“aBiz Mukulin SoPIR ANgKot 44 JuruSAN KampunG mElayu – KArEt PAke PAYUNG gara2 berani NYeREmpEt Gw. DASAR SOPIR BEGGOOO mERASA gaK salah lg dia … Biar MAmpus TUH. Gw Gak Takut Wlpn Dia Pegang KunCI Apaan Tau ….. MONYET LO, gw sUMpaHIN bIAR mampus dijln !!!!!”
Demikian update status seorang teman pagi ini.
Beberapa hari sebelumnya seorang teman lain bercerita tentang Honda Jazz-nya yang sukses penyok dihajar bajaj. Si tukang bajaj beralasan keadaannya yang belum makan sejak pagi membuat dia kurang alert gara-gara darah rendah. Akhirnya teman saya itu pun cuma mampu berucap, “Monyong!” – demi mendengar si tukang bajaj yang mengatakan tidak mampu membayar ganti rugi.
“Mobil gw penyok cuma gara-gara dia kagak sarapan!! Alasan apaan tuh?! Darah rendah?! Rasanya pengen gw kampleng itu tukang bajaj!!” Begitulah akhirnya. Si teman ini pun cuma bisa misuh-misuh curhat pada saya di hari berikutnya. Saya pun tak urung jengkel mendengarnya. Apalagi karena saya tahu betul mobil yang masih dicicil itu dibeli dengan penuh perjuangan oleh teman saya, setelah menyisihkan uang gaji selama 4 tahun untuk membayar uang muka.
“Bayangin, darah rendah! Darah rendah! Kalo darah rendah kenapa gak sarapan?! Dan ngapain juga dia darah rendah trus ‘narik’? Bukannya jadi membahayakan banyak orang?!”
Berlanjut sampai hampir satu jam teman saya misuh-misuh sementara saya hanya bisa memandang mobil itu dengan pandangan kasihan. Mobil yang akhirnya diputuskan untuk tidak beredar di jalan selama beberapa bulan sampai si empunya selesai mengumpulkan biaya ketok-magic dari sisa-sisa uang gaji yang udah dipotong cicilan mobil.
Andai saja si tukang bajaj tahu, tindakan tidak bertanggung jawabnya itu membawa kesulitan yang lumayan besar buat teman saya. Sayangnya tukang bajaj ini tidak tahu kalau mobil ini masih dicicil. Dia tidak tahu kalau teman saya menghabiskan tiga per empat gajinya tiap bulan buat cicilan mobil ini. Dan tentunya dia tidak tahu kalau teman saya harus nyambi mengajar bahasa Jepang tiap hari Sabtu di sebuah SMA swasta untuk menambah penghasilannya. Bahkan jangan-jangan tukang bajaj itu tahunya hanya bahwa semua orang yang bawa mobil itu orang kaya……
Pun bila demikian, hak apa yang membuatnya bisa merugikan orang?
Apakah karena tukang ojek dan tukang bajaj adalah orang tidak mampu, mereka punya hak untuk seenak-enaknya berkendara? Apakah karena supir angkot dan kopaja harus kejar setoran mereka punya hak untuk seenaknya meliuk-liuk dan kebut-kebutan di jalan? HAK ISTIMEWA apa yang mereka punya sampai sebegitu tidak pedulinya dengan orang lain dan boleh lepas dari tanggung jawab?!
Akhir-akhir ini saya pikir di antara kita banyak yang merasa memiliki Hak Istimewa. Tukang ojek, tukang bajaj, supir angkot dan supir kopaja, bisa jadi merasa OK-OK saja untuk mengemudi seenak karena bila sesuatu terjadi mereka punya hak untuk dimengerti oleh orang lain sehingga membuat mereka merasa that they have nothing to lose. Wong udah biasa susah, jadi apa susahnya ninggalin kopaja di tengah jalan kalo nyenggol orang? Gak rugi juga. Bajaj bukan bajaj gue, angkot juga bukan angkot gue.
Yang memprihatinkan sikap ini akhirnya ditiru banyak orang. Para pengendara motor selain tukang ojek pun merasa punya Hak Istimewa untuk meniru sikap tidak bertanggung jawab tersebut. Wong tukang ojek aja begitu, kenapa juga kita gak begitu, itu alasan pertama. Kalau gak begini kita mana dikasih jalan sama angkot dan kopaja yang ngetem whenever wherever, itu alasan kedua.
Maka tidaklah mengherankan kalau masalah ini jadi tiada habis-habisnya. Bawahan yang korupsi merasa tidak ada yang salah dengan perbuatannya. Hanya karena atasannya udah duluan korupsi maka dia punya Hak Istimewa untuk ikutan korupsi juga. Pun negara tetangga yang hobby meng-claim budaya tanah air. Jangan-jangan karena melihat kita yang tergagap-gagap dengan urusan HAKI merasa punya Hak Istimewa untuk mengambil dan medeklarasikannya sebagai milik mereka.
Hak Istimewa.
Sebegitu istimewakah keadaan kita sampai merasa berhak bertindak seenaknya? Apa istimewanya kalau pada akhirnya berujung merugikan orang lain?
∞
Picture taken from here

nggak ada habisnya sih, kalo beralasan “lha dia aja bisa seenaknya gitu, kenapa kita ga bisa?”. ada perbedaan besar antara “bisa” dan “mau”. bisa sih merampok, mencuri, membunuh, tapi do you really want to turn into that kind of person, just because some people are doing such thing? “bisa” dan “mau”, perbedaan pilihan yang menentukan apakah kita ini layak disebut manusia yang (katanya) beradab
By: hanny on August 28, 2009
at 4:05 am
Benar, sebagai manusia yang dianugerahi akal budi layaknya menyadari perbedaan itu dan memilih yang benar. Kalau akhirnya jadi semrawut, mungkin masyarakatnya belum bisa dikatakan beradab ya, Han
p.s : deep thought, thanks
By: Reva Liany Pane on August 28, 2009
at 4:36 am
Satu hal yang paling membekas di otakku ketika jaman dulu masih naik angkot kalau berangkat ke sekolah, adalah sticker bertuliskan :
“ANDA BUTUH WAKTU, KAMI BUTUH UANG”
Sama-sama butuh. Nggak ada yang lebih penting dibanding yang lain.
Andai semua orang menyadarinya….. *Owhhh*
By: mas deka on September 1, 2009
at 7:10 am
Eddan… , ingatanmu memang tajam *berpikir kapan terakhir melihat sticker itu*. Tapi terbukti dengan menempel sticker itu pun ternyata tak ada gunanya ya, makanya sekarang sticker itu gak ada lagi…
By: Reva Liany Pane on September 1, 2009
at 8:24 am
hidup memang rumit di jakarta yang panas dan penuh sesak itu.. akhlak atau etika yang baik di jalan.. itu yang kurang nampak di negeri ini.. sebanding dengan kacaunya berbagai lini kehidupan negera tropis ini.. semoga kejadian ini menjadikanku / kita lebih hati2 di jalanan yang berbahaya itu..
By: dan on November 9, 2009
at 5:29 pm
Sebenarnya yg namanya berhati-hati harus dilakukan dimana saja. Cuma kalo di Jakarta kita memang harus EKSTRA HATI-HATI. *sigh – menghela napas panjang*
By: Reva Liany Pane on November 10, 2009
at 1:53 am