‘Guru kencing berdiri, murid kencing berlari’ – pepatah ini rasanya berlaku juga untuk hubungan antara orang tua dan anak.
∞
Tahu lagu ‘We Are The Champion’ dari Queen?
Lagu yang sudah sangat sering diperdengarkan melalui event-event akbar olah raga dunia itu sedianya direlease pada tahun 1977. Tahun dimana saya belum lahir. Event-event olah raga itulah yang sebenarnya berjasa memperkenalkan lagu itu pada saya pertama kali. Saat pertama mendengarnya, saya sudah sedikit dewasa. Setidaknya jauh lebih dewasa dari dua anak lelaki yang duduk di samping saya dalam kereta ‘berkepala’ kucing yang saya tumpangi kemarin.
Hari Sabtu minggu lalu saya ikutan office trip, event yang diadakan kantor saya sekali setiap tahunnya untuk mengakrabkan diri bersama anggota keluarga staff lain. Untuk office trip tahun ini telah disepakati bahwa kami akan mengunjungi Taman Safari.
Satu peristiwa cukup menarik terjadi persis di sebelah saya saat rombongan kami naik kereta menuju tempat pertunjukan ‘Cowboy Show’. Saya yang terlambat melompat naik ke ‘kereta kucing’ itu terpisah dengan rombongan saya yang duduk di depan. Saya akhirnya duduk di belakang bersama dua anak lelaki yang kira-kira berumur 6 – 7 tahun yang ditemani oleh (kemungkinan besar) Ibu salah satu dari kedua anak itu yang tidak henti-hentinya menyuruh mereka untuk duduk.

