Waduh… Jika Menangis Tianna Bisa Meninggal
Selasa, 10 November 2009 | 10:23 WIB
LONDON, KOMPAS.com — Sepintas tak ada yang berbeda dengan Tianna Lewis McHugh. Layaknya bocah berusia dua tahun, dia senang bermain dan tertawa. Namun, jangan sampai Tianna menangis mengingat akibatnya yang sangat fatal. Dia bisa meninggal jika menangis.
Sebenarnya wajar jika seorang balita menangis, tapi tidak dengan Tianna. Dia menderita reflex anoxic seizure (RAS), yaitu hanya dengan menangis bisa memicu kematiannya. Saat mengalaminya, kulit Tianna berubah menjadi putih, tubuhnya mengeras, jantungnya berhenti berdetak, dan berhenti bernapas.
Orangtua Tianna, Ceri Lewis dan Andy McHugh, harus berjuang setiap hari agar putrinya tidak menangis. Ibu Tianna, Ceri (23), histeris ketika mengetahui kondisi putrinya untuk pertama kalinya.
→ The rest can be found here.
∞
We used to call ourselves as best friends for life. Saya dan Sabrina. Ya, kami berdua adalah sahabat sejati sepanjang hidup. Saya sering tertawa setiap kali kami mengucapkan kata-kata itu : best friends for life – sounds heavy. Pernah sekali waktu setelah mendengar kata-kata itu disebutkan, kami berpandang-pandangan.
“Are we could be defined as one too? Best friends for life?” tanya Sabrina.
“What do you think?” Saya bertanya balik.
“Hmm…., yeah. I think so. Mungkin tipe yg paling aneh dari semua sahabat sejati yang pernah ada,” jawabnya, lalu tertawa. Saya pun ikut tertawa. Seperti apa yang dikatakan Sabrina, bila ada pengkategorian dalam hal sahabat sejati ini, saya pikir mungkin kami masuk dalam golongan yang aneh. Mungkin malah yang ter-aneh.
Saya dan Sabrina saling menemukan satu sama lain saat kami sama-sama dalam kondisi terpuruk. Bila Rama mengklaim bahwa memang ada yang dinamakan radar untuk mengenali sesamanya di tengah keramaian, maka saya yakin pastilah ada juga radar untuk mengenali individu-individu yang sedang terpuruk.
Kami bertemu pertama kali di riuhnya suasana klub malam. Saya dikenalkan pada Sabrina oleh seorang teman. Di antara hingar-bingar suara orang-orang yang sedang bersenang-senang, kami sampai harus berteriak untuk mengenalkan nama kami.
“Revaaa..!!” seru saya kencang.
“Sabrinaaa…!!” serunya juga kencang.
Jam 3 malam, setelah klub tutup, kami terdampar di tempat makan pinggir jalan. Saya dan teman tumpangan saya, Sabrina dan teman-teman bandnya. Kami berkenalan sekali lagi. Kali ini tanpa perlu berteriak satu sama lain.
” Reva,”
“Sabrina,”
Kami tidak menangis. Tidak ada setetes air mata pun mengalir di wajah kami saat itu. Mata kami pun tidak merah, apalagi bengkak. Saya pun tidak mengerti bagaimana, apakah karena kami sama-sama melihat serpihan demi serpihan dari hati yang remuk redam bertebaran dari tubuh kami berdua, ataukah simply karena kami sedang berada pada jurang yang sama. Kami tidak menangis. Tapi kami berhasil menemukan satu sama lain yang sedang menangis dalam hati.
Keesokannya Sabrina berkunjung ke tempat saya. Ditemani sekotak A Mild dan Lene Marlin, Sabrina dan saya mengurai definisi dari ‘menangis’.

Bila harus menangis, menangislah. Bila mampu menangis, maka menangislah.
Namun tidak ada yang mengharuskan kesedihan diekspresikan dengan tangisan, bukan?
Tidak. Tapi kenapa tidak? Mengapa air mata harus ditahan?
Mengapa juga air mata harus ditunjukkan?
Mengapa tidak? Untuk alasan harga diri? Kata siapa tangisan adalah milik mereka yang pengecut? Aku menangis bukan mencari simpati. Aku menangis karena aku sedih.
– Saya dan Sabrina -
Sepulang Sabrina dari tempat saya dengan membawa album Muse yang baru saya beli, saya pun akhirnya menangis.
Persahabatan saya dan Sabrina dimulai dengan cerita tentang tangisan. Persahabatan kami dibangun dari ekspresi kesedihan yang saya masih sering gagal melakukannya. Saya yang lebih sering menangis dalam hati, dan Sabrina yang berteman dengan air mata.
