fiksi : Sandro

Ada satu ruangan tempat dulu aku biasanya menyendiri bila saat-saat seperti ini terjadi. Saat sedih, kecewa, marah, ataupun saat aku terlalu bahagia. Misalnya saat aku kehilangan putri keduaku saat melahirkan, ataupun saat putra bungsuku dapat beasiswa untuk duduk di bangku kuliah. Sesuatu yang tidak mampu kami berikan pada kakak-kakaknya.

Saat ini, benar-benar saat ini, sebenarnya saat yang sangat pas untukku masuk dan mengunci diri dalam ruangan itu. Duduk di kursi goyang, ditemani temaram lampu lilin hijau yang didapat Marni dari teman sekolahnya sambil mendengarkan campur sari dari radio usang yang berkali-kali dibetulkan mendiang suamiku. Dalam ruangan itu segala kesedihan, keluh kesah, amarah maupun rasa syukur luar biasa pada Tuhan Penguasa Jagad dapat kuutarakan dengan lugas, walaupun biasanya hanya mampu kuurai lewat sedu sedan halus dari bibirku. Dan setiap kali kulakukan itu segera setelahnya aku merasa lega.

Namun itu dulu.

Ruangan itu kini sudah tidak ada lagi. Tidak lama setelah rumah tua itu terjual, ruangan istimewa beserta seluruh ruangan lain dalam rumah itu pun rata dengan tanah. Pemilik barunya ingin mendirikan bangunan baru yang lebih moderen katanya, yang ia sebut apa itu….,‘villa‘? Ya, itu dia…., villa…. Hmm…, kok yo seperti nama lelaki bule…

Kumatikan pesawat televisi. Sudah pukul dua pagi. Suara hingar-bingar petasan sudah tidak ada lagi. Cucu-cucuku yang sejak sore ramai berteriak-teriak dan meniupkan terompet sudah tidur terlelap. Dalam rumah yang sunyi-senyap ini rasanya tinggal aku dan tubuh tuaku yang terjaga. Fitri, cucuku yang tahun ini akan didaftarkan pada lembaga pendidikan usia dini yang katanya memberi pelajaran dua bahasa asing ini tertidur pulas di ujung sofa tempat aku duduk. Dia begitu manis. Cucuku yang satu ini lahir tepat sehari setelah Hari Raya Idul Fitri, itulah mengapa aku menganjurkan pada ibunya untuk memberi nama ‘Fitri’, yang ditolak keras olehnya. Katanya nama ‘Fitri’ sudah gak jaman, kurang moderen, kurang gaul… Setahuku urusan moderen itu berkaitan dengan barang-barang elektronik seperti TV, atau kompor besar di dapur yang saking moderennya aku tak pernah berhasil menyalakannya. Akhirnya anak yang baru lahir itu pun diberi nama ‘Ivanka’, namun karena waktu kelahirannya yang tepat di awal bulan suci terlalu lekat dalam kepalaku maka tak henti-hentinya kupanggil dia ‘Fitri’. Lihat saja dia. Polos. Murni. Suci. Aku geleng-geleng kepala sendiri. Tak habis pikir bagaimana urusan nama bisa dikaitkan dengan moderen atau tidak. Nama itu kan’ doa. Lha kalo ‘Ivanka’, apa artinya? Apa harapan yang terkandung di dalamnya? Memangnya cucuku ini barang, kok yo disangkut-sangkutkan dengan moderen atau tidak. Sampai sekarang aku tak kunjung mengerti.

Kupandangi cucuku satu ini penuh rasa sayang. Ingin kuelus-elus kepalanya, tapi aku khawatir membangunkannya. Seharian ini dia begitu senangnya lari kesana-kemari, sambil berteriak-teriak pada semua orang agar jangan membiarkannya tertidur malamnya.

“Mau lihat Om Sandro di tivi, mau lihat Om Sandro di tivi! Kalo Vanka ketiduran dibangunin, yaaa…!!” pintanya pada semua orang.

Namun setelah setengah jam Om Sandro-nya muncul di tivi, ia pun terlelap. Namanya juga anak kecil. Mana bisa dia terjaga tengah malam, walaupun untuk menyaksikan paman kesayangannya muncul di TV. Ya, tidak hanya Fitri, tapi mereka memang sangat sayang pada pamannya yang satu itu. Pamannya yang selama beberapa tahun belakangan ini kerap muncul di TV, putra bungsuku Syaiful, atau yang mereka dan semua orang Indonesia panggil sebagai ‘Sandro’.