Kereta Kucing
Dua anak kecil itu saudara-saudara, seperti layaknya anak-anak kecil lain seusia mereka, memang tidak bisa diam. Apa saja dikomentari, apa saja ditertawai, apa saja deh pokoknya! Termasuk menyanyikan lagu yang satu itu, lagu legendaris dari Queen berjudul ‘We Are The Champion‘ itu. Setidaknya itulah yang saya asumsikan, sesuai dengan kecocokan nada yang mereka nyanyikan. Sayangnya, bukan kecocokan lirik.
“We ar de cak-cek, ma frends….!!” Yang seorang, dengan setengah berteriak, mulai bernyanyi.
‘Oh tidak apa-apa, namanya juga masih anak-anak’, pikir saya maklum demi mendengar lirik yang salah itu. Namun kemudian peristiwa itu berkembang menjadi sangat menarik setelah temannya bertanya,
“Eh, loe nyanyi apaan sih? Nyanyi apaan, sih? Ajarin donk!”
Dienkkk!!! ‘Mampus, musti kuat-kuat nahan ketawa nih gw kalo gak mau disambit emaknya dibelakang’ – batin saya demi membayangkan apa yang kemudian akan terjadi. Dan benar saja, yang terjadi kemudian adalah salah satu fragment nyata terlucu yang pernah saya saksikan, live dari tempat kejadian!
“Masa loe gak tahu? Itu kan’ lagu terkenal lagi!”
“Enggak, gw gak tahu. Makanya ajarin donk! Ajarin donk!”
“Gini…. ‘We ar de cak-cek, ma frends….!!’ gitu….!”
“We ar de….. apaan?”
“De cak cek!”
“De cak cek?”
“Iya…., ‘We ar de cak-cek, ma frends….!!’ gitu…..,”
“We ar de cak-cek, ma frends….!!”
Akhirnya…, si teman berhasil meniru. Saya baru saja akan mengelus dada penuh kelegaan setelah berhasil menahan diri untuk tidak tertawa sebelum akhirnya kejadian menjadi bertambah menarik.
“Tapi itu ‘ar’ nya salah! ‘Ar’ nya dibaca ‘OR’!”
Dienkkk!!!
“Jadi gini nih nyanyinya, ‘We OR de cak-cek, ma frends….’!!”
“We OR de cak-cek, ma frends….!!”
“Betulll!! ‘We OR de cak-cek, ma frends….!!’
Dan keduanya pun mulai kompak bernyanyi.
“WE OR DE CAK-CEK, MA FRENDS….!!”
Dan begitulah akhirnya koor dua anak lelaki imut itu sukses membuat saya keram perut demi menahan tawa sampai akhirnya saya turun di tempat pertunjukkan ‘Cowboy Show’. It was hilarious!
Tak ayal peristiwa yang sangat lucu itu mengingatkan saya akan pengalaman yang nyaris sama yang pernah saya alami waktu SD. Seorang teman lelaki saya waktu itu tiba-tiba gemar berkata ‘you are crazy!’ pada yang lain. Kami yang tidak mengerti apa artinya cuma bisa mesam-mesem bego memikirkan apa arti dari kata-kata itu. Yang ada dalam pikiran kami adalah teman kami itu pasti tahu artinya, dan kami yang tidak tahu artinya ini pasti akan tengsin berat ketahuan begonya bila bertanya. Sayangnya, si teman ini ternyata tidak tahu apa arti kata-kata itu, sampai akhirnya dia tidak sengaja mengatakan ‘you are carzy!’ ke muka salah seorang guru. Bisa anda bayangkan sendiri akibatnya.
Saya lalu teringat bahwa si ibu dari salah seorang anak lelaki itu tidak melakukan apa-apa saat mereka menyanyikan lagu yang saya asumsikan sebagai ‘We Are The Champion’ dari Queen itu. Dia tidak berkomentar, tidak mengkritik, atau bahkan mengatakan sesuatu. Untungnya lagu itu tidak mengandung unsur-unsur intimidasi apapun, sehingga bila dilempar ke muka orang lain saya rasa tidak akan ada pengaruh apa-apa. Apalagi dengan lirik yang salah seperti itu, kemungkinan orang cuma akan bengong atau mungkin hanya tertawa. Namun tentunya tidak tertutup kemungkinan bahwa sesuatu yang lebih jauh, seperti yang dilakukan teman SD saya misalnya, dapat terjadi.
Maka rasanya terlalu naif bila orang tua mengharapkan anak-anak untuk sepenuhnya menerapkan pepatah ‘malu bertanya sesat di jalan’. Bertanya bila tidak tahu tentunya hal yang baik dan harus diajarkan, namun tentu jauh lebih bijaksana bila orang tua yang dengan cermat memantau perkembangan anak-anaknya. Sungguh bukan tugas yang enteng, apalagi mengingat bagaimana majunya teknologi saat ini. Kedua anak lelaki berusia 6 – 7 tahun yang menyanyikan ‘We Are The Champion‘ ‘wannabe’ itu no doubt telah mendengarnya jauh lebih cepat bila dibandingkan dengan saya yang mungkin pertama mendengar lagu itu saat duduk di kelas 4 SD atau kira-kira saat berumur 10 tahun.
‘Orang tua’. Mungkin inilah title, jabatan sekaligus pekerjaan dengan tanggung jawab paling berat yang ditanggung oleh seorang individu dalam hidupnya.
∞
(Teringat waktu guru IPS di SD saya dulu menolak keras lagu yang kami pilih untuk dance di acara perpisahan. Beliau dengan kerasnya menolak lagu ‘I Wanna Sex You Up’ dari Color Me Bad yang kami pilih itu. Arti dari judul lagu itu baru saya ketahui setahun kemudian, ketika saya duduk di kelas 1 SMP).
Oh ya, ini dia foto-foto yang saya ambil di Taman Safari

Peringatan yang menarik & Komunikatif

Jarang2 lihat Beruang kan? Apalagi Beruang kawin

Yang merasa sodara tunjuk tangan!

Berminat menjadikannya penjaga rumah?
It was a nice trip!

Saya pun keram perut membayangkan those little boy dengan “Cak-cek” nya …
hahahahaha
By: nh18 on November 6, 2009
at 2:40 am
Haha…, emang lucu sekali mereka berdua itu, Om
By: Reva Liany Pane on November 10, 2009
at 1:42 am