Dan

Di tengah kebisuan kantor, tiba-tiba saya menyenandungkan lagu yang satu ini.

“Dan…
Dan bila esok datang kembali
Seperti sedia kala dimana kau bisa bercanda

Dan…
Perlahan kaupun, lupakan aku
Mimpi burukmu
Dimana t’lah kutancapkan duri tajam
Kaupun menangis, menangis sedih
Maafkan aku… ”

Yup, benar sodara-sodara! ‘Dan’ dari Sheila on 7!

……..

Dan tiba-tiba saya merasa mellow.

Teringat betapa cintanya Lee remaja yang baru masuk kuliah waktu itu pada lagu ini, juga ekspresi bengong saat lamat-lamat meresapi lirik lagu ini pertama kali. Bahkan musisi sekaliber ‘Kla Project’ dengan lirik dahsyatnya sekalipun belum pernah membuat lagu diawali dengan sebuah kata penghubung, ‘dan’

“Dan…
Bukan maksudku, bukan inginku
Melukaimu sadarkah kau di sini ‘kupun terluka
Melupakanmu, menepikanmu
Maafkan aku

Lupakanlah/caci maki saja diriku
Bila itu bisa membuatmu kembali bersinar
Dan berpijar seperti dulu kala…”

DAN saya pun menghela napas kesal, menyadari betapa buruknya penghargaan pada karya musik jenius seperti di atas sekarang. Cheers tiga kali buat PADI yang berani menolak berpartisipasi dalam pembodohan massal berjudul ‘playback’!!

Advertisements

Kalkulasi Peresmian Cinta

Fact#1 – Minimal Rp 5 juta Per Bulan

Wendy : “Jadi kesimpulannya Lee, gw sama pacar gw harus dan kudu menyisihkan minimal 5 juta per bulan buat biaya pernikahan kita nanti,”

Lee        : (manggut-manggut)

Fact#2 – The Benefit of ‘All You Can Eat’ Resto

Reni       : “Tenang aja, kalo gw nikah loe pasti terima SMS undangannya. Dan loe gak usah terlalu gaya datengnya, paling-paling resepsinya gw adain di Hartz Chicken Buffet. Murah – meriah!!”

Lee        : (manggut-manggut)

Fact#3 – Pembuktian

Lee        : “Hah? Si Hendy mau nikah, Ra? Dia bukannya baru mulai kerja? Ortu ceweknya konglomerat, ya?”

Rara      : “Gak kok, orang biasa. Si Hendy sama ceweknya cuma punya 5 juta, dan dengan 5 juta itu mereka pengen membuktikan bahwa yang namanya nikah gak perlu mahal!”

Lee        : (manggut-manggut)

Fact#4 – Gara-Gara Anak Pejabat

Tari        : “Kacau! Kacau!! Gara-gara ada anak pejabat mau pake itu gedung, masa’ mereka tiba-tiba naikin sewa 3 kali lipat! Padahal gw udah deal sama mereka, Lee! Gw udah deal!! Gak mungkin gw bisa bayar gedung itu kan’ skrg! Sial!!”

Lee        : (speechless, pasang tampang bersimpati)

Tari        : (menunjuk batang hidung saya) “Dan loe…., loe bantu gw hunting gedung baru besok! Ngerti?!”

Lee        : (spontan manggut dan mengkeret di pojokan)

Fact$5 – Karena Kamu Anak Papa

Eko        : “Pa…., yang penting itu kan’ sah-nya, bukan makan-makan dan pestanya!”

Papahnya Eko   : “Lho, tapi Papa kan’ juga punya teman, kalo ngikutin kamu berarti teman-teman Papa gak semuanya bisa diundang dong! Relasi bisnis Papa..! Kolega Papa…!!”

Eko        : “Tapi ini kan’ acaranya Eko, yang nikah Eko! Eko Cuma punya 30 juta! Pokoknya dengan 30 juta itu gimana pun harus jalan! Eko udah kerja, Pa. Eko gak mau pake uang Papa lagi!”

Papahnya Eko   : “Tapi kamu anak Papa! Yang bayarin kamu sekolah sampai bisa kerja kan’ Papa! Kamu ikutin cara Papa atau kamu keluar sana, gak usah jadi anak Papa!”

Eko       : (tercekat)

Lee        : (buru-buru pamit pulang)

———-

Ada komentar?



Romantisme Gak Kreatif

Ceritanya …..

Saya membaca update status seorang teman wanita di FB.

