Posted by: Reva Liany Pane | September 25, 2009

Sebuah Kata Maaf

‘Always forgive your enemies – nothing annoys them so much’ (Oscar Wilde). Yang satu ini sodara-sodara, adalah salah satu quote favorit saya.

Dengan pernyataan di atas ini rasanya akan langsung terbaca bagaimana pribadi saya yang sebenarnya, ya :)

Sesuai dengan tampang yang sering langsung diasumsikan orang memiliki kepribadian judes dan galak, saya biasanya juga langsung diasumsikan punya sifat pendendam. Bukan bermaksud mengelak, tapi saya sendiri sering tertawa mendengar orang yang mendeskripsikan saya seperti itu. Dianggap judes mungkin asalnya karena sifat saya yang ingin semua serba efesien dan perfeksionis, sehingga bila ada yang keluar jalur sedikit saya akan langsung mengingatkan. Sifat seperti itu ditambah suara bariton yang tegas seperti laki-laki tak ayal akan langsung diasosiasikan menjadi ‘judes’ ataupun galak’. Makanya gak heran kalau saya selalu terpilih menjadi pengurus kelas masa-masa sekolah dulu, mungkin karena dianggap paling kompeten untuk mengatur dengan modal suara yang saya miliki, haha

Saya sendiri sebenarnya tak ambil pusing dengan titel ‘judes’ dan ‘galak’ itu, tapi saya menganggap serius praduga ‘pendendam’. Tak lain dan tak bukan karena hal itu sedikit banyak benar adanya. Maka begitu saya membaca postingan dari dua orang sahabat, Mas Deka dan Jeung Yessy, yang kedua-duanya entah karena ‘nyambung’ satu sama lain ataupun karena terpengaruh suasana Ramadhan dan Idul Fitri kompakan nulis tentang sikap untuk maaf dan memaafkan, tak urung membuat saya jadi merenung.

saling-memaafkan

Selama hidup anda, berapa kali anda meminta maaf?

Mahatma Gandhi mengatakan, “The weak can never forgive. Forgiveness is the attribute of the strong”. Saya berpikir bahwa sama halnya dengan ‘memberi maaf’, ‘meminta maaf’ pun adalah hal yang ternyata tidak semua orang dapat melakukannya. Mungkin bahkan bila benar hanya manusia berjiwa kuat yang mampu memaafkan sebagaimana yang Mahatma Gandhi bilang, maka meminta maaf pun kemungkinan besar hanya dilakukan oleh segelintir orang-orang kuat juga. Di sini saya sendiri merasa bahwa saya belum termasuk orang-orang berjiwa kuat sehingga mampu memaafkan. Yang biasa saya lakukan adalah seperti apa yang diungkapkan Nelle pada Ling dalam serial favorit saya Ally Mcbeal,

“….I admire the way you don’t let yourself be pushed around, I really do. Too many people, when they think they’re being wronged just walk away, I salute that you don’t….,”

Bingung? Intinya begini : I don’t just walk away when I’m being wronged. Saya adalah pribadi yang akan mengejar orang yang berlaku salah terhadap saya.

Tidak ada manusia yang sempurna, kita semua tidak luput dari kesalahan. Karena itulah meminta maaf dan memaafkan adalah hal yang seharusnya lazim dilakukan. Sebagai manusia yang selalu berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik (seperti Pak Mario Teguh biasa bilang), rasanya tidak ada salahnya memikirkan hal yang satu ini lebih serius dan mempraktekkannya dalam keseharian, karena toh meminta maaf dan memaafkan tidak harus menunggu Idul Fitri tiba, bukan? Coba diingat-ingat, saat kendaraan anda memotong jalur orang apakah anda minta maaf? Atau saat motor anda terlambat mengerem dan menghajar bumper belakang mobil orang beranikah anda minta maaf? Karena yang terjadi biasanya sebaliknya, pihak yang salah bukannya minta maaf tapi malah marah-marah pada korbannya.

Untuk hal meminta maaf ini saya pribadi banyak belajar dari staf-staf di kantor saya.  Minta maaf dan memaafkan sudah jadi aktivitas rutin di antara kami mereka sehari-hari. Yang saya maksud dengan ‘mereka’ adalah para staff Jepang yang ada di kantor saya.

Mungkin anda sudah familiar melihat cara orang Jepang meminta maaf. Dengan membungkukkan badan 90 derajat disertai belasan kata ‘sumimasen‘ (arti : minta maaf) yang keluar dari bibir mereka, saya biasanya hanya manggut-manggut saja melihat beberapa staff acap kali melakukan itu tidak hanya di hadapan si bos namun juga rekan kerja lainnya, walaupun tentu pada sesama rekan kerja mereka tidak perlu se-ekstrim itu. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kata ‘sumimasen‘ dan ‘gomenasai‘ (sumimasen = gomenasai = minta maaf) telah menjadi bagian dari keseharian hidup mereka. Saya tidak pernah ambil pusing dengan urusan ‘maaf’ dan ‘memaafkan’ ini sampai ketika suatu waktu saya sendiri harus melakukan hal yang sama untuk pertama kalinya. Derrr………!!!!! Rasanya ternyata berat luar biasa. Harga diri saya ternyata menolak melakukan itu. Dengan posisi sebagai senior staff yang notabene berpengalaman dengan lingkungan kerja perusahaan Jepang apalagi berlatar pendidikan sastra dan budaya Jepang, walaupun selama ini umumnya saya dapat memenuhi harapan perusahaan, ternyata untuk yang satu ini saya sangat mengecewakan. Badan saya tidak mau kompromi untuk membungkuk, dan dengan setengah hati saya terbata-bata mengucapkan kata ‘sumimasen‘. Tidak disangka ternyata berat untuk saya meminta maaf dengan tulus.

Saat ini di tengah renungan panjang di kantor yang memaksa saya masuk walaupun tiada kerjaan, saya mengingat-ingat berapa kali sudah dalam hidup saya yang hampir sepanjang 30 tahun ini saya mampu meminta maaf dengan tulus, demikian juga halnya untuk memberi maaf dengan ikhlas. Tidak perlu seekstrim orang Jepang, namun sudahkah mulut saya terlatih untuk spontan mengucapkan maaf bila salah dan tersenyum ikhlas dan memaafkan saat seseorang minta maaf? Mungkin bila memang sedemikian beratnya untuk saya melakukan hal yang satu ini, maka Mahatma Gandhi pastinya salah satu orang yang bisa memberi saya jawaban atas pertanyaan saya – apa definisi dari orang yang kuat?

“The weak can never forgive. Forgiveness is the attribute of the strong.”

picture taken from here.


Responses

  1. Suatu saat kelak aku akan menggunakan quote mu ini …

    Minjemnya ngomong dari sekarang ya…

    hehehe


Leave a response

Your response:

Categories