut ternyata sama sekali tidak menyenangkan, membuat shock, atau menyakiti Anda.

3. Setelah mengetahui bahwa Si Dia memiliki affair dengan sekretarisnya di kantor, Anda mengalami kesulitan bagaimana menyampaikan hal ini padanya. Jika pasangan mengetahui bahwa Anda telah membuka-buka ponselnya, ia pasti akan marah besar pada Anda. Ya, karena Anda dianggap lancang.

4. Saat menunggu waktu yang tepat untuk menyampaikan hal ini, Anda akan terus dilanda rasa curiga, was-was, sakit hati, tetapi juga ketakutan akan kehilangan. Maukah Anda mengalami hal tersebut?

Lantas, bagaimana bila akhirnya si dia mengetahui perbuatan Anda? Konsekuensinya tetaplah tidak menyenangkan.

1. Jika pasangan selingkuh secara emosional (melibatkan perasaan) maupun fisik (melibatkan hubungan seksual), atau keduanya, Anda akan sulit mempercayainya lagi meskipun Anda bersedia menerimanya kembali.

2. Jika pasangan memang tergolong pria brengsek yang akut, Anda memang harus memutuskan hubungan. Jika sebelumnya Anda begitu mencintai dia, kini Anda harus berpisah dengan “tidak baik-baik” dengannya. Perpisahan seperti ini akan membuat Anda terus sakit hati dan mengingat-ingat perbuatannya.

3. Anda harus belajar berkomunikasi dengan pasangan lebih baik lagi. Lakukan dialog, bukan diskusi, jika Anda menghadapi masalah. Dengan dialog Anda dapat membicarakan masalah dari hati ke hati. Sedangkan dengan diskusi Anda dan pasangan hanya akan berusaha mengalahkan satu sama lain.

42-18802665

Hehehe….,

Menyebalkan, rasanya sedikit tertohok. Kenapa? Tentunya karena saya salah satu oknum yang pernah melakukan hal yang bisa diadukan ke polisi dengan tuduhan melanggar privasi seseorang seperti di atas 🙂  Bagaimana dengan anda? Hayo, ngaku aja. Pasti pernah, kan? (cari teman, hehe).

Bagi saya, soal ‘trust’ atau kepercayaan adalah hal yang relatif , berada dalam zona abu-abu. Tentunya soal kepercayaan ini bukan hanya menyangkut ‘ngecek handphone pacar’, tapi mari kita persempit hanya pada topik di atas, kepercayaan pada pasangan dalam hubungannya dengan mengecek handphone, dan kita lewati saja pertanyaan saya : mengapa penelitian itu hanya menggunakan wanita sebagai objeknya, kok laki-laki gak diikutkan, emangnya laki-laki gak pernah ngecek handphone pacarnya apa??

Sudah…, sudah…, longkapi saja pertanyaan itu. Kita lanjut pada commentcomment menarik yang masuk untuk artikel di atas :

  • bener tuh survey… Saya ngalamin…. Kayak istri saya…..
  • anda benar saudara ^^
  • hihihi……… Iya juga sich..  Lha wong saya aja ngecek inbox nya dia 😀

Dapat disimpulkan bahwa hal ini ternyata sudah umum dikalangan pelaku percintaan…

  • makanya klo mo mandi HP nya dibawa aja pura-puranya sambil dengerin lagu, biar smsnya gak di baca dan diutek-utek. Itu sih pengalamanku selama ini…
  • aktifin lock code HP aja.. Buat kode yg rumit…
  • Kalo gue punya 1 HP khusus utk selingkuh – simpannya di kantor dong, jangan dibawa pulang, hehe… Aman , damai dan terjamin kok 🙂
  • Beli kartu dua dong minimal, ato HPnya yang dua. Yang penting aman terkendali……..

Dan sudah ada yang mengembangkan trik-trik jitu untuk mengantisipasi intip-mengintip HP antar pasangan, bahkan ada yang :

  • 3 dari 3 pria menghapus sms berbahaya di HP-nya 😀

mengadakan penelitian sendiri tentang hal ini, lalu :

  • kali-kali sih emang qta mesti cek HP pasangan qta, buat jaga-jaga aja n ngehindarin pasangan selingkuh!!

menyimpulkan bahwa ngecek HP pasangan memang diperlukan!

