Posted by: Reva Liany Pane | October 24, 2008

The first time someone propose to me…..

It was a very romantic moment.

Malam itu adalah malam sebelum keberangkatannya ke Jepang, negeri yang saya andaikan penuh dengan perpaduan tragis. Entah mengapa gambaran tentang Jepang sangat sesuai dengan dirinya saat itu, laki-laki yang saat itu ada di hadapan saya. Ia berdiri dengan kaku, jemarinya yang menggenggam rokok terlihat gemetar. Untuk sesaat saya tergoda demi memandangnya. Saya jadi berpikir apakah sebaiknya saya menerima saja ajakannya untuk ikut bersamanya ke Jepang.

So, this is it.” Ujarnya. Saya mengangguk.

“Ya, Ram. This is it.”

Dia mendesah, mematikan rokok, lalu melihat ke luar jendela.

“Kadang-kadang aku pikir, aku laki-laki yang paling beruntung di dunia. Kurang apa aku coba…,” Katanya getir. Agak menyebalkan kali ini, laki-laki satu ini kembali mengingatkan saya kalau ia adalah salah satu makhluk paling narsis di dunia.

“Ram, what’s your point?” Respon saya jengah. Apa yang ia ucapkan barusan adalah indikasi bahwa selanjutnya ia akan memaparkan segala kelebihan yang ia punya. Ganteng, muda, kaya, dan karier yang dipastikan akan menambah daftar asset kekayaannya. Tidak kekurangan suatu apa pun, kecuali…

“Aku cuma menginginkanmu. Bukan segala yang aku punya sekarang ini.”

Saya terdiam. Dia memang tahu bagaimana membuat saya tutup mulut dan terpesona padanya.

“Atau tidakkah segala yang aku punya sekarang ini membuatmu tertarik?!” Kali ini ia menggenggam jemari saya. Saya jadi tersinggung. Tidak semua bisa dibeli dengan materi bukan, apalagi cinta. Saya lepaskan tangannya, dan mengambil sebatang A Mild dari kotak rokok saya.

“Ram, sudah cukup. Jangan karena cinta ini kamu merendahkan diri di depan saya.”

“Tapi, Lee….,”

Look, I love you too. But we will never get to it. Never.” Kata saya tegas. Ia terduduk lemas, kembali mengambil sebatang rokok dan menyalakannya dengan jemari gemetar.

But you know I love you, well, instead of my condition…,” Ia menatap mata saya dengan sendu.

“I would love to get married with you.” Katanya sungguh-sungguh. Saya tersenyum.

“I love you too, but I’m not going that far.”

——————

It was a very romantic night. Malam itu, saya dilamar oleh seorang pria yang mencintai pria lain dan seorang wanita yang mengingatkannya pada pria itu.

You’re the sweetest man I’ve ever met, Ram. You’ll always be.

- Medio 2005, Santika Hotel, Jakarta  -


Responses

  1. [...] dan Sabrina saling menemukan satu sama lain saat kami sama-sama dalam kondisi terpuruk. Bila Rama mengklaim bahwa memang ada yang dinamakan radar untuk mengenali sesamanya di tengah keramaian, maka [...]


Leave a response

Your response:

Categories