Posted by: Reva Liany Pane | October 12, 2009

To Forgive and Forget

“The stupid neither forgive nor forget; the naive forgive and forget; the wise forgive but do not forget.” (Thomas S Szasz)

Apakah dengan mencantumkan quote di atas berarti saya menjilat ludah sendiri setelah berkoar-koar tentang ‘maaf dan memaafkan’ pada postingan saya sebelumnya?

Tidak, sama sekali tidak.

Sampai saat ini saya masih memegang komitmen untuk selalu berusaha meminta maaf dengan tulus dan memaafkan dengan ikhlas, hasil perenungan panjang tempo hari. Quote di atas ini simply mencerminkan bagaimana saat ini saya akhirnya mampu berdamai dengan diri sendiri. Walaupun…. hmmm…., tidak dengan cara yang patut saya banggakan.

Minggu lalu saya bertemu lagi dengan dia untuk kesekian kalinya.

Dia masih sama, masih seperti yang dulu. Masih dengan ‘gojek kere‘nya. Dengan mata binarnya setiap kali bicara hal-hal yang menyangkut seni dan musik. Masih dengan towelan di pinggang saya setiap kali saya terlihat menggemaskan. Tak ketinggalan sorot mata ingin membantai tiap kali saya mengeluarkan  tingkah ’semuanya selalu tentang aku’ – istilah untuk keegoisan saya yang pernah ia berikan dulu dalam sebuah lagu. Dengan ini setidaknya dia membuktikan pada dirinya sendiri kebenaran salah satu teori tentang manusia yang pernah ia kemukakan pada saya. Teori bahwa ‘manusia tidak pernah berubah, dan tidak akan berubah’.

Pertemuan dengannya minggu lalu itu perlahan membawa saya kembali pada masa itu. Masa saat saya pernah memandangnya dengan rasa sayang. Masa saat golakan semangat mudanya membuat saya terpana penuh kagum. Masa saat kejayaan yang menghampiri membuatnya dipandang orang. Dan masa saat saya terpaksa menyaksikannya berlari dari satu pucuk muda ke pucuk muda lainnya.

Kau laki-laki pemuja keindahan. Kau laki-laki pengagum keselarasan. Kau laki-laki yang telah mengkhianatiku dengan dua gadis muda lain. Kau si pemuja keindahan yang memaksaku harus mengerti alasan dibalik perilaku menghancurkan itu : ketidakberdayaan. Kau tidak berdaya menghadapi dua gadis itu. Dua gadis muda nan indah yang sayang bila dilewatkan.

Saat ini, saat  saya duduk dihadapan layar putih ini, saya tertawa-tawa sendiri demi mengingat perjumpaan dengannya minggu lalu itu. Tawa yang akhirnya bisa  saya lepas. Tawa yang akhirnya terjadi saat setelah sekian lama saya akhirnya bisa berdamai dengan diri sendiri.

Berbeda dengannya yang beranggapan bahwa manusia tidak akan berubah, teori saya adalah tidak ada satu pun di dunia yang kekal. Saya yakin bahwa manusia bisa berubah. Saya yakin bahwa manusia tidak akan selalu berada di tempat yang sama. Setidaknya itulah teori saya. Pertemuan denganya minggu lalu itu pun tak ayal membuat saya berpikir, mungkinkah hal ini telah berlaku dengannya? Pribadi  yang terkenal dengan justufikasi bahwa manusia tidak akan berubah itu? Mungkin, YA. Mungkin dia pun bisa berubah. Itulah yang  saya pikirkan saat  saya melihat dia menggandeng wanita itu minggu lalu. Wanita bundar seperti bola bekel itu.

Wahai kau laki-laki masa lalu, maafkan aku bila tawa ini mungkin bukanlah tawa yang baik. Damai yang kudapat ini bukan karena aku yang mengusahakannya sendiri. Semua ini kudapat setelah perjumpaanku dengan kalian. Ya, kalian : kau dan dia. Kau dan wanita bundar seperti bola bekel yang merelakan hatchback matic-nya kau bawa kemana-mana, dan yang telah menghadiahkanmu notebook hitam elegan yang manis menghias kamarmu. Sesuatu yang tak akan mungkin akan kulakukan.