Benar demikian?

shock liat SMS

Seperti yang saya katakan di atas, buat saya soal ‘trust’ atau kepercayaan adalah hal yang relatif. Mengapa? Karena semua sebenarnya tergantung pada anda dan pasangan anda, bukan?

Sebagai wanita saya percaya bahwa kaum kita memang dianugerahi kelebihan: mengendus hal-hal yang tidak lazim yang ada pada sekeliling kita, dan itu berarti tidak terkecuali pasangan kita. Kita sendiri sebenarnya bisa menilai, apakah pasangan kita memang orang yang bisa dipercaya tanpa perlu membuka inbox HPnya sekalipun. Pasangan yang baik tidak akan membuat resah hati pasangannya sampai sang pasangan harus ngecek-ngecek HP segala.

Sayangnya, kita manusia tidak selalu melakukan hal yang benar, misalnya saja dengan jatuh cinta pada orang yang salah (baca: brengsek). Untuk saya, bilamana saya merasakan hal seperti yang dialami oleh si pemberi comment di bawah ini:

  • emang susah sih ngilangin rasa penasaran… Gatel aja ni mata klo lihat HP pasangan nganggur…

sepertinya ini satu pertanda bahwa anda ternyata tidak bisa mempercayai pasangan anda sepenuhnya. Keadaan ini bisa jadi membuat anda sah-sah aja untuk anda mengintip Inbox HP yang bersangkutan, tapi ingat, RESIKO TANGGUNG SENDIRI. Bisa jadi dugaan anda ternyata salah, atau anda benar tapi pasangan terlalu pintar (dengan mendahului men-delete SMS-SMS berbahaya), atau karena alasan sepele terkena dampak Pre Menstruasi Syndrome.  Pun kalau anda ternyata memang menemukan bukti kejahatan, jangan kaget apalagi merasa bersalah telah melakukan hal tersebut.

Lho, kok gak boleh kaget? Aneh banget sih. Bagi saya, lha ya bener tho, jangan kaget. Anda mengintip-intip HP pasangan kan’ untuk mencari pembuktian, kalo terbukti ya jangan kaget dong. Dan sebenarnya yang harusdiingat adalah bahwa masalah yang sebenarnya bukan berawal dari sejak anda menemukan bukti pada Inbox HP pasangan anda, tapi bermula jauh sebelumnya : mencintai orang yang salah (baca : brengsek). And that’s common buddy, happens to everyone…

Lalu jangan pula merasa bersalah telah mengintip HP pasangan, percayalah bahwa anda tak sendiri (jadi dosa dipikul bareng-bareng? hoho…, bukan berarti begitu, ya). Remember, anda terpaksa melakukan hal tersebut untuk mencari kebenaran. Menemukan bukti kejahatan pada benda bernama HP (walaupun harus mengobrak-abrik privacy seseorang) buat saya jauh lebih baik daripada terbebani resah selama 24 jam atau bahkan menyesal sepanjang jalan atau lebih jauh lagi, seumur hidup.

Trus gimana kalo sebenarnya kita yang salah, terlalu curiga dan lancang ngintip-ngintip HPnya padahal dia tidak seperti yang kita duga? Pun bila hal ini terjadi, saya rasa orang tersebut memiliki hati yang besar untuk mengerti tindakan yang anda lakukan, seperti yang dilakukan pria yang meninggalkan comment yang satu ini:

  • Dari bulan pertama gue pacaran sama doi (sekarang sudah jadi istri berjalan 2 taon), gue diam-diam menyadari dia suka cek HP gue. Rupanya pengalaman buruk dengan mantannya membuat dia lebih berhati-hati. Gue sama sekali tdk keberatan karena memang tidak ada yang gue sembunyikan. Hanya pria-pria tukang selingkuh yang marah-marah kalau HP-nya di intip sama pasangannya. BETUL TIDAK????!!!

Betuuulll!!

Note : I trust everyone.  I just don’t trust the devil inside them  ~ Troy Kennedy-Martin, The Italian Job


Menilai Kepribadian#1

Ini adalah email yang datang kepada saya pagi ini.