Malam ini Syaiful muncul lagi di TV. Beberapa malam sebelumnya dengan bangga ia mengatakan pada kami bahwa ia akan membawakan acara tahun baru di sebuah stasiun TV. Kakak-kakaknya pada kegirangan. Mereka kagum karena acara itu biasanya sangat megah, apalagi pembawa acara wanita dengan siapa Syaiful akan muncul bersama itu rupanya terkenal sampai di pelosok Indonesia. Syaiful sendiri senang luar biasa, terutama karena katanya bayaran yang diterima jauh lebih besar daripada biasanya. Dengan cengiran lebar dia berkata kalau dengan bayaran itu dia mampu membeli motor besar yang sudah lama ia idamkan. Aku mencibir. Motor besar opo?? Dengan lagaknya yang kemayu seperti sekarang ini aku bahkan ragu ia bisa mengendarai vespa butut peninggalan mendiang bapaknya.

Kueratkan rajutan wol yang melilit pundakku. Udara Jakarta sebenarnya sama sekali tidak perlu dikhawatirkan akan dapat membuatku yang terbiasa dengan udara kaki gunung Merapi ini masuk angin. Tapi lain halnya kalau udara panas yang sebenarnya cocok untuk tubuh tuaku ini dibuat dingin dengan peralatan moderen. Ada tiga ase di ruangan yang tidak begitu besar ini. Syaiful memasangnya seminggu setelah kami menempati rumah ini. Katanya karena udara Jakarta panas, kalau tidak pasang ase bisa terpanggang kepanasan. Tentunya dia melebih-lebihkan. Dulu walaupun tinggal di kaki Merapi yang siang panas menyengat dan malam dingin membeku toh dia baik-baik saja, sekarang tinggal di dataran yang jauh dari gunung dan laut kok bisa-bisanya dia bilang akan terpanggang. Dia jadi manja. Panas sedikit saja tidak bisa tahan. Akhirnya setelah menggerutu terus-menerus selama seminggu ia pun beli ase. Dan semenjak itu tiap seminggu dua kali aku masuk angin.

Kupandangi satu demi satu wajah anak dan cucu-cucuku yang tertidur tindih-menindih satu sama lain di lantai. Mereka punya kamar masing-masing dalam rumah ini. Putri pertamaku malah punya kamar sendiri yang besar di sisi lain rumah ini. Syaiful, yang membikinkan rumah besar ini buat kami berkata kalau kamar yang sedikit terpisah dengan rumah induk lebih cocok untuk kakaknya yang punya anak paling banyak. Bilangnya sih kamar, padahal ukurannya yang besar lebih cocok untuk disebut sebagai rumah. Tapi lihat saja kelakuan mereka, masih sama seperti kelakukan kami di kampung dulu. Punya kamar sendiri-sendiri lengkap dengan kasurnya, tapi masih sering numpuk jadi satu di ruang tamu. Tidur berjejer tumpang-tindih seperti pindang di atas lantai. Sejujurnya, aku lebih sukaΒ  seperti ini.

Aku mendesah panjang. Kepalaku mulai sakit memikirkan perasaan yang kerap muncul dalam hatiku belakangan ini. Bukannya aku kurang bersyukur atas rejeki yang diberikan Maha Penguasa Jagad pada kami, ataupun tidak berterima kasih pada si ragil Syaiful yang telah bersusah payah memberikan kami kehidupan yang lebih baik. Bukan begitu. Hanya saja aku merasakan limpahan nikmat dunia yang kuterima ini kok kurang sreg. Rasanya seperti makan uang haram.

Syaiful anakku ragil, kelahirannya sebenarnya di luar keinginan kami. Umurku sudah menjelang empat puluh waktu mengandungnya. Anakku sudah tiga. Dibandingkan tetangga kami di kaki Merapi sana yang punya anak paling sedikit lima itu rasanya aku memang kurang subur. Namun biarpun orang bilang banyak anak banyak rejeki, aku dan mendiang suamiku memang tidak menginginkan banyak anak. Kami berpikir rasanya kok ya ndak masuk akal, bagaimana mungkin banyak rejeki kalau memberi makan satu mulut saja susahnya setengah mati. Namun kelahiran si ragil yang di luar keinginan ini ternyata membuahkan banyak berkah buat kami. Gusti Allah memang Maha Adil, membesarkan Syaiful sungguh tidak sulit. Sejak kelahirannya ada saja berkah yang kami terima. Si ragil ini juga pandai, jauh lebih pandai dibanding kakak-kakaknya sampai bisa dapat beasiswa untuk kuliah di kota. Aku memeluknya erat saat ia menyampaikan berita itu, dan buru-buru masuk dalam ruangan sempit berlampu hijau itu sebelum derai air mata syukurku terlihat oleh anak-anak. Aku memegang erat prinsip yang diberikan Ibuku dulu, bahwa seorang Ibu adalah pilar kekuatan rumah tangga. Mau susah, mau sedih, mau senang, jangan ditampakkan berlebihan di depan anak. Jangan sampai terlihat rapuh, karena dengan demikian rumah tangga itu bisa kehilangan pilar kekuatannya. Aku ho-oh saja, dan mematuhinya sampai sekarang.

