Posted by: Reva Liany Pane | October 24, 2009

Bukan Wonder Woman

Waktu saya ceritakan tentang hal ini pertama kali pada rekan-rekan penyiar di kantor saya dulu, respon yang keluar antara lain adalah:

“Dasar Mbak Lee tee-aaa!

“Gila loe, Lee!”

“Busett, mbak Lee udah kayak Wonder Woman aja,”

Begitulah respon yang saya terima saat menceritakan peristiwa yang terjadi pagi harinya di sekitar kampus almamater saya.

Wonder Woman

Cerita ini sebenarnya terjadi sudah agak lama, kira-kira lima tahun lalu. Pada suatu pagi setelah mengantarkan seorang teman ke stasiun, saya yang mengendarai motor dipepet oleh sebuah motor yang dinaiki dua anak lelaki. Kenapa saya bilang ‘anak’, karena keduanya memang masih anak-anak bau kencur sepantaran anak SMP.

Untuk anda yang pernah ke Jogja, pasti sudah tahu bahwa umumnya pengendara motor di Jogja melengkapi dirinya dengan ‘peralatan perang’ a.k.a jaket, sarung tangan, dan masker. Ya, ‘peralatan perang’ yang dimaksud adalah peralatan melawan teriknya matahari Jogja yang luar biasa menyengat. Jadi dengan tubuh dan wajah yang dibalut oleh peralatan tersebut, maka heranlah saya ketika dua anak bau kencur tadi menjejeri motor saya dan…….

“Cewek…!” seru anak yang duduk di depan.

“Hai, cewek…!” seru anak yang duduk di belakang.

Saya bengong saking shocknya.

“Cewek mau kemana, sih?” tanya yang satu.

“Cewek godain kita donk!” seru yang satunya lagi.

Dari semula bengong, saya langsung jadi naik darah. What the f***k?!!

Saya buka masker saya dan berteriak pada mereka.

“Hei, berhenti kalian berdua! Minggir ke situ!”

Tapi dua anak itu malah tertawa terbahak-bahak. Akhirnya saya putuskan bahwa untuk situasi ini saya mampu untuk berbuat sedikit nekad. Dengan bermodalkan pengalaman ikut balapan jalanan di jaman baheula, sekaligus pengalaman kecelakaan dimana saya belajar bahwa bila ditendang orang saat mengendarai motor bisa mengakibatkan kecelakaan, maka dengan kaki yang saya angkat mengarah ke pengemudinya, saya mengancam mereka untuk berhenti atau saya tendang.

Emang dasar sableng! Gak heran kalau sampai sekarang anak kampus saya lebih mengenal saya dengan sebutan ’si mbak Kamtib’ – peranan yang saya ambil dalam dua tahun berturut-turut ospek mahasiswa baru di kampus. Ternyata saya emang bisa menakutkan di depan orang lain.

Dan berhentilah dua anak bau kencur itu, dengan tampang bingung.

Sebenarnya apa sih yang saya mau dari dua bocah tengil itu sampai melakukan tindakan se-nekad itu?

Simple. Saya mau mereka minta maaf. Saya mau mereka tahu bahwa tindakan yang baru saja mereka lakukan adalah salah satu bentuk pelecehan terhadap lawan jenis. Saya mau mereka belajar dari pengalaman ini dan tidak mengulanginya lagi di lain waktu.

Mereka tertawa sembari mengatakan, Mbok biasa wae, mbak. Ini kan sudah biasa,”

Biasa gundulmu!!

Akhirnya saya ulang permintaan saya supaya mereka minta maaf, sambil (kembali) menggertak bahwa saya akan melaporkan ke polisi atas dasar pelecehan.

Rupanya gertakan saya mengena. Dengan enggan akhirnya mereka minta maaf sambil sebelumnya menyebutkan nama dan dimana mereka bersekolah. Betul dugaan saya, keduanya masih bocah beratribut celana pendek biru alias SMP!