Tips dari Kanjeng Pengeran Candu.  Menurutnya setiap gerakan wanita ketika berjalan melambangkan kepribadiannya – (sumpah, baru pertama kali ini saya mendengar tentang Pangeran yang satu ini. Jadi jangan tanya siapa dia sebenarnya. Mungkin another paranormal atawa ahli primbon itu….) –

1. Bila berjalan, dari belakang kelihatan seperti tidak memijak tanah

Golongan wanita yang jalannya berginjat. Konon wanita ini adalah wanita yang tidak jujur, bila berbohong mulutnya laser (?) dan menyinggung perasaan orang lain. Wanita yang berjalan seperti ini juga terkenal dengan sikap egonya. Lebih parah, wanita ini biasanya pemboros atau suka membazir uang tanpa berpikir sebelum berbelanja. Padahal, uangnya itu masih banyak kegunaannya. Tapi jangan berkecil hati, kerana wanita seperti ini biasanya menjadi pujaan lelaki – (Dengan ini maka terkuaklah teka-teki dari siapa tips ini berasal, orang Malaysia tho… Hehe…, ‘kerana’...)

2. Bila berjalan, sering menoleh ke kanan dan kiri

Wanita seperti ini biasanya pandai menyimpan rahasia. Walaupun ramai yang menganggap wanita seperti ini tidak jujur, suka menipu teman sendiri, dan merugikan temannya. Namun, banyak lelaki yang berusaha untuk menaklukan hatinya. Konon wanita seperti ini senang diatur.

3. Bila berjalan suka menunduk

Cara berjalan melambangkan wanita seperti ini memiliki sifat yang tertutup. Ia hanya akan berbicara dengan orang-orang yang dekat dengannya dan dpt dipercaya untuk menyimpan rahasianya. Wanita seperti ini biasanya sukar untuk ditakluk hatinya. Disamping sikapnya yang dingin, wanita seperti ini tidak peduli dengan kehidupan cinta. Namun, jika ada lelaki yang berhasil menawan hatinya, dijamin akan mendapat kebahagiaan. Sebab, wanita jenis ini sangat setia, dan dia tidak akan mengkhianati lelaki yang dicintainya.

4. Bila berjalan menatap lurus ke depan

Wanita seperti ini biasanya memiliki pendirian yang teguh. Jangan sekali-sekali menentang apa yang pernah dikatakannya, jika anda tidak mau mendengar dia bicara panjang lebar. Meski pendiriannya teguh, tapi selalu berselisih pendapat. Jangan heran jika wanita seperti ini hanya mau bicara dengan orang yang berpengetahuan luas.

5. Bila berjalan badan tampak tegak

Wanita ini tegas menentukan sikapnya sendiri. Dia tidak mau urusan pribadinya dicampuri orang lain. Gaya bicaranya serius, menunjukkan dia memiliki pendirian teguh. Yang menarik dari wanita ini, ia bertanggungjawap terhadap apa yang pernah dilakukannya. Dia menyenangi lelaki yang mandiri tanpa meninggalkan sifat-sifat romantisnya.

6. Bila berjalan sambil cengar-cengir, senyam-senyum tanpa alasan jelas

Jelas ini adalah wanita gila, agak kurang waras jadi jgn didekati.

7. Bila berjalan sambil nyanyi trus bawa kecrekan

Berarti dia WARIA, bukan wanita asli… Dipastikan banyak pria yang takut padanya.

8. Bila berjalan sambil sesekali memamerkan barisan gigi-giginya yang putih.

HATI HATI! Kemungkinan dia belum disuntik rabies!

9. Bila berjalan, dari belakang kelihatan seperti tidak memijak tanah

Mungkin dia setan….

10. Wanita berjalan di air

Wuah… itu pasti Zhang Zi Yi lagi shooting film kung fu!!!

11. Wanita berambut panjang menutup muka dan keluar merangkak dari TV anda

Itu Sadako!! Avoid at all cost!!

12. Wanita berjalan mundur.

Ini adalah wanita plin-plan, jadi kalo mau behubungan dengan wanita jenis ini berhati-hatilah. Hari ini dia bilang ‘ya’ besok dia bilang ‘NO NO NO NO NO!!’

13. Wanita yg berjalan melompat-lompat

Nah lho ……, wanita apa itu?

Banyak cara untuk mengenali kepribadian seseorang, ataupun identitas seseorang. Untuk yang terakhir ini secara tanpa sadar namun terpaksa saya belajar mengenali identitas orientasi seksual seseorang yang sebenarnya. Terima kasih untukmu sahabatku – Rama, akhirnya aku jadi suudzan dengan banyak lelaki. Di mataku mereka kebanyakan jadi terlihat gay more than ever…..