Tujuh tahun lalu Syaiful pamit meninggalkan Jogja untuk mencari kerja di Jakarta. Saat itu suamiku sudah setahun meninggal, sehingga kehidupan kami bertambah sulit. Tak lama sepeninggal suamiku, anakku Marni harus kehilangan anak yang sudah enam bulan di kandungnya. Marni fisiknya memang paling lemah, dari kecil sudah sering bengek. Waktu bengeknya kambuh itulah ia kehilangan anak pertamanya. Kami sedih luar biasa.

Syaiful pulang ke rumah tak lama setelah menantuku berhasil meneleponnya di tempat kerjanya. Bila anak-anakku yang lain nampak sedih, Syaiful justru nampak sedikit marah. Berkali-kali ia mengatakan kalau saja Marni dibawa ke rumah sakit secepatnya, mungkin anaknya bisa selamat. Rumah sakit? Duwit dari mana?? Wong untuk melahirkan saja paling-paling kami minta tolong budenya menantuku yang jadi dukun beranak di kampungnya. Tak lama setelah itulah Syaiful datang kepadaku dan mohon restu untuk cari kerja di Jakarta.

“Lho, memang pekerjaan kamu di Jogja kenapa, le?” Tanyaku saat itu. Syaiful hanya tersenyum kecil, dan mengatakan kalau gaji yang diterimanya di Jogja sangat kecil.

“Untuk menghidupi Ibu dan yang lainnya tidak akan cukup,” jawabnya nelongso.

Maka dengan berat hati kulepaskan anakku ragil menuju tempat yang lebih jauh untuk mencari penghasilan yang lebih baik. Restuku kusertakan dengan rasa percaya besar bahwa ia akan mendapat apa yang dicarinya.

Beberapa tahun setelahnya tetangga sekitar kami mulai bercerita kalau akhir-akhir ini mereka sering mendapati Syaiful di TV. Aku mengerutkan dahi. Bingung bukan kepalang. Memangnya Syaiful jadi penyanyi di Jakarta? Kok bisa-bisanya muncul di TV? Waktu itu pesawat TV kami baru saja meledak lagi untuk kesekian kalinya, sehingga belakangan kami tidak bisa menikmati siaran TV. Namun toh aku minta ijin juga pada tetanggaku untuk numpang nonton TV di rumahnya. Jam tujuh pagi aku sudah duduk di depan pesawat TV mereka, dengan berdebar-debar menunggu Syaiful muncul layar buram itu. Sudah hampir lima tahun aku tidak melihat anakku ragil. Aku kangen. Terlebih aku penasaran apa yang dikerjakan anak itu di TV.

“Bude, itu lho Mas Syaiful! Ituu!!” seru putri tertua tetanggaku. Aku mengernyit.

“Yang mana?”

“Ituu!! Yang pakai baju merah!”

“Yang mana tho, nduk?” Aku masih mencari.

“Yang di atas panggung! Pakai baju merah, bawa kertas! Itu lho, Mas Syaiful! Presenternya!”

Kusipitkan mataku, kupandangi benar-benar sosok lelaki berbaju merah di atas panggung yang membawa kertas kecil. Laki-laki itu tinggi, langsing, memakai kacamata. Wajahnya halus dan bersih. Bila saja aku bukan ibunya, kupikir aku tak akan dapat mengenalinya lagi. Namun itu memang Syaiful. Anakku lanang, anakku ragil, Syaiful!

“Tapi kok namanya bukan Syaiful, nduk? Kok dipanggil Sandro?” tanyaku kebingungan pada putri tetanggaku ini.

“Itu nama panggung kali, bude. Artis kan’ memang suka begitu, suka ganti nama,” jawabnya terkekeh.

Artis?

Anakku jadi artis??

Tak lama setelah itu Syaiful yang telah berganti nama menjadi Sandro memboyong kami sekeluarga, aku, kakak-kakaknya beserta anak dan suami mereka ke Jakarta. Di Jakarta Syaiful telah menyiapkan sebuah rumah besar buat kami. Ia mengatakan padaku kalau mulai saat itu aku tidak perlu khawatir lagi dengan kondisi keungan kami.