“Baru aja dinyanyiin Just The Way You Are sama my darling. Hayyoo…., siapa yg bilang kalo pacar gw gak romantis??”

Padahal ……

Lagu itu adalah lagu yang disiapkan pacarnya dua malam berturut-turut, untuk kemudian dinyanyikan dengan gitar di hadapan saya, pada saat kami masih bersama dulu.

Jadi ………

Romantisme apa itu??



Who Are You?

How would you like to be defined?

“Itu siapa, Mam?” Tanya saya pada Ibunda sambil menunjuk seorang wanita berusia separuh baya yang baru saja selesai bercakap-cakap dengan beliau. Ibunda melihat sekilas.

“Oh, itu Ibu M,” jawab Ibunda pendek sambil melihat daftar SMS di Inbox HP beliau yang saya sodorkan sebelumnya. Sedari pagi tak henti-hentinya nada SMS berbunyi di HP mungil itu, sementara si empunya seperti biasa lupa membawanya dan meninggalkannya tergolek di meja kamar tamu rumah kami.

Saya manggut-manggut dan mulai berjalan mencari siapa pun yang sekiranya saya kenal. Resepsi pernikahan yang diadakan di gedung serba guna komplek tempat kami tinggal itu lumayan ramai (ya iya lah, lha wong yang diundang sa’komplek, kok!). Setelah putus asa menemukan bahwa tiada seorang pun anak muda yang saya kenal, saya pun menghampiri gubuk-gubukan yang berderet di dinding samping, siap menyerbu siomay, kambing guling, empal genthong dan teman-temannya yang niscaya langsung membuat kadar kolesterol naik.

Saya putuskan untuk mengantri di deretan pecinta kambing guling lebih dulu. Saat itulah tanpa sengaja saya mendengarkan percakapan si ibu yang tadi ngobrol dengan Ibunda saya.

“Eh jeung, tadi saya ngobrol dengan Bu Pane, lho. Anak sampeyan kuliah sa’angkatan sama anaknya Bu Pane di UGM tho?”

Ho-oh. Kenapa, jeung?”

“Anaknya sekarang di Jakarta, sudah kerja di perusahaan Jepang,” jawab si Ibu.

Saya cengar-cengir bego. Rupanya si ibu tidak sadar bahwa yang jadi bahan pembicaraannya persis berdiri di belakangnya sambil pegang sendok dan piring kosong.

“Anaknya Bu Pane itu belum punya anak lho,”

Wadezig!!

“Padahal udah dua tahun nikah, kan? Wong Ratri anak sampeyan saja lagi hamil anak kedua,”

Iyo…, yo….,” yang diajak bicara mengiyakan.

“Bu Pane bilang sih, katanya anaknya itu emang sengaja menunda punya anak. Terlalu sibuk sama kerjaannya. Lagian suaminya juga ndak ngeyel, terserah istrinya aja katanya. Nek sepantaran karo Ratri, berarti umure wes 29, tho? Apalagi yang ditunggu?!”

Yang diajak bicara masih mengiyakan.

“Ya gitu itu, kalo wanita jadi terlalu modern. Kerjanya di perusahaan asing, sudah tua tapi belum mau punya anak. Kasihan Bu Pane,  padahal dia kelihatannya sudah kepengen gendong cucu,”

Ho-oh. Oh yo, siapa itu nama anaknya Bu Pane itu? Aku kok lupa,”

Emboh. Aku yo ndak ingat. Namanya susah,”

Gubrakk!!!

Menurut ibu-ibu tadi, saya adalah anak pertama Bu Pane yang namanya mereka lupa. Anak wanita yang jadi terlalu modern sejak bekerja di perusahaan Jepang sehingga memutuskan untuk menunda punya anak walaupun sudah dua tahun menikah.

Curhat Si Hitam Manis

Saya kurang suka janjian pagi-pagi di mall. Apalagi jam 10 pagi, saat mall baru saja buka. Selain karena alasan saya susah bangun pagi pas weekend, emangnya mau ngapain pagi-pagi nangkring di mall?? Bantuin cleaning service-nya bersih-bersih?? Tapi waktu Kania, seorang teman yg baru pulang jalan-jalan ke Korea dengan membawa setumpuk oleh-oleh mengajak janjian di Senayan City, saya tidak mungkin untuk menolak. Demi seperangkat kosmetik dari Korea, jam 10 teng! saya pun dengan sumringah muncul di lobby Senayan City dan melambaikan tangan pada Kania.

