fiksi : Tukar Denganku, Mau?

Percaya atau tidak, aku ini anak mantan PRT.

PRT? Iya PRT, pembantu rumah tangga alias pembokat alis jongos. Memang, kalau lihat dari keadaanku sekarang, kupikir pastinya tak ada yang bisa menyangka. Misalnya saja, perempuan muda yang duduk di atas motor yang tidak henti-hentinya memelototi mobilku sejak lalu lintas yang luar biasa berantakan ini membuat kami terpaksa berhenti lima menit lalu. Mana mungkin terbersit dalam pikirannya kalau si pemilik mobil mewah ini adalah anak dari seorang mantan jongos. Yang ada dalam pikirannya pasti hanyalah betapa suksesnya aku, betapa kayanya aku, dan betapa serba mudahnya kehidupanku. Bahkan mungkin saja saat ini dia sedang mengkhayalkan seperti apa rumahku, atau bagaimana nikmatnya berada di dalam mobil mewah ini daripada duduk di atas motor, di atas jok kursi keras yang besarnya pas-pasan. Apalagi buat diduduki tiga orang; ia, lelaki yang kemungkinan besar suaminya, dan anak perempuan gendut yang kemungkinan besar juga anaknya. Anaknya lucu, sedari tadi tidak bisa diam bercanda dengan bapaknya yang sesekali tertawa mendengar ocehan anaknya. Sementara si ibu, si perempuan muda itu, tampaknya malah dongkol dan berulang kali membentak anaknya supaya diam. Aku tertawa sendiri. Ini sih bagaikan nonton drama rumah tangga dengan panggung motor bebek …

Aku dulu juga seperti dia. Melihat Mbak Rara, anak semata wayang mantan majikan ibuku yang nama panjangnya Raden Roro Rara seliwar-seliwer dengan baju bagus, sepatu bagus, tas bagus, aku juga kerap memandang iri. Pernah suatu waktu pas aku SMA, Mbak Rara pakai baju yang persis sama dengan yang dipakai model cover majalah Harper’s Bazaar Perancis, dan aku memandanginya dengan takjub dari atas sampai bawah. Aku jadi penasaran, bagaimana ya tampangku waktu melihat Mbak Rara waktu itu? Apakah sama dengan ‘tampang kepengen’ dari perempuan muda yang masih memelototi mobilku sejak sepuluh menit lalu ini?

Aku, Chandra Rahayu Adiwangsa, yang nama aslinya Sumiati, sekarang adalah CEO dari sebuah perusahaan telekomunikasi terkemuka di negara ini. Akulah tokoh dibalik keputusan-keputusan bisnis yang membawa majunya perusahaanku sekarang. Rumahku ada empat, satu di Jakarta, satu di Bali, dua lainnya di luar negeri. Mobilku ada tujuh. Aku sendiri memiliki bisnis pribadi. Beberapa rumah makan masakan Eropa di Jakarta aku yang punya. Pembantuku di rumah ada empat, belum termasuk dua orang supir pribadi yang setia mengantarku kemana-mana.

Tapi di rumah besar dengan empat pembantu dan dua supir pribadi itu aku bagaikan hidup sendiri. Lima tahun lalu aku bercerai dari suami yang hanya seorang PNS. Anak perempuanku semata wayang memilih ikut bapaknya, yang hanya seorang PNS. Aku yang CEO, kalah dengan lelaki yang hanya PNS biasa. Ternyata, anakku semata wayang yang baru berusia sembilan tahun itu sudah tahu apa arti bahagia yang sesungguhnya.

Perempuan muda di atas motor itu masih memelototi mobilku. Pandangan kami bersirobok.

Dengan satu tekanan ringan pada tombol otomatis, kubuka pintu jendela.

“Mbak, mau tukar suami dan anakmu dengan Alphard dan Blackberryku?”

——


Advertisements

24 thoughts on “fiksi : Tukar Denganku, Mau?

  1. potret wanita-wanita karier kota besar..
    sorry to say, kadang juga miris melihat wanita-wanita karier yang sukses dan belum menikah …..

    btw, bilangin donk…bisa gak tukeran bb sama punyaku,
    punyaku dah lemot bgt nih

    • Hmm…. Ya, mungkin ini salah satu potret wanita karier kota besar… Wanita karier kota besar dengan pilihan hidupnya….

      Kalo gw sih mending tukar BB gw dengan Alphardnya :mrgreen:

  2. Kupikir kisah mu beneran, sampai aku membaca “Aku adalah CEO dari sebuah perusahaan telekomunikasi terkemuka di negara ini” — “Oh, cerita orang” hahaha.

    Tragis juga tapi.

    Tapi aku mau deh, kutukar diriku, menjadi suaminya, gratis lho πŸ˜€

    • Gubrak..!! Kan di judulnya udah ditulis ‘fiksi’ πŸ˜€

      Jd, kalo mbantal gak pernah mimpi ‘ditukar guling’ oleh seorang CEO? :mrgreen:

      • Huahaha, kalo aku ditukar apapun sama CEO mau deh! XD

        Ini cerita karangan kamu, atau terjemahan bebas dari Inggris ke Indo atau aslinya memang made in Indo? Kok foto ceweknya bule?

        Kalau terjemahan berati sudah diganti2 dong, ada PRT Jakarta dan Bali dan motor bebek segala hahaha.

