Words

Hari ini adalah hari ulang tahunmu. Anehnya, aku malah teringat dengan hari ulang tahunku.

Di tanggal tersebut sepuluh tahun lalu sebuah paket ringan bersampul coklat datang ke tempatku. Paket itu darimu,  bertuliskan nama dan kota tempat di mana aku meninggalkanmu setahun sebelumnya. Tanpa menunggu lama kurobek sampul coklatnya. Well, kau tahu aku bukan wanita yang sabar. Dan aku tertawa terbahak. Meluncur di tanganku : Jean Paul Sartre  – “Kata-Kata”.

Kau tahu, yang paling kuingat adalah ketidakmampuanmu berkata-kata tentang perasaanmu. Satu tahun yang kita lewati sebelumnya mungkin hanya dipenuhi kata-kata rayuan dan pujian dariku akan dirimu. Sayang, waktu itu aku memang menggombal. Tapi aku menggombal dengan ikhlas. Dan percayalah, aku memilih untuk duduk selalu di bangku belakangmu karena aku memang suka melihat punggungmu.

Maka saat kau berkata bahwa yang paling membahagiakanmu adalah menari di tengah hujan bersamaku, aku tahu kalau kau mengatakan yang sebenarnya. Yang kusesali justru adalah kata-kataku yang kerap membawamu ke atas awan dan menghempaskanmu lagi ke dasar bumi yang paling dalam.

Kau, pria yang kutinggalkan sepuluh tahun lalu. Bila sampai pada suatu waktu kau membaca tulisan ini, tidak peduli kau mengatakannya atau tidak, kau selalu dapat mengandalkanku untuk membaca pikiranmu.

The First Time Someone Propose To Me

Laki-laki ini berdiri dengan kaku di hadapan saya. Jemarinya yang menggenggam rokok gemetar. Ia terlihat begitu rapuh, membuat saya tergoda untuk meraih dan merengkuhnya erat dalam dekapan. Pose laki-laki seperti ini selalu menerbitkan sensasi aneh dalam diri saya. Saya menggigit bibir, mencoba manahan diri.

Setengah jam lalu laki-laki ini menawarkan Matahari musim panas pada saya. Menjanjikan hingar-bingar Harajuku dan taburan kelopak sakura di peraduan saya. Tak ayal saya jadi berpikir, apakah sebaiknya saya terima saja ajakannya untuk ikut bersamanya ke Jepang. Segalanya begitu menggoda, termasuk dirinya yang berdiri di hadapan saya.

Ia beranjak, berjalan perlahan ke arah jendela kamar.

So, this is it.” Ujarnya.

Saya mengangguk.

“Ya, Ram. This is it.”

Dia mendesah, mematikan rokok, lalu melihat ke luar jendela.

“Kadang-kadang aku pikir, aku laki-laki yang paling beruntung di dunia. Kurang apa aku coba……,” Katanya getir.

Oh, ini akan mulai menyebalkan. Laki-laki satu ini agaknya akan memunculkan satu sifatnya yang paling saya benci, narsisme.

“Ram, what’s your point?” Respon saya jengah, mencoba menghentikan rentetan fakta yang akan meluncur tentang dirinya : ganteng, muda, kaya, dan karier yang dipastikan akan menambah daftar asset kekayaannya. Tidak kekurangan suatu apa pun, kecuali………..

“Aku cuma menginginkanmu. Bukan segala yang aku punya sekarang ini,”

Saya terdiam.

“Atau tidakkah segala yang aku punya sekarang ini membuatmu tertarik?!” Kali ini ia menggenggam jemari saya. Saya jadi tersinggung. Tidak semua bisa dibeli dengan materi bukan, apalagi cinta. Saya lepaskan tangannya, dan mengambil sebatang A Mild dari kotak rokok saya.

“Ram, sudah cukup. Jangan karena cinta ini kamu merendahkan diri di depan saya.”

“Tapi, Lee….,”

Look, I love you too. But we will never get to it. Never.” Kata saya tegas. Ia terduduk lemas, mengacak-acak rambutnya dengan kesal. Sesaat ia terdiam, lalu kembali menyalakan rokok dengan jemari gemetar.

But you know I love you, well, instead of my condition…,” Ia menatap mata saya dengan sendu.

“I would love to get married with you.” Katanya sungguh-sungguh.

Saya tersenyum.

“I love you too, Rama sayang. But I’m not going that far.”

——————

It was a very romantic night. Malam itu, saya dilamar oleh seorang pria yang mencintai pria lain dan seorang wanita yang mengingatkannya pada pria itu.

You’re the sweetest man I’ve ever met, Ram. You’ll always be.

– Medio 2005, Santika Hotel, Jakarta  –

Curhat Si Hitam Manis

Saya kurang suka janjian pagi-pagi di mall. Apalagi jam 10 pagi, saat mall baru saja buka. Selain karena alasan saya susah bangun pagi pas weekend, emangnya mau ngapain pagi-pagi nangkring di mall?? Bantuin cleaning service-nya bersih-bersih?? Tapi waktu Kania, seorang teman yg baru pulang jalan-jalan ke Korea dengan membawa setumpuk oleh-oleh mengajak janjian di Senayan City, saya tidak mungkin untuk menolak. Demi seperangkat kosmetik dari Korea, jam 10 teng! saya pun dengan sumringah muncul di lobby Senayan City dan melambaikan tangan pada Kania.