Anyway, seperti saya bilang bahwa banyak jalan menuju Roma – termasuk banyak jalan mengenali kepribadian seseorang, berikut adalah bagaimana menilai kepribadian laki-laki dilihat dari cara minumnya.

1. Minum dengan mengangkat gelas tinggi-tinggi

  • Merupakan cowok yang pelit hal ini ditunjukkan dengan gayanya mengangkat gelas tinggi-tinggi yang dimaksudkan agar tidak ada yang minta minumannya.

2. Minum dengan mata terpejam

  • Merupakan cowok pemimpi sehingga saat minum pun lebih inget tidurnya.

3. Minum dengan menahan nafas

  • Merupakan cowok penakut karena menahan nafas takut kalau airnya salah masuk ke hidung.

4. Minum dengan sedotan

  • Merupakan cowok pinter karena pandai memanfaatkan hal yang ada disekelilingnya.

5. Minum dengan sembunyi-sembunyi

  • Merupakan cowok pencuri karena minum aja sembunyi takut ketauan polisi tuh.

6. Minum dengan tertawa terbahak-bahak

  • Merupakan cowok pemberani sekaligus bego.

7. Minum dengan berbicara panjang lebar

  • Merupakan cowok bermulut besar yang tahan haus.

8. Minum dengan berjalan atau berlari

  • Merupakan cowok sibuk atau cowok pelarian(napi yang lagi kabur).

9. Minum dengan membawa sendok

  • Merupakan cowok rakus karena minum dikirain mau makan – (taken from Kompas Forum) –

———

Jadi bagaimana anda menilai kepribadian seseorang?

Friends – Beneath One Rejection

Simply karena manusia tidak bisa hidup sendiri maka manusia memerlukan teman. Sore menjelang weekend minggu lalu tiba-tiba saya tergerak untuk menulis tentang ‘teman’ – yang baru bisa saya posting sekarang karena meeting mendadak Jum’at malam (sad). Agak aneh juga kenapa tiba-tiba rencana saya yang tadinya mau nulis tentang ‘Sarah Palin’ (sok-sok’an mau ngomentarin urusan politik dalam negeri orang) jadinya malah nulis tentang ‘teman’, mungkin karena sedari paginya sembari naik motor dibonceng dibelakang adik saya, saya terus-menerus teringat dengan beberapa teman saya.

Teman saya banyak (cieee….., bangga!!), tapi hanya beberapa yang saya panggil sebagai ‘sahabat’. Seperti kebanyakan orang bilang kalau kata ‘menikah’ dan ‘kawin’ itu punya arti berbeda dalam tanda petik, buat saya pun ‘teman’ dan ‘sahabat’ punya arti berbeda. Not all friends can be called as ‘sahabat’.

Keadaan tidak begitu menguntungkan bagi saya tahun-tahun belakangan ini, karena walaupun banyak teman disekeliling saya namun ‘sahabat’ saya malah tersebar sampai di Jepang sana. Sangat menyakitkan karena terkadang I do miss them so much! The least I could do adalah YM-an dengan mereka, itu juga kalau deadline lagi jauh di ujung kulon sana. Kadang saya dan mereka bisa nongol online pun, status yang terpasang adalah -busy-, sementara saya setia dengan status -Another day of busy-ness-. Hari itu lumayan menyenangkan, karena waktu saya tiba-tiba bisa sedikit longgar sehingga saya bisa menyapa seorang sahabat di Jogja yang setelah sekian lama akhirnya punya niat juga untuk hijrah ke Jakarta (Aku menunggu hari kita bisa nonton bareng, Mas Deka. Semoga waktu itu tidak lama lagi :)) Tapi karena saya sadar sesadar sadarnya bahwa waktu luang itu amatlah langka, maka saya pergunakan waktu langka itu untuk consult soal ngatur postingan saya di wordpress yang berantakan. Payah!!