∞
Siang ini kala saya membaca artikel di atas, saya pun kembali menangis dalam hati. Bila persahabatan kami dibangun dari ekspresi kesedihan, maka semoga persahabatan yang akan dibangun bocah kecil itu kelak akan berakar dari ekspresi kebahagiaan.
pernah suatu hari sekitar 10 tahun silam saya ditanya seorang wanita : ‘puncaknya orang sedih ngapain dot?? ‘
saya jawab ‘ menangis’
lalu dia kembali bertanya ‘nah ,kalo puncaknya orang bahagia?? ”
saya menjawab ‘ tertawa ,mungkin??”
lalu dia menjawab ‘ salah dot,menangis juga’
setelah saya pikir2 lagi secara mendalam ,saya bilang ‘ benar juga ya? , wah terima kasih ya udah memberikan pencerahan ini buat gw… ‘
ternyata puncak emosi manusia dititik manapun adalah sama… yaitu menangis.
semenjak saat itu ,saya tidak takut lagi menangis kalau saya mau nangis. saya laki2,tapi saya menangis jika nonton film yg membuat saya menangis, dan saya tidak malu,karena ternyata menangis itu tanda hati yg belum mati:)
By: didot on November 10, 2009
at 10:34 pm
“…menangis itu tanda hati yg belum mati,”
Setuju, Dot!
By: Reva Liany Pane on November 11, 2009
at 1:33 am
Tulisannya menyentuh.
Salam kenal, thanks sudah mampir dan berkomentar di blog saya…
By: DV on November 13, 2009
at 5:19 am
Thanks. Saya juga dapat pengetahuan baru lewat blog-mu
By: Reva Liany Pane on November 13, 2009
at 5:49 am
Saya suka komentar dari Didot …
Dan saya berfikir …
Iya juga ya …
Menangis adalah suatu bentuk ekspresi maksimal …
Baik saat down maupun saat up …
Menangis itu tanda hati belum mati … ( I like the quote …)
BUt …
Jangan juga kebanyakan … kali ya …
Salam saya
By: nh18 on November 13, 2009
at 8:54 am
Hahaha…., bahaya emang kalo nangis kebanyakan, Om!
By: Reva Liany Pane on November 13, 2009
at 9:39 am
kalo kebanyakan nanti dibilang CENGENG dong,hihihi
By: didot on November 16, 2009
at 8:28 am
mo nangis …. ya nangis aja..biar legaaaa…. *kaya yang gampang nangis aja saya* hehehehe
By: frozzy on November 13, 2009
at 9:21 am
Teorinya sih begitu… Sayangnya saya suka bego, nangis aja musti memikirkan untung dan ruginya
Kayak jualan
By: Reva Liany Pane on November 13, 2009
at 9:42 am
menurut saya,kalau mau menangis ya menangis aja. jangan ditahan-tahan, nanti malah sesak.
tapi,nangisnya juga jangan kebanyakan. nanti jadinya perasaannya mellow dan kurang ceria,juga matanya sembap. hehehe..
By: yasmin on November 15, 2009
at 2:42 pm
Haha…., emang bahaya bgt kalo kebanyakan nangis. Berbahaya bukan cuma buat saya, tp buat orang-orang sekitar yg pasti kena amuk juga
Hehe…, just kidding. Yang pasti segala sesuatu yg ‘kebanyakan’ itu gak baik
By: Reva Liany Pane on November 16, 2009
at 8:36 am
kasiaan banget! padahal setegar2nya orang, pasti sesekali nangis juga.. penyakitnya ini bisa sembuh atau ga ya? kl ga kan kasian banget. dia ga blh nangis seumur hidup..
salam kenal yah!
By: eliabintang on November 17, 2009
at 6:05 pm
Dengan perkembangan dunia kedokteran sekarang, saya optimis sooner or later akan ditemukan obatnya. Salam kenal juga, Mas Elia. Ditunggu opening house rumah barunya di 1 Desember
By: Reva Liany Pane on November 18, 2009
at 4:33 am
Lebih baik menangis utk meluapkan emosi.. Emosi apapun.. Tapi stlh emosi itu terlepaskan, qt bs kembali kepada knyataan…
By: yustha tt on November 19, 2009
at 2:06 pm
Menurut saya sih, menangis (dalam arti meneteskan air mata) tidak selalu berarti kita lemah. Menangis adalah reaksi fisik dan psikis ketika kita berada pada suatu taraf emosi tertentu.
Saya juga pernah mengalami saat-saat yang sangat menyedihkan, ketika tangis tak bisa ditahan. Tapi saya tidak menangis sambil menelungkupi bantal atau meringkuk di sudut kamar. Saya nangis, tapi sambil tetap belajar, tetap ngerjain skripsi, tetap nyelesein ini-itu. Ibarat kata, nangis boleh, tapi tetap sambil melangkah maju, kalau perlu sambil membawa bedil … (hah, lebay!)
By: tutinonka on November 19, 2009
at 2:11 pm