Jadi sekali lagi maafkan aku. Maafkan aku atas tawa dan damai yang akhirnya kudapatkan ini. Mungkin kau memang telah berubah. Atau mungkin juga kau belum berubah. Namun siapa yang bisa benar-benar tahu? Aku? Dia? Kau?

Yang  saya tahu saat ini hanya satu, bahwa saya memaafkan karena saya belum lupa.

“The stupid neither forgive nor forget; the naive forgive and forget; the wise forgive but do not forget.”

Posted by: Reva Liany Pane | October 7, 2009

Kantorku Catwalk-ku

Atasanku tersayang,

Aku tahu kita jarang sepaham.

Di meja ruang meeting kita acap kali beradu argumen. Entah karena kau kurang puas, aku yang memprotes, atau bahkan karena kau salah paham akibat keterbatasan penguasaan bahasa Inggrismu. Bahasa yang satu itu katanya ibarat fasilitas pemersatu antar bangsa. Tapi bila denganmu, duh Gusti…

Namun kuakui bahwa kita memang sepaham untuk yang satu ini.

Kita sama-sama menjadikan selasar kantor bagaikan catwalk kita. Hari demi hari kurasa kau pun sadar kalau staff – staff yang menganga tiap kali kita hadir di pagi hari itu sebenarnya selalu menunggu suguhan fashion show terbaru dari kita berdua. Kupikir kita bahkan telah berhasil mempengaruhi beberapa di antara mereka. Kau lihat si Uni di pojok divisi Administrasi sana? Sweeter buluk berwarna orange (ampuunn dehhh…!!) yang kerap dipakainya itu telah berganti dengan cardigan putih berpotongan manis. Atau si Lili di meja asisten marketing sana, kemeja batik yg kuasumsikan berharga 15 ribu dan lebih cocok dipakai adiknya karena saking ketatnya itu sepertinya sudah dihibahkan pada sang adik (akhirmya..!!). Berganti dengan terusan batik manis berwarna pink – emas yang sangat cocok untuk kulit putihnya.

Sayangnya beberapa bulan belakangan ini aku agak khawatir denganmu, wahai atasanku.

Sepatu yang akhir-akhir ini kau kenakan itu sebenarnya hendak kubeli beberapa bulan lalu. Sepatu itu memang bagus. Mencerminkan bahwa si pemakai adalah wanita aktif yang peduli dengan penampilan. Mencerminkan si pemakai adalah wanita yang sadar bahwa penampilan adalah salah satu asset mengejar jenjang karier yang lebih baik. Brain, Beauty and Behaviour. Lagi-lagi kita sepaham bahwa kecantikan memang selayaknya dibungkus dengan packaging yang baik, berkualitas dan bercita rasa tinggi.

Namun layaknya di meja ruang meeting dimana kita kerap beradu argumen tiap akhir minggu, kali ini aku terpaksa tidak sepaham denganmu.

Dengan heel setinggi 12 cm, sepatu itu terlalu tinggi untuk tubuhmu yang mungil. Bahkan kupikir terlalu berat untuk tubuhmu yang kurus. Setelah beberapa bulan kulihat sepatu itu melenggak-lenggok di ‘catwalk’ kantor ini, kuperhatikan bahwa semakin lama heel yang sebelah kiri semakin miring. Dan hari demi hari kulihat sudut kemiringannya menjadi semakin mengkhawatirkan. Setiap berpapasan, kurasakan mereka seperti ingin berteriak. Entah karena merasa tersiksa, atau karena ingin memberi peringatan.

Wahai atasanku,

Tidakkah sebaiknya sepatu bercita rasa tinggi yang satu itu kau istirahatkan dulu? Seperti aku yang sedang mengistirahatkan kakiku dan bermanja-manja dengan wedges yang luar biasa nyaman ini sejak bulan lalu?