“Ibu tinggal leyeh-leyeh, mau apa saja tinggal teriak sama Ijah ya, bu.” Katanya padaku setelah mengajakku berputar-putar mengelilingi rumah besar ini. Kakiku gemetar saat itu, paduan antara kekaguman dan keletihan yang didera kedua kakiku yang tidak sanggup lagi berjalan naik turun anak tangga yang banyak jumlahnya. Pada saat itu aku menyanggupi permintaannya dengan lapang dada untuk melupakan nama yang aku dan suamiku berikan padanya waktu lahir. Ia ingin dipanggil dengan nama Sandro, bukan lagi Syaiful.

Sandro bekerja sebagai presenter di banyak acara TV. Tubuhnya tinggi langsing, kulitnya putih bersih dan mengilap. Sandro mengendarai mobil mungil warna merah setiap hari, sementara di rumah ia meninggalkan sebuah mobil besar warna ungu yang bisa muat satu keluarga untuk dipakai kami sehari-hari. Sandro menyerahkan kunci mobil itu pada kakak iparnya yang bekas supir truk, satu-satunya selain dia di antara kami yang bisa mengendarai mobil. Sandro pergi ke salon dua minggu sekali, dan berbicara dengan gaya selayaknya perempuan.

Bagiku anak itu akan selalu menjadi anakku ragil, Syaiful. Dalam hatiku pun ia akan selalu bernama Syaiful, walaupun bibir ini tidak pernah salah mengucapkan nama yang ingin ia dengarkan. Namun lama-kelamaan aku tak dapat lagi menipu diriku sendiri dengan apa yang kusaksikan setiap hari. Syaiful terlahir dari kandunganku sebagai laki-laki, tapi saat ini hari demi hari harus kupaksa diriku melihat ia yang bertingkah laku sebagai bukan laki-laki bukan juga perempuan. Pernah sekali kutanyakan padanya mengapa ia harus tampil dengan lagak kemayu di TV. Jawabnya sungguh tidak kusangka. Katanya karena bosnya di TV suka dengan pembawa acara yang bergaya seperti wanita. Kutanyakan lagi mengapa demikian, ia menjawab karena TV hanya mengikuti apa yang disukai penonton.

“Memangnya satu Indonesia suka dengan banci, opo? tanyaku heran. Syaiful memandangku tersinggung.

“Ya Ibu lihat saja sendiri, hampir semua pembawa acara di TV bergaya seperti saya, kan? Ya itu karena orang Indonesia sukanya ya seperti itu!” jawabnya tajam lalu meninggalkan meja makan.

Apa iya seperti itu? Apa mendiang bapaknya akan rela melihatnya seperti sekarang ini?

Kuatur napasku yang mulai tersengal-sengal. Akhir-akhir ini aku mulai susah menjaga perasaanku. Ruangan tempatku menyendiri itu sudah tidak ada. Herannya di rumah besar yang banyak ruangan ini justru sulit buatku mencari tempat sepi untuk mengurai emosi. Aku sudah tahu bahwa cepat atau lambat rasa yang tertumpuk-tumpuk sehingga mengganjal dada ini akan meledak juga.

Kulayangkan pandangan pada pesawat TV 32 inchi yang sengaja diletakkan di atas meja makan. Layarnya bolong, di dalamnya masih teronggok vas bunga yang kulemparkan beberapa hari lalu. Hari itu Syaiful dan managernya datang bersama seorang lelaki. Syaiful memperkenalkannya sebagai bos di acara musik yang ia bawakan tiap pagi di TV. Lelaki itu tampaknya sedikit lebih tua dari Syaiful, dari tingkah lakunya tersirat kalau mereka berdua sudah lama kenal. Seperti halnya Syaiful, lelaki itu pun bergaya kemayu. Aku tersenyum ramah padanya, dan ia balik tersenyum padaku.

Tidak lama kemudian ia bercerita dengan jumawanya padaku dan anak-anakku bagaimana ia menemukan bakat Syaiful. Matanya yang katanya jeli segera menangkap bahwa dibalik kulit gelap dan kasar Syaiful saat itu, Syaiful punya penampilan yang menjual. Lalu lewat cara Syaiful menawarkan barang, ia segera mengenali potensi Syaiful sebagai pembawa acara. Lalu perlahan tapi pasti, ia berhasil membentuk Syaiful menjadi seperti sekarang ini. Syaiful yang disukai remaja Indonesia. Syaiful yang digemari ibu-ibu rumah tangga Indonesia. Syaiful yang dikenal Indonesia sebagai Sandro.