Saat kami cipika-cipiki di lobby, sebuah CRV abu-abu berhenti. Seorang baby sitter dengan sigap turun dan membuka pintu belakang mobil, menurunkan kereta dorong bayi. Dari pintu tengah dengan elegannya turun seorang wanita berkulit gelap mengenakan kaos pink tangan buntung dan berkaca mata hitam dengan menggendong bayi mungil. Bayi yang berkulit putih dan berambut pirang tersebut jelas-jelas mengindikasikan bahwa paling tidak salah satu dari orang tuanya adalah orang asing. Or, kalau si wanita hitam manis ini adalah si Ibu, maka jelas sang Bapaklah yang keturunan asing itu.

Dari jarak kurang dari sepuluh meter dengan mereka, sahabat saya ini mendesis.

“Huh, bibi face!

Tanpa menunggu lama langsung saya geret Kania masuk ke dalam.

Tidak sedikit teman wanita saya yang mengatakan bahwa mereka tidak bisa berpasangan dengan sesama orang Indonesia. Sebagian berasalan orang Indonesia kebanyakan aturan dan terlalu banyak memasang barrier. Sebagian mengatakan pria Indonesia membosankan, plin plan, kurang romantis dan tidak mandiri. Ada juga yang memilih berpacaran dengan orang asing karena punya pengalaman pahit pacaran dengan pria Indonesia.

Lalu apa hubungannya dengan ‘bibi face’ di atas? Continue reading

When You Cry

Waduh… Jika Menangis Tianna Bisa Meninggal

Selasa, 10 November 2009 | 10:23 WIB

LONDON, KOMPAS.com — Sepintas tak ada yang berbeda dengan Tianna Lewis McHugh. Layaknya bocah berusia dua tahun, dia senang bermain dan tertawa. Namun, jangan sampai Tianna menangis mengingat akibatnya yang sangat fatal. Dia bisa meninggal jika menangis.

Sebenarnya wajar jika seorang balita menangis, tapi tidak dengan Tianna. Dia menderita reflex anoxic seizure (RAS), yaitu hanya dengan menangis bisa memicu kematiannya. Saat mengalaminya, kulit Tianna berubah menjadi putih, tubuhnya mengeras, jantungnya berhenti berdetak, dan berhenti bernapas.

Orangtua Tianna, Ceri Lewis dan Andy McHugh, harus berjuang setiap hari agar putrinya tidak menangis. Ibu Tianna, Ceri (23), histeris ketika mengetahui kondisi putrinya untuk pertama kalinya.

→ The rest can be found here.

We used to call ourselves as best friends for life. Saya dan Sabrina. Ya, kami berdua adalah sahabat sejati sepanjang hidup. Saya sering tertawa setiap kali kami mengucapkan kata-kata itu : best friends for life – sounds heavy. Pernah sekali waktu setelah mendengar kata-kata itu disebutkan, kami berpandang-pandangan.

“Are we could be defined as one too? Best friends for life?” tanya Sabrina.

“What do you think?” Saya bertanya balik.

“Hmm…., yeah. I think so. Mungkin tipe yg paling aneh dari semua sahabat sejati yang pernah ada,” jawabnya, lalu tertawa. Saya pun ikut tertawa. Seperti apa yang dikatakan Sabrina, bila ada pengkategorian dalam hal sahabat sejati ini, saya pikir mungkin kami masuk dalam golongan yang aneh. Mungkin malah yang ter-aneh.

Saya dan Sabrina saling menemukan satu sama lain saat kami sama-sama dalam kondisi terpuruk. Bila Rama mengklaim bahwa memang ada yang dinamakan radar untuk mengenali sesamanya di tengah keramaian, maka saya yakin pastilah ada juga radar untuk mengenali individu-individu yang sedang terpuruk.

Kami bertemu pertama kali di riuhnya suasana klub malam. Saya dikenalkan pada Sabrina oleh seorang teman. Di antara hingar-bingar suara orang-orang yang sedang bersenang-senang, kami sampai harus berteriak untuk mengenalkan nama kami.

“Revaaa..!!” seru saya kencang.

“Sabrinaaa…!!” serunya juga kencang.

Jam 3 malam, setelah klub tutup, kami terdampar di tempat makan pinggir jalan. Saya dan teman tumpangan saya, Sabrina dan teman-teman bandnya. Kami berkenalan sekali lagi. Kali ini tanpa perlu berteriak satu sama lain.