Ada beberapa kejadian unik yang terjadi dalam hubungan persahabatan saya dengan segilintir sahabat itu. Misalnya dengan seorang sahabat senasib dan tidak sepenanggungan sejak kuliah di Sastra Jepang UGM dulu. Dikatakan senasib karena sama-sama mendapat dosen killer dan tugas segudang, tapi tentunya tidak sepenanggungan karena nasib nilai-nilai Ms. Nita ini ditanggung oleh sahabat saya yang lain, Mr. Edi, si jagonya tata bahasa dan conversation, sementara nasib nilai-nilai saya tentunya ditanggung oleh saya sendiri…

The story continues, sampailah ke saat saya resign dari pekerjaan saya sebagai penyiar di Jogja. Hijrah-lah saya ke Jakarta. Seperti yang umum diketahui orang, cari kerja gak gampang. Saya bergerilya mencari celah-celah lowongan pekerjaan, dan si Ms satu itu dengan setia mengikuti perkembangan gerilya saya termasuk sesi curhat, marah-marah dan nangis bombay karena susyahnya nyari kerja. Di antara sesi curhat dan marah-marah itu, ada satu hal yang saya ingat dengan jelas.

“Di kantor gw ada lowongan sih, Lee. Tapi head division-nya killer minta ampun. Malah sampai ada yang baru seminggu kerja langsung cabut karena gak tahan. Gw gak nyaranin loe ngelamar buat kerjaan itu deh..,”

That was the first.

“……, oh gitu ya? Yah, namanya juga cari kerja. Lagian loe baru sekali gagal interview aja juga udah senewen gitu. Sabarlah…,”

“Gw sih sabar, Ta. Keuangan gw yang udah gak sabar. Nafsu belanja gw juga tidak terpenuhi…,”

“Dasar gelo!!”

“Di kantor loe gmn, say?”

“Ada sih, Lee. Tapi gw gak nyaranin deh…,”

“Heh, si head divison killer itu belom dapat orang juga?”

” Kalo itu sih udah, yang kosong divisi lain. Tapi gw nyaranin gak usah deh, soalnya…. bla..bla..bla..bla..bla…,”

Jeng satu ini masih menolak dengan halus. Sampai suatu hari,

“Pokoknya loe jangan masuk kantor gw deh!!” Katanya, tandas dan jelas.

That was the last.

Intinya adalah, sahabat saya yang satu ini tidak mau menolong saya mendapatkan pekerjaan di kantornya. Padahal dia head-nya HRD, merangkap tangan kanan si bos, yang dari urusan administrasi, HRD, general affairs, driver, security system, ISO sampai barbeque party-nya si bos juga dia yang ngurusin. Istilahnya, nona satu inilah si dedengkot penguasa kantor setelah 4,5 tahun masa pengabdiannya di perusahaan tersebut. Memasukkan saya sebagai staff baru cincai-lah ibaratnya… Tapi apa mau dikata, sang dedengkot tersebut tidak tergerak menolong saya. Padahal katanya kita sahabat…. Saat itu saya sedikit ragu dengan arti persahabatan antara kami berdua.

Tapi toh kurang dari 3 minggu kemudian saya mendapatkan pekerjaan juga, yang notabene adalah berkat sarannya. Membuat saya sedikit melupakan tentang kesangsian saya atas persahabatan kami.

Sampai lima bulan yang lalu.

Rupanya tiga bulan saja waktu yang saya lewatkan dimana saya tidak bekerja membuat saya lupa bahwa yang namanya ‘dunia kerja’ itu adalah dunia penuh intrik, senggol-senggolan dan tendang-tendangan.

Sampai di Jumat pagi lalu.

“Gw gak mau loe masuk kantor gw karena gw gak ingin persahabatan kita berantakan, Lee. Di Jogja loe resign gara-gara intrik di kantor loe, apalagi di jakarta.”

Oooohhhhh……… Hati saya mencelos. Untung saya tidak mengkonfrontasi dia. Untung saya tidak bertanya even a word tentang alasan dibalik penolakannya untuk menolong saya mendapatkan kerja di kantornya. Untungnya saya berpegang teguh pada penilaian saya tentangnya yang didasarkan dari 9 tahun persahabatan kami. Untungnya saya percaya bahwa jeng yang satu ini pasti punya alasan yang masuk akal dibalik itu. Untung saja…

Untungnya dia juga mengerti saya. Untungnya dia tahu betapa saya bisa sangat keras kepala. Untungnya dia mengerti bahwa saya bisa sangat memaksa. Untungnya dia adalah dia. Untungnya dia belum pindah juga Ke Sydney, yang kalau itu sampai terjadi saya pasti akan sangat bersedih.