Komentar yang saya terima ketika menceritakan hal di atas bermacam-macam. Dari bengong, tepuk tangan, geleng-geleng sampai mengatakan kalau saya ’sok kuat’ ,  ‘cari perkara’, atau bahkan menyamakan aksi saya dengan aksi ‘Wonder Woman’. Terus terang bukannya saya tidak takut sama sekali saat melakukan hal nekad itu. Namanya aja nekad, ya modalnya cuma aksi penuh tekad aja. Kalau terjadi apa-apa, paling-paling saya teriak.

Bila sebelumnya saya pernah menyebutkan betapa banyak individu-individu yang merasa memiliki hak istimewa, maka kali ini rasanya saya ingin berteriak betapa semakin rendahnya kepedulian individu-individu yang lalu-lalang di sekitar kita saat ini.

Apa buktinya? Wong saya ikutan nyumbang untuk gempa di Padang kok. Wong saya menyantuni fakir miskin dan anak yatim kok. Wong saya rajin bayar zakat tiap bulan kok. Saya peduli kok ! – taruhan, di antara anda pasti ada yg bilang begitu.

Kepedulian tidak selalu harus dilakukan dengan hal-hal di atas. Kepedulian bisa dilakukan lewat hal-hal kecil. Misalnya, dengan mengingatkan bahwa menggoda cewek yang lewat adalah salah (seperti yg saya lakukan), sampai peduli dengan kesehatan orang lain. Anda mau merokok, silakan. Tapi jangan merokok di depan saya yang asapnya persis masuk ke hidung saya! Anda mau meludah, boleh. Tapi pilih tempat yang tepat, di toilet misalnya. Sangatlah mengherankan buat saya menemukan betapa banyaknya orang yang hobi meludah di jalan, di trotoar, di parkiran mobil, di taman, di tempat-tempat terbuka yang memungkinkan penyebaran virus lewat udara. Please tell me, sejak kapan orang Indonesia punya kebiasaan meludah sembarangan? Karena seingat saya orang tua saya pernah mewanti-wanti bahwa tidak sopan dan tidak baik untuk meludah di muka umum. Menyaksikan semakin banyak orang yang melakukannya, duhh…., sungguh pemandangan yang menjijikkan dan mengundang saya untuk menggampar pelakunya.

Beberapa minggu lalu saya melihat video tentang seorang wanita muda yang mengusir pengendara-pengendara motor dari trotoar jalan Sudirman yang mengganggu hak pejalan kaki. Kemarin saya menemukan seorang teman, Yessy Muchtar, mengusir seorang pria dari  angkot setelah dengan cueknya merokok di dalam angkot sehingga mengganggu penumpang lain. Saya, wanita muda di trotoar Sudirman, dan Yessy bukannya berlagak ’sok berani’ atau ‘cari gara-gara’. Aksi kami bukan karena ingin berlagak seperti pendekar wanita. Kami bukan Wonder Woman! Kami hanya peduli dengan hak kami dan hak orang banyak. Action speak louder than words, no matter how fast words spread!

——–

Yessy Muchtar : FYI – Jangan pernah bertemu saya di angkot, pagi-pagi, dengan asap rokok mengarah pada saya. Saya bisa suruh kamu turun dari angkot saat itu juga. Persis seperti yang saya lakukan baru saja. Terimakasih!


Responses

  1. Seru banget tadi ketemu kamu :) besok-besok…kita bolos ngantor aja ya! wekekekekekeke

  2. heheheh….
    I give you twothumbsup….