” Reva,”

“Sabrina,”

Kami tidak menangis. Tidak ada setetes air mata pun mengalir di wajah kami saat itu. Mata kami pun tidak merah, apalagi bengkak. Saya pun tidak mengerti bagaimana, apakah karena kami sama-sama melihat serpihan demi serpihan dari hati yang remuk redam bertebaran dari tubuh kami berdua, ataukah simply karena kami sedang berada pada jurang yang sama.  Kami tidak menangis. Tapi kami berhasil menemukan satu sama lain yang sedang menangis dalam hati.

Keesokannya Sabrina berkunjung ke tempat saya. Ditemani sekotak A Mild dan Lene Marlin, Sabrina dan saya mengurai definisi dari ‘menangis’.

crying woman

Bila harus menangis, menangislah. Bila mampu menangis, maka menangislah.

Namun tidak ada yang mengharuskan kesedihan diekspresikan dengan tangisan, bukan?

Tidak. Tapi kenapa tidak? Mengapa air mata harus ditahan?

Mengapa juga air mata harus ditunjukkan?

Mengapa tidak? Untuk alasan harga diri? Kata siapa tangisan adalah milik mereka yang pengecut? Aku menangis bukan mencari simpati. Aku menangis karena aku sedih.

– Saya dan Sabrina –

Sepulang Sabrina dari tempat saya dengan membawa album Muse yang baru saya beli, saya pun akhirnya menangis.

Persahabatan saya dan Sabrina dimulai dengan cerita tentang tangisan. Persahabatan kami dibangun dari ekspresi kesedihan yang saya masih sering gagal melakukannya.  Saya yang lebih sering menangis dalam hati, dan Sabrina yang berteman dengan air mata.


Siang ini kala saya membaca artikel di atas, saya pun kembali menangis dalam hati. Bila persahabatan kami dibangun dari ekspresi kesedihan, maka semoga persahabatan yang akan dibangun bocah kecil itu kelak akan berakar dari ekspresi kebahagiaan.


Bukan Wonder Woman

Waktu saya ceritakan tentang hal ini pertama kali pada rekan-rekan penyiar di kantor saya dulu, respon yang keluar antara lain adalah:

“Dasar Mbak Lee tee-aaa!

“Gila loe, Lee!”

“Busett, mbak Lee udah kayak Wonder Woman aja,”

Begitulah respon yang saya terima saat menceritakan peristiwa yang terjadi pagi harinya di sekitar kampus almamater saya.

Wonder Woman

Cerita ini sebenarnya terjadi sudah agak lama, kira-kira lima tahun lalu. Pada suatu pagi setelah mengantarkan seorang teman ke stasiun, saya yang mengendarai motor dipepet oleh sebuah motor yang dinaiki dua anak lelaki. Kenapa saya bilang ‘anak’, karena keduanya memang masih anak-anak bau kencur sepantaran anak SMP.

Untuk anda yang pernah ke Jogja, pasti sudah tahu bahwa umumnya pengendara motor di Jogja melengkapi dirinya dengan ‘peralatan perang’ a.k.a jaket, sarung tangan, dan masker. Ya, ‘peralatan perang’ yang dimaksud adalah peralatan melawan teriknya matahari Jogja yang luar biasa menyengat. Jadi dengan tubuh dan wajah yang dibalut oleh peralatan tersebut, maka heranlah saya ketika dua anak bau kencur tadi menjejeri motor saya dan…….

“Cewek…!” seru anak yang duduk di depan.

“Hai, cewek…!” seru anak yang duduk di belakang.

Saya bengong saking shocknya.

“Cewek mau kemana, sih?” tanya yang satu.

“Cewek godain kita donk!” seru yang satunya lagi.

Dari semula bengong, saya langsung jadi naik darah. What the f***k?!!

Saya buka masker saya dan berteriak pada mereka.

“Hei, berhenti kalian berdua! Minggir ke situ!”

Tapi dua anak itu malah tertawa terbahak-bahak. Akhirnya saya putuskan bahwa untuk situasi ini saya mampu untuk berbuat sedikit nekad. Dengan bermodalkan pengalaman ikut balapan jalanan di jaman baheula, sekaligus pengalaman kecelakaan dimana saya belajar bahwa bila ditendang orang saat mengendarai motor bisa mengakibatkan kecelakaan, maka dengan kaki yang saya angkat mengarah ke pengemudinya, saya mengancam mereka untuk berhenti atau saya tendang.

Emang dasar sableng! Gak heran kalau sampai sekarang anak kampus saya lebih mengenal saya dengan sebutan ‘si mbak Kamtib’ – peranan yang saya ambil dalam dua tahun berturut-turut ospek mahasiswa baru di kampus. Ternyata saya emang bisa menakutkan di depan orang lain.