  3. ahhahah lucu bgt endingnya, sumpah. Tragis dan miris. Klo seandainya ak ditanya, ak jg bgg jwbnya apa….ahahahaha

    • Ipi, kamu BINGUNG mau jawab apa? Hehe…… Kalo ditanya mendadak, kebanyakan orang kayaknya pasti bingung ya… πŸ˜€

  4. Wahhh…
    Ini cerita yang keren banged sis.
    Aku jadi teringat pada seorang teman yang selalu merasa tidak puas dengan keadaannya, padahal dia hidup berkecukupan dengan anak dan suami yg mencintai dia. Ternyata di dalam hatinya dia selalu merasa kesepian, kasihan..

    • Thank you, sist πŸ˜‰

      Kebahagiaan bagi seseorang punya bentuknya sendiri-sendiri, sayangnya terkadang bentuk itu baru muncul setelah kita kehilangan… Mudah-mudahan bentuk itu segera muncul utk teman sist, tanpa yang bersangkutan mengalami kehilangan πŸ˜‰

  5. ada banyak hal yang tidak bisa ditukar dengan harta..dan gak semua orang ngerti itu mbak. Keluarga dan teman salah satunya, jangan sampai kita ngorbanin mereka hanya karna harta pasti akan nyesel dikemudian hari.

    nice story…

  6. wah keren ceritanya….
    pendek tapi maknanya dalem..bisa menggambarkan fenomena yang sering terjadi di kota besar. sukses dalam berkarir tapi gak sukses dalam kehidupan pribadi…

    salam
    *hanya seorang PNS* xixixixix


  7. Pesan moralnya kebahagiaan itu nggak bisa dinilai dari harta ya..
    Dan kadang kita baru tau arti seseorang saat kita di tinggalkan..
    Tul gak..?
    Pinter kan aku..
    B-)
    ..

  8. Wow!! Cerita ini liar, tapi membumi!

  9. HHmmm …

    (this is my reaction …)
    (menimbang-nimbang … Alphard … Black Berry … kek nya ok juga tuh ….)

    HUahahahahha …
    Dzig … 34 x

  10. oalah fiksi to ini td hehe.
    wah alphard..impian masa depan…*wih mimpi doang*

    salam kenal ya.

  11. oooh… jadi si kamu itu naik alphard toh? hm… *manggut-manggut*

    seperti biasa, tulisanmu keren, lee!

  12. Hmmm..terus apa ya kira-kira jawab perempuan muda yang dibonceng di atas motor bebek itu?

    @Afdhal
    Cewek sekarang mengatakan tak harus menikah untuk bisa bahagia. Anak buahku (sebelum saya pensiun) banyak yang menduduki jabatan manager, MBA dari LN…dan masih tenang-tenang aja. Kalaupun menikah, rata2 di atas 33 tahun….tapi memang langsung punya anak, berturut-turut tiap tahun.

    Mungkin memang jamannya sudah berubah

  13. kebahagiaan yang sifatnya sangat universal, yang bernama “keluarga”, tetap takkan tergantikan oleh apapun. adalah bohong jika seseorang mengatakan kalau dia bahagia dengan harta dan jabatan yang dimiliki, keluarga tidaklah penting. itu semua adalah ucapan kamuflase untuk menutupi bisikan nuraninya yang paling jujur…

    nice story Rev….
    btw, BB dan alpardh-nya masih ada gak? gubrak! πŸ˜€

  14. Wow….Nice Posting. Kunjungan pertama nih.

    Sallam Kenal’
    Rafi

  15. Hanya seorang PNS trnyata lbh mbahagiakan ya.. Ah,syukurlah πŸ˜€

    Critamu keren mb.. Sungguh.

  16. Jeng tukar deh Alphardnya ama hp butut aku….

    ahhhhh ceritanya kurang lengkap nih…kuduna mah ada sedikit cerita gmn dia bisa sampai pada posisi CEO…pastinya tdk serta merta toh….

    Coba deh dikembangin lagi ceritanya jeng…biar lebih seru!!! πŸ™‚

  17. Kisah yang mengiris … (pisau ‘kali … )
    Tapi ini fenomena yang semakin banyak terjadi, terutama di kota besar. Pendapat masyarakat bahwa seseorang yang hidup sendirian pasti tidak bahagia, belum tentu benar. Tergantung banyak faktor. Tergantung bagaimana hidup dia sebelumnya. Ada yang ketika menikah hidupnya menderita, dan justru menemukan ketenangan setelah hidup sendiri.

    Ketidak bahagiaan seseorang adalah ketika ia merasa tidak dicintai. Meskipun ia menikah, jika ia merasa tidak dicintai pasangannya, ia akan menderita. Sebaliknya, meskipun ia hidup sendirian, jika ia tahu banyak orang mencintainya, ia akan merasa hidupnya berguna dan indah.

  18. cerita bagus…
    kesimpulannya kl mbonceng istri tercinta
    hindari lewat jln raya, yg banyak dilalui mobil2 bagus…
    meski jauh ajak lewat kuburan (pakai alasan biar lebih romantis sepi)…biar istri pandai bersyukur..
    gpp naik motor tp sehat walafiat..serta punya suami yg ga pernah kering rasa romatisnya..:))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s