    • Untuk tindakan nekad saya? :) Terima kasih atas kunjungannya…

      • Iya… untuk tindfakan tegasnya… :D

  3. Horas..
    Yg punya halak hita juga…

    *Itu klo ito posisinya sbg cewek, nah kalo saya sbg laki-laki, pernah juga disuitin gtu (berharap saya yg ke GE ER an), tapi saat saya menoleh kebelakang, 3 gadis yang tiga-tiganya keriting tersenyum menyeringai saya… haaa? otomatis mata saya melotot, kerutannya bertambah… dan wajah menyeringai mereka sirna… hehehe

    • Emang dikau apakan mereka sampai seringai-nya hilang? *udah lama gak dipanggil ‘Ito’ :)

      • kupelototkan mataku… kupanjangkan moncongku…

  4. Plok … plok … plok … wow, hebat! Saya suka banget baca sikap Reva yang berani ‘menghajar’ anak-anak kurang-ajar itu. Saya sendiri kepengi nbegitu, tapi kayaknya tidak cukup ‘berani’ untuk bersikap setegas itu. Memang, pelecehan terhadap perempuan tidak bisa dibiarkan. Ini sangat mengesalkan, sangat merendahkan kita.

    (Jadi mengingatkan saya, yang sudah beberapa lama berniat menulis tentang pelecehan ini di blog, dan belum kesampaian … :( )

    Buat Yessy, bravo! Brave girl! I

    • *blushing* AH, Ibu bisa aja :)

      Tapi kayaknya saya belum tentu berani untuk melakukannya lagi lho Bu, apalagi kalo yg menggoda itu preman berbadan besar (pasti mikir dulu 10X). Inginnya sih supaya masyarakat lebih banyak tahu bahwa tindakan kecil spt ‘bersuit-suit’ saja mrpkn bentuk pelecehan. Mungkin sudah saatnya etika bertingkah laku pada lawan jenis mulai diperkenalkan di bangku sekolah (berharap.com).

      Jadi penasaran, apa saja nih program yg akan diterapkan Menteri Peranan Wanita KIB II? :)

  5. walaupun engkau bukan wonderwoman,tapi bagiku engkau adalah superwoman *dinyanyiin dengan nadanya lagu ‘i love u bibe – changcuters’

    untung saya gak pernah iseng dengan perempuan ,jadi inget kejadian tahun 2005 ,gak sengaja terdampar di sebuah klub di bali bersama teman2,yg isinya gay semua. waktu mau keluar ada perasaan takut dicolek dan berasa banget diliatin sama cowok2 maho (manusia homo -kaskus) itu(hiiii) ,jadi tau perasaan wanita yg lagi diliatin cowok2 seakan mau diterkam. untung gak pernah iseng sama cewek nyolek2 atau apa gitu dulu2,kalo gak bisa jadi gw kena karmanya disitu… fiuhhh thanks God *menyeka keringat

    • Gimana kalo ‘beautiful woman’ aja, Dot? :P

      Persis, begitulah memang rasanya buat wanita yg digoda, serasa mau diterkam :(

      • abis saya belum tau sih kamu beautful atau gak,hihihi *maksudnya inner beauty lho,hehe peace ah.
        btw kalo gw biasanya yg nerkam sih,hahahaha… :D

  6. Eh, entah kneapa kemaren saya baca postingan ini, melihat gambarnya itu, tiba” sore harinya nonton filmnya “wonder Woman” di cinemaxx, filmny yg wanitanya menangkis tembakan” itu… hhahahaa

    • Eh beneran ada lagi film-nya?? Jam berapa? Serial? Jam berapa??

  7. Kereeeen…!
    Keren actionnya, keren gaya nulisnya :)

    - Lagi blajar nulis komen nih hahahaa

    • Halah, Bal… Gak jauh-jauh dari kamu, wong almamater kita sama :)

  8. salut! dulu aku juga pernah mengusir seorang bapak2 yg merokok yg hendak duduk di bangku kosong sebelahku (di dalam kereta). kubilang, “bapak jangan duduk di sini kalau merokok.” dan bapak itu pun pergi. yuhui!

  9. Wow, jarang2 ada cowok yg masih melihat inner beauty :D Percaya deh, gw itu cantik luar dan dalam ;)


Leave a response

Your response:

Categories