Mungkin sudah saatnya kita memberi mereka, yang telah terinspirasi oleh kita, kesempatan untuk menjadi model yang melenggak-lenggok di ‘catwalk’ kita ini. Kesempatan untuk menjadi mereka yang diperbincangkan atas apa yang membungkus mereka hari ini.

sepatu1

Posted by: Reva Liany Pane | September 25, 2009

Sebuah Kata Maaf

‘Always forgive your enemies – nothing annoys them so much’ (Oscar Wilde). Yang satu ini sodara-sodara, adalah salah satu quote favorit saya.

Dengan pernyataan di atas ini rasanya akan langsung terbaca bagaimana pribadi saya yang sebenarnya, ya :)

Sesuai dengan tampang yang sering langsung diasumsikan orang memiliki kepribadian judes dan galak, saya biasanya juga langsung diasumsikan punya sifat pendendam. Bukan bermaksud mengelak, tapi saya sendiri sering tertawa mendengar orang yang mendeskripsikan saya seperti itu. Dianggap judes mungkin asalnya karena sifat saya yang ingin semua serba efesien dan perfeksionis, sehingga bila ada yang keluar jalur sedikit saya akan langsung mengingatkan. Sifat seperti itu ditambah suara bariton yang tegas seperti laki-laki tak ayal akan langsung diasosiasikan menjadi ‘judes’ ataupun galak’. Makanya gak heran kalau saya selalu terpilih menjadi pengurus kelas masa-masa sekolah dulu, mungkin karena dianggap paling kompeten untuk mengatur dengan modal suara yang saya miliki, haha

Saya sendiri sebenarnya tak ambil pusing dengan titel ‘judes’ dan ‘galak’ itu, tapi saya menganggap serius praduga ‘pendendam’. Tak lain dan tak bukan karena hal itu sedikit banyak benar adanya. Maka begitu saya membaca postingan dari dua orang sahabat, Mas Deka dan Jeung Yessy, yang kedua-duanya entah karena ‘nyambung’ satu sama lain ataupun karena terpengaruh suasana Ramadhan dan Idul Fitri kompakan nulis tentang sikap untuk maaf dan memaafkan, tak urung membuat saya jadi merenung.

saling-memaafkan

Selama hidup anda, berapa kali anda meminta maaf?

Read More…

Posted by: Reva Liany Pane | August 25, 2009

Hak Istimewa

“aBiz Mukulin SoPIR ANgKot 44 JuruSAN KampunG mElayu – KArEt PAke PAYUNG gara2 berani NYeREmpEt Gw. DASAR SOPIR BEGGOOO mERASA gaK salah lg dia … Biar MAmpus TUH. Gw Gak Takut Wlpn Dia Pegang KunCI Apaan Tau ….. MONYET LO, gw sUMpaHIN bIAR mampus dijln !!!!!”

Demikian update status seorang teman pagi ini.

Beberapa hari sebelumnya seorang teman lain bercerita tentang Honda Jazz-nya yang sukses penyok dihajar bajaj. Si tukang bajaj beralasan keadaannya yang belum makan sejak pagi membuat dia kurang alert gara-gara darah rendah. Akhirnya teman saya itu pun cuma mampu berucap, “Monyong!” – demi mendengar si tukang bajaj yang mengatakan tidak mampu membayar ganti rugi.

“Mobil gw penyok cuma gara-gara dia kagak sarapan!! Alasan apaan tuh?! Darah rendah?! Rasanya pengen gw kampleng itu tukang bajaj!!” Begitulah akhirnya. Si teman ini pun cuma bisa misuh-misuh curhat pada saya di hari berikutnya. Saya pun tak urung jengkel mendengarnya. Apalagi karena saya tahu betul mobil yang masih dicicil itu dibeli dengan penuh perjuangan oleh teman saya, setelah menyisihkan uang gaji selama 4 tahun untuk membayar uang muka. Read More…

« Newer Posts - Older Posts »

Categories