Apalah Arti Sebuah Nama

One thing about my name, it’s not easy to say. Mungkin inilah yang akan terjadi bila nama anda diambil dari bahasa asing.

Tidak seperti nama yang berbau kebarat-baratan  seperti Richard, George, dan David yang lebih mudah diucapkan, nama saya rada ke Amerika Latin-an. Meskipun saya sangat bersyukur dengan nama pemberian Ibu saya (yang pada waktu saya muncul di dunia ini lagi ngefans banget dengan aktor dari Spanyol), side effectnya adalah terkadang saking sulitnya untuk mengucapkan, teman-teman saya jadi sering salah panggil dan malah cenderung sengaja memplesetkan. Nama sebuah burung yang pandai bicara sempat menjadi nama panggilan saya waktu kecil. Lebih parahnya lagi, masalah nama hampir membuat saya gak diterima di SMP yang notabene saya dinyatakan lulus ujian masuknya.  Amazing mengingat bagaimana huruf ‘G’ pada nama depan saya berganti dengan huruf ‘S’, no wonder saya tidak menemukan nama saya di deretan kelas-kelas di SMP. Ini orang yang ngetik kemampuan otaknya gimana sih, masa’ gak nyadar kalo dengan mengganti hurug ‘G’ itu dengan huruf ‘S’ maka kata yang dihasilkan adalah mustahil untuk sebuah nama?! Bloon.

Kemudian terjadi lagi persoalan akibat nama. Nama saya yang dekat artinya dengan ‘Bumi’ itu segera dianggap ‘saudara’ dengan mata pelajaran ‘Ilmu Bumi’ alias ‘Geografi’. Maka jadilah saya sepanjang kelas 1 SMP itu murid ‘kesayangan’ sang guru Geografi, tempat mencurahkan pertanyaan sepanjang jam pelajaran.

“Coba sebutkan batas-batas geografis Somalia! Yak, coba Geo tolong jawab!” …….

Belajar dari pengalaman tersebut, saya mencoba untuk memperkenalkan diri dengan alternatif nama panggilan lain, seperti nama panggilan di rumah. Namun apa daya, karena nama panggilan saya di rumah sebenarnya adalah gabungan dari nama kedua orang tua saya, setiap kali ada yang memanggil, “Wiinnn…”, alhasil saya dan ayah saya akan menengok.

Saya berpikir bahwa masa-masa ‘kegelapan’ akibat nama itu akan berakhir saat saya mendapat nama panggilan baru waktu SMA, ‘Xena‘. Busyeeet, dapat inspirasi darimanalah anak-anak itu sampai nama si Warrior Princess dilekatkan pada saya. Padahal apa sih tindakan paling maskulin yang saya lakukan? Paling banter juga nabokin anak-anak yang berhasrat mengusir saya dari tempat duduk saya yang nyaman dan aman di deretan paling belakang kelas, atau ya…., sekali dua kali trek-trekanlah… But that’s all, bukan berarti saya kompeten untuk diajak ikut tawuran tho?? Atau ngambil mangga tetangga sekolah yang ngejogrok ke depan kelas. Lama-kelamaan akhirnya image saya menjadi semakin maskulin, mengakibatkan saya lulus dengan zero boyfriend. Terima kasih teman…

Tapi apakah saya sebenarnya mempermasalahkan nama saya? Apakah saya lalu protes pada Ibunda tercinta karena memberikan nama itu pada saya? Oh, nooo!! Saya justru sangat bangga dengan nama tersebut, bangga dengan Ibu yang dapat menemukan nama yang sangat indah untuk putri pertamanya. Bayangkan saja, arti dari nama saya adalah :  ‘Wanita cantik yang dilahirkan di bumi’. Hehe…, ngiri? Jangan. Percayalah, pasti ada arti di balik nama anda, seperti yang diajarkan oleh orang tua saya bahwa nama anak adalah doa dari orang tuanya.

Dan ketika tidak semua staff Jepang di kantor saya dapat mengucapkan nama saya dengan sempurna karena tidak dapat mengucapkan huruf ‘L’, saya pun jadi tebiasa dipanggil dengan nama yang biasanya dimiliki laki-laki, “Rian san…, Rian san…,”

Mungkin seperti kata Shakespeare dalam Romeo and Juliet, “What’s in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet”. In the end, it’s who you are that will define yourself.