Teori Capcay

Namanya Nita. Dan pria yang ada di hadapannya bernama Roni.

“Ayolah, Ta. Ngapain nonton TV di kost, kita makan aja yukkk!” bujuk Roni.

Nita mengangkat wajahnya, ekspresi bosan sedari siang yang terpasang di wajahnya tak kunjung berubah.

“Makan apa?” tanyanya pendek.

“Gimana kalo kita makan Capcay? Kan loe suka sayur tuuuhh! Capcaynya Mas Dikun masih buka jam segini. Gw traktir deehhh…!!” jawab Roni dengan nada jumawa. Nita memandangnya lurus tanpa berkedip.

“Ogah!! Kalo di McD gw mau!” sahutnya jutek.

Roni terpana.

Bidadari yang dipujanya tak disangkanya punya sifat matre.

“Ehmm…., oke…., gak papa… Yuk, kita jalan,” ujar Roni pelan. Dalam otaknya saya bayangkan mahasiswa Teknik Sipil UGM angkatang ’99 itu sedang mengkalkulasi berapa biaya hidup yang tersisa di koceknya setelah mentraktir Nita. Yah, paling tidak sampai seminggu lagi, setelah PNS gajian dan bapaknya transfer duit padanya.

Nita beranjak dari duduknya. Tidak butuh waktu lama untuk wanita muda satu ini bersolek di depan kaca. Cukup mengoleskan lip gloss dan menepuk-nepuk loose powder di pipinya sesaat, voila, tidak lebih dari 5 menit ia pun siap sudah.

“Ayo, kita jalan!” serunya pada Roni sambil menyambar tas tangannya.

Saya geleng-geleng melihat mereka berdua dari ruang makan.

Kurang dari dua jam pasangan itu pulang. Roni pamit dengan muka cerah. Mungkin uang 50 ribu rupiah yang dikeluarkannya akhirnya tidak terbuang percuma. Saya mencegat Nita di depan pintu kamarnya.

“Matre loe!” Kata saya ketus. Nita memandang sejurus, lalu bertolak pinggang.

“Gue? Matre? Gak salah loe?!”

“Lah, ngapain loe pake acara minta ditraktir McD segala?! Kasian kan’ dia gak punya duit! Kalo gak mau bilang gak mau, jangan manfaatin orang!”

“Gw? Manfaatin?! Kayaknya jalan pikiran loe musti dibalik!” Nita menunjuk hidung saya.

“Dia udah gw tolak bolak-balik, tapi teteeep aja dateng teruss!! Dari yg gw tolak baik-baik sampe akhirnya gw naluriah pengen judesin tiap liat tampang dia! Mustinya dia sadar, kalo buat gw perjuangan meluangkan waktu sama dia. Jadi apa salahnya dia ngeluarin uang lebih utk hasil yang lebih? Toh, gw bisa ceria juga walaupun karena McD, dan dia puas kan?! Dia bisa seneng juga biarpun gw suruh cepet pulang!”

Saya bengong.

“Minggir loe!” perintah Nita judes.

“Gw gak mau jadi kayak elo,” cetus saya lugu.

“Gw juga gak mau jadi kayak loe, bisa-bisanya jatuh cinta tanpa perhitungan!”

BRAK!!

Damn!

7 thoughts on “Teori Capcay

  1. ..
    Owh, ini kisah cinta anak kuliahan ya..?
    🙄 ..

  2. Ha! Jadi yang lebih pas yang mana? Mc D atau capcay mas Dikun….saya juga pilih Mc D….lebih Yummy….

  3. Geregetan dunkkkk

  4. Hahaha… Kalo nge-date ga ikhlas ya kayak gitu, ujung2nya itung2an… 😀

  5. Emang cewek cuma Nita aja apah … ?

    Roni perlu di training nih rupanya …

    hehehe

    salam saya Lee

  6. Nita itu temen gue 😛

  7. Ini kisah pribadi yah??? wkwkwkwkwkwkw

    oohhhh jadi cinta kudu pake perhitungan kah bu reva?? dgn teori capcay mgk eike akan laku kali yah?? *thinking*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s