Dan berhentilah dua anak bau kencur itu, dengan tampang bingung.

Sebenarnya apa sih yang saya mau dari dua bocah tengil itu sampai melakukan tindakan se-nekad itu?

Simple. Saya mau mereka minta maaf. Saya mau mereka tahu bahwa tindakan yang baru saja mereka lakukan adalah salah satu bentuk pelecehan terhadap lawan jenis. Saya mau mereka belajar dari pengalaman ini dan tidak mengulanginya lagi di lain waktu.

Mereka tertawa sembari mengatakan, Mbok biasa wae, mbak. Ini kan sudah biasa,”

Biasa gundulmu!!

Akhirnya saya ulang permintaan saya supaya mereka minta maaf, sambil (kembali) menggertak bahwa saya akan melaporkan ke polisi atas dasar pelecehan.

Rupanya gertakan saya mengena. Dengan enggan akhirnya mereka minta maaf sambil sebelumnya menyebutkan nama dan dimana mereka bersekolah. Betul dugaan saya, keduanya masih bocah beratribut celana pendek biru alias SMP!

Komentar yang saya terima ketika menceritakan hal di atas bermacam-macam. Dari bengong, tepuk tangan, geleng-geleng sampai mengatakan kalau saya ‘sok kuat’ ,  ‘cari perkara’, atau bahkan menyamakan aksi saya dengan aksi ‘Wonder Woman’. Terus terang bukannya saya tidak takut sama sekali saat melakukan hal nekad itu. Namanya aja nekad, ya modalnya cuma aksi penuh tekad aja. Kalau terjadi apa-apa, paling-paling saya teriak.

Bila sebelumnya saya pernah menyebutkan betapa banyak individu-individu yang merasa memiliki hak istimewa, maka kali ini rasanya saya ingin berteriak betapa semakin rendahnya kepedulian individu-individu yang lalu-lalang di sekitar kita saat ini.

Apa buktinya? Wong saya ikutan nyumbang untuk gempa di Padang kok. Wong saya menyantuni fakir miskin dan anak yatim kok. Wong saya rajin bayar zakat tiap bulan kok. Saya peduli kok ! – taruhan, di antara anda pasti ada yg bilang begitu.

Kepedulian tidak selalu harus dilakukan dengan hal-hal di atas. Kepedulian bisa dilakukan lewat hal-hal kecil. Misalnya, dengan mengingatkan bahwa menggoda cewek yang lewat adalah salah (seperti yg saya lakukan), sampai peduli dengan kesehatan orang lain. Anda mau merokok, silakan. Tapi jangan merokok di depan saya yang asapnya persis masuk ke hidung saya! Anda mau meludah, boleh. Tapi pilih tempat yang tepat, di toilet misalnya. Sangatlah mengherankan buat saya menemukan betapa banyaknya orang yang hobi meludah di jalan, di trotoar, di parkiran mobil, di taman, di tempat-tempat terbuka yang memungkinkan penyebaran virus lewat udara. Please tell me, sejak kapan orang Indonesia punya kebiasaan meludah sembarangan? Karena seingat saya orang tua saya pernah mewanti-wanti bahwa tidak sopan dan tidak baik untuk meludah di muka umum. Menyaksikan semakin banyak orang yang melakukannya, duhh…., sungguh pemandangan yang menjijikkan dan mengundang saya untuk menggampar pelakunya.

Beberapa minggu lalu saya melihat video tentang seorang wanita muda yang mengusir pengendara-pengendara motor dari trotoar jalan Sudirman yang mengganggu hak pejalan kaki. Kemarin saya menemukan seorang teman, Yessy Muchtar, mengusir seorang pria dari  angkot setelah dengan cueknya merokok di dalam angkot sehingga mengganggu penumpang lain. Saya, wanita muda di trotoar Sudirman, dan Yessy bukannya berlagak ‘sok berani’ atau ‘cari gara-gara’. Aksi kami bukan karena ingin berlagak seperti pendekar wanita. Kami bukan Wonder Woman! Kami hanya peduli dengan hak kami dan hak orang banyak. Action speak louder than words, no matter how fast words spread!

——–

Yessy Muchtar : FYI – Jangan pernah bertemu saya di angkot, pagi-pagi, dengan asap rokok mengarah pada saya. Saya bisa suruh kamu turun dari angkot saat itu juga. Persis seperti yang saya lakukan baru saja. Terimakasih!