Saat kami cipika-cipiki di lobby, sebuah CRV abu-abu berhenti. Seorang baby sitter dengan sigap turun dan membuka pintu belakang mobil, menurunkan kereta dorong bayi. Dari pintu tengah dengan elegannya turun seorang wanita berkulit gelap mengenakan kaos pink tangan buntung dan berkaca mata hitam dengan menggendong bayi mungil. Bayi yang berkulit putih dan berambut pirang tersebut jelas-jelas mengindikasikan bahwa paling tidak salah satu dari orang tuanya adalah orang asing. Or, kalau si wanita hitam manis ini adalah si Ibu, maka jelas sang Bapaklah yang keturunan asing itu.

Dari jarak kurang dari sepuluh meter dengan mereka, sahabat saya ini mendesis.

“Huh, bibi face!

Tanpa menunggu lama langsung saya geret Kania masuk ke dalam.

Tidak sedikit teman wanita saya yang mengatakan bahwa mereka tidak bisa berpasangan dengan sesama orang Indonesia. Sebagian berasalan orang Indonesia kebanyakan aturan dan terlalu banyak memasang barrier. Sebagian mengatakan pria Indonesia membosankan, plin plan, kurang romantis dan tidak mandiri. Ada juga yang memilih berpacaran dengan orang asing karena punya pengalaman pahit pacaran dengan pria Indonesia.

Lalu apa hubungannya dengan ‘bibi face’ di atas? Continue reading

To Forgive and Forget

“The stupid neither forgive nor forget; the naive forgive and forget; the wise forgive but do not forget.” (Thomas S Szasz)

Apakah dengan mencantumkan quote di atas berarti saya menjilat ludah sendiri setelah berkoar-koar tentang ‘maaf dan memaafkan’ pada postingan saya sebelumnya?

Tidak, sama sekali tidak.

Sampai saat ini saya masih memegang komitmen untuk selalu berusaha meminta maaf dengan tulus dan memaafkan dengan ikhlas, hasil perenungan panjang tempo hari. Quote di atas ini simply mencerminkan bagaimana saat ini saya akhirnya mampu berdamai dengan diri sendiri. Walaupun…. hmmm…., tidak dengan cara yang patut saya banggakan.

Minggu lalu saya bertemu lagi dengan dia untuk kesekian kalinya.

Dia masih sama, masih seperti yang dulu. Masih dengan ‘gojek kere‘nya. Dengan mata binarnya setiap kali bicara hal-hal yang menyangkut seni dan musik. Masih dengan towelan di pinggang saya setiap kali saya terlihat menggemaskan. Tak ketinggalan sorot mata ingin membantai tiap kali saya mengeluarkan  tingkah ‘semuanya selalu tentang aku’ – istilah untuk keegoisan saya yang pernah ia berikan dulu dalam sebuah lagu. Dengan ini setidaknya dia membuktikan pada dirinya sendiri kebenaran salah satu teori tentang manusia yang pernah ia kemukakan pada saya. Teori bahwa ‘manusia tidak pernah berubah, dan tidak akan berubah’.

Pertemuan dengannya minggu lalu itu perlahan membawa saya kembali pada masa itu. Masa saat saya pernah memandangnya dengan rasa sayang. Masa saat golakan semangat mudanya membuat saya terpana penuh kagum. Masa saat kejayaan yang menghampiri membuatnya dipandang orang. Dan masa saat saya terpaksa menyaksikannya berlari dari satu pucuk muda ke pucuk muda lainnya.

Kau laki-laki pemuja keindahan. Kau laki-laki pengagum keselarasan. Kau laki-laki yang telah mengkhianatiku dengan dua gadis muda lain. Kau si pemuja keindahan yang memaksaku harus mengerti alasan dibalik perilaku menghancurkan itu : ketidakberdayaan. Kau tidak berdaya menghadapi dua gadis itu. Dua gadis muda nan indah yang sayang bila dilewatkan.

Saat ini, saat  saya duduk dihadapan layar putih ini, saya tertawa-tawa sendiri demi mengingat perjumpaan dengannya minggu lalu itu. Tawa yang akhirnya bisa  saya lepas. Tawa yang akhirnya terjadi saat setelah sekian lama saya akhirnya bisa berdamai dengan diri sendiri.

Berbeda dengannya yang beranggapan bahwa manusia tidak akan berubah, teori saya adalah tidak ada satu pun di dunia yang kekal. Saya yakin bahwa manusia bisa berubah. Saya yakin bahwa manusia tidak akan selalu berada di tempat yang sama. Setidaknya itulah teori saya. Pertemuan denganya minggu lalu itu pun tak ayal membuat saya berpikir, mungkinkah hal ini telah berlaku dengannya? Pribadi  yang terkenal dengan justufikasi bahwa manusia tidak akan berubah itu? Mungkin, YA. Mungkin dia pun bisa berubah. Itulah yang  saya pikirkan saat  saya melihat dia menggandeng wanita itu minggu lalu. Wanita bundar seperti bola bekel itu.

Wahai kau laki-laki masa lalu, maafkan aku bila tawa ini mungkin bukanlah tawa yang baik. Damai yang kudapat ini bukan karena aku yang mengusahakannya sendiri. Semua ini kudapat setelah perjumpaanku dengan kalian. Ya, kalian : kau dan dia. Kau dan wanita bundar seperti bola bekel yang merelakan hatchback matic-nya kau bawa kemana-mana, dan yang telah menghadiahkanmu notebook hitam elegan yang manis menghias kamarmu. Sesuatu yang tak akan mungkin akan kulakukan.

Jadi sekali lagi maafkan aku. Maafkan aku atas tawa dan damai yang akhirnya kudapatkan ini. Mungkin kau memang telah berubah. Atau mungkin juga kau belum berubah. Namun siapa yang bisa benar-benar tahu? Aku? Dia? Kau?

Yang  saya tahu saat ini hanya satu, bahwa saya memaafkan karena saya belum lupa.

“The stupid neither forgive nor forget; the naive forgive and forget; the wise forgive but do not forget.”