Syaiful tampak ikut senang mendengar ceritanya. Beberapa kali ia bahkan menambahkan beberapa hal pada cerita lelaki itu. Saat itu aku sudah tidak tahan mendengarnya. Tanganku sudah gemetar. Bibirku berulang kali mencoba mengatakan agar ia ia menghentikan ceritanya. Sampai akhirnya tanganku yang renta ini meraih vas bunga dan melemparkannya ke pesawat televisi yang sedang menyala tepat setelah lelaki itu berkata,

“Jadi, sayalah yang berhasil menjadikan Sandro seperti sekarang ini,”

Tanpa sadar air mataku menitik. Terbayang lagi di mataku kejadian hari itu, wajah Syaiful yang terkejut, sorot mata lelaki itu yang ketakutan, dan cucu-cucuku yang menjerit di antara bunga api yang keluar dari dalam pesawat TV.

Ah, aku rindu ruangan itu…. Aku rindu ruangan tempat aku biasanya menyendiri dan mengurai perasaanku. Kutatap laki-laki tinggi langsing berkulit putih bersih mengilap yang baru pulang berlenggak-lenggok di acara tahun baru tadi dengan hampa. Le, kamu tetap Syaifulku. Kamu tetap anak ragilku. Tapi kamu kulahirkan sebagai lelaki, bukan setengah lelaki ataupun setengah perempuan seperti keadaanmu sekarang.

Duh, Gusti…..

˜

Advertisements

13 thoughts on “fiksi : Sandro

  1. cukup panjang membaca novel ini…
    sandro… nama yang agak unik.. eh aneh..
    agak laki-laki.. atau perempuan ah yang manalah enaknya…
    slalu ada visualisasi luar yang perlu dipoles dengan sempurna
    dan slalu ada sisi dalam yang menyisakan rindu dan ruang sunyinya

  2. Kok asosiasiku langsung mengarah ke Saipul Jamil ya? hehehe…
    Tapi emang benar lho, Mbak… entah kenapa dunia hiburan Indonesia dipenuhi para banci yah… dan laris manis pula. Emang sih itu rejeki masing-masing orang, cuma kok ya rasanya aneh aja…

    Untung aja the Banci’s itu pada punya keahlian jadi presenter yang heboh dan cukup menghibur. Coba kalo nggak, mungkin ketemunya di Taman Lawang aja… πŸ™‚

  3. keren! cerpen monolog yang luwes. tapi sayang, di satu pihak pencerita terkesan begitu lugu, namun di pihak lain dapat bercerita dengan pilihan diksi yang baik. iya sih, yang bercerita sesungguhnya kan bukan si ibu tua, tapi seorang penulis hebat bernama reva liany pane.

    makasih lho untuk komentar-komentarnya yang menarik di blogku.

    salam kenal kembali.

    • *nunduk malu*

      Sudah lama saya ingin membuat cerita yg bertutur dari sudut pandang seorang wanita tua, dan ini yang pertama saya buat. Emang susah ternyata, ya. Kepribadian saya masih tertera jelas, jadinya kurang berhasil dari segi dialogis. But, it’s nice to have you brought up this thing πŸ˜‰

      Thank you ya, Mbak! Senang Mbak Marshmallow akhirnya main kemari πŸ™‚


  4. Saiful jadi sandro..
    Jauh banget ya he..he..
    ..
    Endingnya kok agak ngambang sih mbak, tapi pesan moralnya dapet..
    ..
    Nice fiksi, enak bacanya..
    πŸ˜‰
    ..

  5. wah…keren….tapi panjang..hehe..
    keren mb,,
    rasanya aku tau yang dimaksud..
    atau mmm asosiasiku yang ke arah sana ya..
    Ijah, acara musik tiap hari, digemari ibu2, remaja, dan anak2….
    kekekekek….sy gk mau sebut merk ah…

    Oalah..dunia-dunia….
    wolak-waliking jaman..
    sing lanag dadi wadon sik wadon koyo wong lanang…
    Biuh…biuh…..

    • Hehe…., emang panjang banget ya cerpennya. Jadi bagusnya disebut apa, ya? Cerpenpan (cerita pendek kepanjangan)? :mrgreen:

      Yah, paling tidak pesan yang ingin disampaikan dimengerti oleh yg baca. Thanks ya, Ti πŸ˜‰

  6. salam kenal
    postingny asyiik

  7. salam kenal juga ah
    wowowoow panjanang bacanya
    tapi ok lho
    makaci ya

  8. wouw….keren va…keren banget….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s